TAHULAH Pian, di Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) terdapat sebuah tradisi arakan naga Ning Kurungan. Berasal dari kampung yang bernama Kampung Loklua, masuk dalam wilayah Kelurahan Jambu Hilir, Kecamatan Kandangan.
Tradisi ini berupa arak-arakan dua patung naga yang dihias di mobil dengan tambahan hiasan pelaminan untuk kedua pengantin duduk. Arak-arakan diiringi alunan musik gamelan.
Pemerhati budaya HSS, Rendra, mengatakan bahwa tradisi arakan naga ini berakar dari cerita legenda rakyat yang melekat di Kampung Loklua. “Tradisi ini berakar dari cerita legenda yang hidup di masyarakat Kampung Loklua,” ujarnya.
Ceritanya mengisahkan tentang sepasang suami istri dengan seorang anaknya yang hidup di pinggiran sungai Amandit. Sepasang suami istri ini bekerja sebagai nelayan yang mencari ikan di sungai Amandit. Setiap hari mereka pergi mencari ikan di sungai dan meninggalkan anak mereka di rumah.
Pada suatu hari mereka mencari ikan menggunakan tangguk (jala kecil), namun tak kunjung mendapatkan hasil. Hingga pada saat itu, bukannya ikan yang mereka dapat, tetapi malah mendapat sebiji telur berukuran besar berwarna putih yang masuk ke dalam tangguk mereka.
Karena tidak tahu telur yang didapat itu telur apa, mereka memutuskan untuk mengembalikannya ke dalam sungai. Saat melanjutkan menangkap ikan, telur itu terus masuk ke dalam tangguk mereka. Karena merasa putus asa tidak mendapatkan ikan, akhirnya mereka sepakat membawa telur tersebut ke rumah untuk di masak sebagai lauk makan.
Setibanya di rumah, mereka melihat anak mereka sedang tertidur pulas. Sang istri pun langsung ke dapur untuk memasak telur yang mereka dapat.
Telur yang sudah masak pun siap untuk di makan. Karena tidak tega membangunkan anaknya yang tertidur, mereka pun makan berdua dengan menyisakan sebagian telur untuk anak mereka. Mengejutkan, setelah selesai makan, suami istri ini merasakan keanehan pada tubuh mereka dan langsung berubah menjadi naga.
Mereka pun kebingungan dengan apa yang terjadi pada mereka, hingga mereka sadar, yang mereka makan adalah telur naga putih yang menghuni Sungai Amandit dan membuat mereka berubah menjadi naga Ning Kurungan.
Anak mereka pun bangun dan terkejut melihat dua ekor naga yang berada di rumah. Anak mereka ketakutan, dan mereka segera menenangkan anak mereka dengan menjelaskan kepadanya bahwa mereka adalah ayah dan ibunya.
Mereka berpesan kepada anaknya agar tidak memakan telur yang mereka sisakan supaya tidak ikut menjadi naga. Suami istri ini pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke sungai untuk mencari naga putih dan melawannya. Mereka berpesan kepada anaknya, untuk menunggu mereka pulang.
Anak mereka pun terus menunggu di pinggir sungai selama berhari-hari dan berdoa agar orang tuanya kembali. Namun hingga bertahun-tahun ditunggu orang tuanya tak kunjung pulang.
Dari cerita itu, di kawasan tersebut akhirnya banyak dibangun rumah dan jadilah sebuah kampung yang dinamakan Kampung Loklua.
Di Kampung Loklua ini terdapat sebuah teluk yang dipercaya terbentuk dari bekas jalannya kedua naga yang turun ke sungai, sehingga dinamakan Lok Sinaga. Lok artinya Teluk dan Sinaga artinya seekor Naga. Sehingga arti dari Lok Sinaga ini adalah Teluk Naga.
Sementara itu dinamakan Kampung Loklua, karena di daerah tersebut terdapat tanaman pohon Lua, sehingga disebutlah Loklua yang artinya Teluk Lua.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief