TAHULAH Pian. Pantai Takisung di Kabupaten Tanah Laut tak hanya dikenal sebagai destinasi wisata pesisir dengan hamparan pasir coklat dan ombak yang tenang. Di balik keramaian pengunjung, tersimpan sebuah jejak sejarah yang hingga kini belum terungkap jelas.
Sekitar 22 kilometer dari Pelaihari, pengunjung dapat menemukan sebuah benda besi tua tergeletak di atas pasir. Pada bagian permukaannya tertulis Barford & Perkins Peterborough Oil 1763, yang diduga berasal dari era kolonial.
“Sejak dulu benda itu sudah ada. Warga juga tidak tahu pasti fungsinya, tapi kami yakin itu peninggalan zaman Belanda,” ujar warga Tala, Ismail Fahmi.
Keberadaan benda tersebut kerap memicu rasa penasaran wisatawan. Sebagian menduga sebagai bagian mesin kapal, sementara lainnya menganggapnya alat industri. Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai fungsi maupun asal-usulnya.
Secara historis, kawasan pesisir selatan Kalimantan, termasuk Takisung dan Tabanio, memiliki peran strategis sejak abad ke-18. Wilayah ini menjadi jalur perdagangan penting, terutama untuk komoditas lada, hasil laut, dan tambang emas di sekitar Pelaihari.
Catatan sejarah menyebutkan, pada 6 Juli 1779, VOC menjalin perjanjian dengan Kesultanan Banjar yang memberikan hak monopoli perdagangan serta pembangunan benteng di Tabanio. Infrastruktur tersebut memperkuat jalur maritim sekaligus pertahanan kolonial.
Fahmi menduga, benda besi di Pantai Takisung berkaitan dengan aktivitas pembangunan pada masa itu. “Kemungkinan alat itu semacam mesin pemadat jalan atau roller, digunakan untuk pembangunan jalur darat dari Tabanio ke Pelaihari,” katanya.
Meski belum ada bukti pasti, keberadaan benda tersebut menjadi pengingat bahwa kawasan pesisir Takisung pernah terhubung dengan dinamika kolonial dan perkembangan ekonomi masa lalu.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief