TAHULAH Pian. Tak banyak yang mengetahui bahwa Hotel Arum yang berada di tengah Kota Banjarmasin, menjadi saksi peristiwa bersejarah dalam kebangkitan Kesultanan Banjar. Di bangunan yang mulai kehilangan pamornya itu, sejarah Banjar sempat menemukan kembali simpulnya.
Bangunan berlantai sembilan itu hari ini lebih sering dilewati tanpa disadari, seolah menjadi bagian sunyi dari kota yang terus bergerak. Namun, di balik dindingnya, pernah lahir satu keputusan penting dalam sejarah Banjar.
Pada Sabtu, 24 Juli 2010, Hotel Arum menjadi tempat Musyawarah Tinggi Adat yang menandai kebangkitan simbolik Kesultanan Banjar. Di sana, Gusti Khairul Saleh dianugerahi gelar Pangeran sekaligus Raja Muda Kesultanan Banjar, gelar tertinggi pasca pembubaran sepihak oleh kolonial Belanda pada 1860.
Pemerhati sejarah Banjar, Dharma Setyawan mengatakan, pemilihan Hotel Arum bukan sekadar soal lokasi, tetapi mencerminkan cara Kesultanan Banjar bangkit di era modern. “Keputusan besar itu tidak diambil di istana atau bangunan feodal, tetapi di ruang publik modern. Itu pesan simbolik bahwa kebangkitan ini bersifat kultural, bukan politik,” ujar Dharma.
Hotel Arum sendiri merupakan bagian dari sejarah modern Banjarmasin. Gedung ini mulai dibangun pada Februari 1989 dan rampung pada Desember 1990. Awalnya bernama Junjung Buih Plaza. Bangunan ini dirancang oleh Parama Loka Consultant dan menjadi salah satu gedung tinggi awal di Kalimantan Selatan pada era 1990-an.
Pada masanya, Junjung Buih Plaza adalah simbol optimisme pembangunan kota. Ia hadir sebagai pusat perbelanjaan sekaligus hotel berbintang empat, menandai babak baru modernisasi kota Banjarmasin.
Namun perjalanan gedung ini tidak sepenuhnya mulus. Kerusuhan sosial Mei 1997 meninggalkan trauma mendalam yang membayang-bayangi eksistensinya.
Sejarah Kesultanan Banjar sempat terputus secara paksa pada 1860, ketika pemerintah kolonial Belanda membubarkan kesultanan secara sepihak. Sejak saat itu, takhta Banjar lebih banyak hidup dalam ingatan, tradisi lisan, dan jejak budaya. Namun bukan dalam struktur kekuasaan.
Putusnya sejarah itu baru mulai disambung kembali satu setengah abad kemudian. Pada Sabtu, 24 Juli 2010, di Hotel Arum Banjarmasin Musyawarah Tinggi Adat mengambil keputusan bersejarah. Mereka menganugerahkan gelar Pangeran sekaligus Raja Muda Kesultanan Banjar kepada Gusti Khairul Saleh.
Gelar tersebut menjadi hirarki tertinggi di Kesultanan Banjar pasca pembubaran kolonial, sekaligus penanda kebangkitan simbolik Pegustian yang berakhir di awal 1900-an. Menurut Dharma, momen ini bukan sekadar seremoni adat, melainkan titik balik kesadaran sejarah masyarakat Banjar.
“Ini bukan upaya menghidupkan kerajaan dalam pengertian politik, tetapi memulihkan martabat budaya yang pernah diputus kolonialisme,” ujar pria yang juga Staf Khusus Bidang Diplomasi Budaya di Kesultanan Banjar itu.
Saat itu, Gusti Khairul Saleh tidak langsung menerima amanah tersebut. Ia bahkan mengusulkan sejumlah nama zuriat lain yang dinilai memiliki posisi terhormat di pemerintahan nasional dan daerah.
Sikap itu justru menjadi legitimasi moral dari kebangkitan Kesultanan Banjar. Dalam suasana hening musyawarah, anggukan pelan Gusti Khairul Saleh akhirnya menjadi penanda diterimanya amanah besar itu. Hadirin menyambutnya dengan haru. Bukan karena lahirnya kekuasaan baru, tetapi karena sejarah Banjar menemukan kembali simpulnya.
Sejak awal kebangkitan Kesultanan Banjar diletakkan sebagai gerakan kebudayaan. Tidak dimaksudkan untuk menghidupkan feodalisme atau primordialisme, apalagi ditarik ke arena politik praktis. “Budaya adalah kewajiban kolektif. Kalau kebangkitan kesultanan selalu dicurigai sebagai politik, justru yang rusak adalah upaya pelestarian nilai-nilai luhur Banjar itu sendiri,” ujar Dharma.
Upaya membangkitkan Kesultanan Banjar sejatinya bukan yang pertama. Di awal kemerdekaan, langkah serupa pernah dilakukan dengan penganugerahan gelar pangeran kepada Ir Gusti Mohammad Noor. “Namun dinamika politik nasional kala itu membuat upaya tersebut tidak berlanjut,” katanya.
Baca Juga: 10 Keraton Kesultanan Banjar
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief