MARTAPURA - Sejarah tak selalu tersimpan rapi di dalam buku. Di Kalsel, sebagian justru hidup dalam ingatan keluarga, dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dijaga lewat cerita yang terus diulang.
Seperti kisah tentang Andin Gani. Nama ini kembali disebut dalam sebuah pertemuan keluarga besar di tepian Sungai Banua Anyar, Banjarmasin Timur, Selasa (24/3) lalu. Saleh Saberan, salah satu cucu Andin Gani menceritakan, momen halalbihalal keluarga besar sang pejuang ini dihadiri lebih dari 200 orang.
Mereka adalah keturunan generasi ketiga hingga keenam dari Andin Gani, seorang pejuang asal Desa Kayu Bawang yang diyakini gugur pada 1945 silam.
Di sudut lesehan, para sesepuh mulai bercerita. Generasi muda duduk melingkar, mendengarkan. Di situlah, sejarah yang tak tertulis itu kembali hidup. “Nama asli beliau Abdul Gani, lahir di Kayu Bawang sekitar tahun 1881. Dari cerita orang tua kami, beliau ikut berjuang melawan penjajah sampai akhirnya gugur tertembak pada 1945,” ujar Saleh Saberan, Jumat (27/3).
Tak banyak arsip yang mencatat perjalanan hidupnya secara rinci. Namun di dalam keluarga, kisah itu tetap utuh yang disampaikan dari mulut ke mulut, diwariskan sebagai bagian dari identitas.
“Saya sendiri cucu dari beliau, anak dari Bandara. Jadi apa yang kami tahu ini memang dari cerita yang terus disampaikan di keluarga,” lanjut pria 73 tahun itu.
Dalam silsilah yang masih dijaga, Andin Gani diketahui merupakan putra dari Andin Amberan dan bersaudara dengan Andin Ayu Syarifah. Dari pernikahannya, ia memiliki lima orang anak. Yaitu Galuh Ganal, Bandara, Ampu, Sabran, dan Siti Jahura. “Kakek kami ini anak dari Andin Amberan. Dari pernikahannya, beliau punya lima anak, di antaranya Bandara, ibu kami,” terangnya.
Dari garis Bandara, jejak keturunan Andin Gani berkembang luas. Delapan anak Bandara menjadi titik awal dari rantai panjang keluarga yang kini tersebar di berbagai wilayah Kalimantan Selatan.
“Kami ini keturunan dari Bandara, anak beliau. Dari garis ini cukup banyak yang masih bisa ditelusuri, karena Bandara punya delapan orang anak,” jelas Saleh.
Bagi keluarga besar ini, silsilah bukan sekadar daftar nama. Ia menjadi bukti hidup bahwa sejarah itu benar ada, meski tak tertulis dalam arsip resmi. Halalbihalal yang digelar setiap tahun pun, kata Saberan, memiliki makna lebih dari sekadar tradisi.
Momen tersebut menuritnya menjadi ruang berkumpul sekaligus ruang berbagi cerita, tempat sejarah keluarga kembali dihidupkan. “Kegiatan seperti ini penting supaya kami yang sudah generasi ketiga sampai keenam tetap ingat siapa leluhur kami, dan bagaimana perjuangan beliau dulu,” ujar Saleh.
Sejumlah tokoh keluarga turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Raudatul Jannah, keturunan ketiga yang juga istri Sultan Haji Khairul Saleh. Dukungan dari berbagai generasi menunjukkan bahwa upaya menjaga sejarah ini dilakukan bersama.
Di sisi lain, generasi muda mulai mengambil peran. Livia Ramadhanti Putri, keturunan generasi kelima, memandu jalannya acara dengan percaya diri. Sebuah tanda bahwa estafet ingatan itu terus berjalan.
Tak ada buku sejarah di tangan mereka. Tak ada arsip resmi yang dibacakan. Namun bagi para keturunan Andin Gani sejarah akan tetap hidup. “Kami mungkin tidak sempat bertemu langsung dengan beliau, tapi cerita tentang perjuangannya itu yang terus kami jaga agar tidak hilang,” tutup Saleh.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief