Tahulah Pian. Di jalur utama Pelaihari menuju Kecamatan Jorong, Tanah Laut, sebuah desa berdiri tepat di batas awal wilayah kecamatan. Desa itu bernama Desa Alur, kawasan seluas sekitar 1.400 hektare yang dikenal sebagai pintu gerbang menuju Jorong.
Secara geografis, Desa Alur berbatasan dengan Desa Jilatan di utara, Batalang dan Ambawang di selatan serta timur, dan Sabuhur di bagian barat. Lokasinya cukup strategis, hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari pusat Kecamatan Jorong dan 31 kilometer dari ibu kota Kabupaten Tanah Laut.
Namun, Alur bukan sekadar desa perlintasan. Wilayah ini menyimpan sejarah panjang sejak masa pemekaran desa. Tokoh masyarakat setempat, Dwi Supriyanto, menuturkan bahwa Alur merupakan hasil pemekaran dari Desa Jorong pada tahun 1976. Lima tahun kemudian, tepatnya 1981, Alur ditetapkan sebagai desa definitif.
“Sejarahnya dimulai dari para pendahulu kita. Desa Alur ini merupakan pemekaran dari Desa Jorong pada tahun 1976, lalu pada 1981 ditetapkan sebagai desa definitif,” jelas Dwi.
Meski telah berstatus desa, jumlah kepala keluarga saat itu belum memenuhi syarat administratif. Untuk memperkuat struktur penduduk, pemerintah mendatangkan gelombang transmigrasi pada tahun 1986 dari berbagai daerah di luar Kalimantan, terutama dari Pulau Jawa dan Madura.
“Penduduk desa ini berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan ada juga penduduk asli Banjar. Jadi masyarakat Alur memang beragam sejak awal,” ujarnya.
Nama “Alur” sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan posisi desa dalam urutan perjalanan dari Pelaihari menuju Asam-Asam atau Kintap. Dwi menjelaskan bahwa jalur lama menuju Jorong melewati Sarang Halang, Tampang, Tajau Pecah, Jilatan, dan kemudian Jorong. Karena Alur merupakan pemekaran dari Jorong dan berada di jalur utama tersebut, nama “Alur” dipilih sebagai identitas desa.
Selain sejarahnya yang menarik, Desa Alur juga dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas ekonomi yang dinamis. Mayoritas penduduk menggantungkan hidup pada sektor perkebunan, sesuai karakter wilayah yang berada di dataran tinggi. Namun, kreativitas warga membuat perekonomian desa tidak berhenti pada satu sektor saja.
“Berbagai usaha rumahan tumbuh dan berkembang, seperti budidaya ikan lele dengan pasar hingga luar daerah, industri tahu-tempe yang bertahan puluhan tahun, pembuatan emping melinjo, produksi jipang dari beras matang, hingga kerajinan kumpang yang diminati sampai mancanegara,” ujarnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief