Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ini Sejarah dan Makna Filosofi Warna Pada Kain Sasirangan, Dikaitkan dengan Kesembuhan

M Fadlan Zakiri • Rabu, 22 Oktober 2025 | 07:53 WIB

 

DIJEMUR: Proses pengeringan kain sasirangan setelah dikasih motif dan diwarnai. (GEOPARK MERATUS)
DIJEMUR: Proses pengeringan kain sasirangan setelah dikasih motif dan diwarnai. (GEOPARK MERATUS)

Di balik keindahan corak dan warna-warni kain sasirangan khas masyarakat Banjar, tersimpan filosofi dan sejarah panjang yang telah hidup sejak abad ke-12. Kain ini bukan hanya sekadar busana adat, melainkan juga dipercaya memiliki kekuatan simbolik yang berkaitan dengan penyembuhan dan keseimbangan diri.

Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Banjar, Irwan Jaya menjelaskan bahwa sasirangan merupakan kain adat khas Banjar yang berasal dari kata manyirang, berarti menjelujur. Proses pembuatan kain ini dilakukan dengan cara menjelujur, mengikat, lalu mencelupkan kain ke dalam pewarna alami. “Dalam sejarahnya, kain sasirangan dahulu dikenal sebagai kain batatamba, yaitu kain penyembuh bagi orang yang sedang sakit. Karena itu, kain ini disebut juga sebagai kain pamintaan atau permintaan, karena harus dibuat sesuai kebutuhan dan tujuan pemesannya,” terang Irwan, Selasa (21/10) siang.

Lebih dari sekadar estetika, setiap warna kain sasirangan memiliki makna tersendiri yang erat kaitannya dengan penyembuhan penyakit tertentu. 

Warna kuning misalnya, dipercaya membantu proses penyembuhan penyakit kuning (kana wisa). Sementara warna hijau dikaitkan dengan terapi bagi penderita lumpuh atau stroke.

Warna ungu digunakan untuk menyimbolkan penyembuhan penyakit perut seperti disentri atau diare. Warna merah untuk sakit kepala dan insomnia. Hitam untuk gatal-gatal dan demam. Cokelat untuk menenangkan penderita stres atau gangguan jiwa. “Setiap warna punya filosofi dan doa. Inilah yang membuat kain sasirangan bukan hanya indah, tapi juga bermakna dalam kehidupan masyarakat Banjar,” tambahnya.

Kini, kerajinan kain sasirangan tetap lestari di Kabupaten Banjar. Para perajin tersebar di berbagai wilayah seperti Kelurahan Manarap Lama, Desa Manarap Tengah, Desa Sungai Lakum, dan Desa Kertak Hanyar.

Meski sebagian besar bahan bakunya masih didatangkan dari luar daerah, Irwan menyebut usaha ini tetap mampu memberikan keuntungan ekonomi dan menyerap banyak tenaga kerja lokal. “Sasirangan adalah warisan leluhur yang tidak hanya memperkaya budaya. Tapi, juga menumbuhkan ekonomi kreatif masyarakat,” pungkasnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#kain #Budaya #sasirangan #Banjar #Sejarah