RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Siapa pun yang pernah menyaksikan prosesi adat atau ritual budaya masyarakat Banjar pasti menyadari satu hal yang selalu hadir dan mencolok. Warna kuning. Dari pakaian bangsawan hingga kain ayunan bayi, dari baju pengantin hingga pembungkus pusaka, warna kuning seolah tak pernah absen.
Bagi budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur, ini bukan kebetulan. Ada perjalanan panjang dan makna yang sangat dalam di balik dominasi warna tersebut dalam kehidupan Urang Banjar.
Ia menjelaskan, bahwa warna kuning dalam tradisi Banjar bukan sekadar pilihan estetika, melainkan bagian dari hal yang sakral dan telah mengakar jauh sebelum Islam masuk ke tanah Banjar.
Pada masa Kesultanan Banjar, kain berwarna kuning merupakan atribut kebesaran yang hanya boleh dikenakan oleh raja dan para bangsawan sebagai simbol keagungan, kemuliaan, dan kekayaan.
“Warna kuning melambangkan pancaran sinar matahari dan kilauan emas. Penggambaran itulah yang akhirnya menjadikan warna kuning sebagai simbol kemewahan dan kemuliaan bagi pemakainya,” ujar Ersa.
Jauh sebelum era Kesultanan, warna kuning sudah memiliki dimensi kesakralan yang berakar pada kepercayaan lama. Dalam tradisi penganut Kaharingan, warna kuning diyakini sebagai pancaran sinar perwujudan Tuhan atau Sang Hyang.
Keyakinan inilah yang pertama kali mengangkat warna kuning menjadi warna yang sakral dalam ingatan kolektif masyarakat Banjar.
Ketika Islam kemudian masuk dan mewarnai kehidupan masyarakat Banjar, kesakralan warna kuning tidak serta merta luntur. Justru sebaliknya, pengaruh aliran sufi yang turut berkembang semakin memperkuat posisi warna kuning dalam dimensi spiritual.
Dalam ajaran tasawuf, warna kuning disebut sebagai "nur" atau cahaya ilahi, sebuah pemahaman yang ternyata sejalan dan tidak bertentangan dengan kepercayaan lama sehingga tradisi penggunaan warna kuning terus berlanjut hingga sekarang.
“Warna kuning dalam sufisme adalah cahaya ilahi. Karena tidak bertentangan dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya, maka penggunaan warna kuning terus lestari dalam budaya Banjar,” jelas Ersa.
Ersa menegaskan bahwa keberadaan warna kuning dalam budaya Banjar adalah hasil dari proses akulturasi yang panjang antara kepercayaan lokal, tradisi kerajaan, dan nilai-nilai Islam yang kemudian melebur menjadi satu identitas budaya yang utuh dan khas.
“Warna kuning telah melewati perjalanan yang sangat panjang dan kini sudah menjadi bagian dari ingatan kolektif Urang Banjar. Ia menghiasi dimensi keyakinan dan kebudayaan kita sehari-hari,” pungkasnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief