Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Muara Lahanin, Kampung Tua di Riam Kiwa yang Hilang dari Peta, Namun Tercatat di Dokumen Tua Belanda

Endang Syarifuddin • Selasa, 21 Oktober 2025 | 09:29 WIB
Posisi Kampung Lahanin di Daerah Aliran Sungai (DAS) Riam Kiwa  sesuai peta survei Dinas Topografi Hindia Belanda (Topographische Dienst) tahun 1926. Sumber: Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Vo
Posisi Kampung Lahanin di Daerah Aliran Sungai (DAS) Riam Kiwa sesuai peta survei Dinas Topografi Hindia Belanda (Topographische Dienst) tahun 1926. Sumber: Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Vo

Di balik hijaunya perbukitan dan beningnya aliran Sungai Riam Kiwa, ternyata tersimpan kisah kampung tua bernama Muara Lahanin. Kampung ini nyaris tak tercatat di dokumen modern, tapi jejaknya terdapat arsip kolonial dan peta kuno Belanda hampir seabad lalu.

Menurut sejarawan dari universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur, keberadaan Muara Lahanin membuktikan bahwa kawasan Paramasan bukan sekadar pedalaman sunyi. Sejak dulu, daerah ini sudah menjadi ruang peradaban masyarakat hulu sungai.

“Tak ada catatan pasti tahun berdirinya. Namun dari peta topografi tahun 1926, sudah tampak bahwa Muara Lahanin telah menjadi permukiman jauh sebelum masa kemerdekaan,” kata Mansyur.

Salah satu bukti kuat berasal dari peta Dinas Topografi Belanda (Topographische Dienst) tahun 1926. Dalam arsip peta yang kini tersimpan di KITLV Belanda, nama Kampung Lahanin jelas tercantum di wilayah Onderafdeeling Martapoera, Afdeeling Bandjermasin.

Peta itu menunjukkan permukiman yang dibelah Sungai Lahanin, anak dari Riam Kiwa. Tiga kelompok rumah tampak di tepi sungai, dua di sisi kiri, satu di sisi kanan. Ini menandakan adanya kehidupan yang tertata di sepanjang tepian air.

Dari utara, tampak nama kampung Bintangai dan Moearaalai, sedangkan di selatan ada Hananai, Banoeaangin, Moearahalimau, hingga Angkipih. Antarkampung dihubungkan jalan setapak yang melintasi sungai dan perbukitan.

Menariknya, peta tahun 1945 hasil kompilasi peta Belanda dan militer Australia kembali menampilkan nama Lahanin. Meski hanya berupa titik hitam kecil, itu menandakan kampung ini masih eksis hingga akhir masa kolonial.

Kini, wilayah bekas Muara Lahanin menjadi bagian dari Desa Paramasan Bawah, Kecamatan Paramasan, Kabupaten Banjar. Sebagian warga lama pindah ke dataran yang lebih mudah dijangkau, meninggalkan jejak kampung tua di hulu sungai.

Dulu, wilayah ini termasuk dalam Distrik Riam Kiwa, yang dikenal juga sebagai Doekoe Kiwa, di bawah Afdeeling Martapoera. Penduduknya merupakan Suku Dayak Paramasan, bagian dari rumpun besar Dayak Meratus yang masih menjaga tradisi leluhur.

Bagi Mansyur, Muara Lahanin bukan sekadar kampung yang hilang di peta. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang masyarakat hulu Banjar, dan mata rantai penting sejarah lokal yang patut dijaga agar tak lenyap ditelan waktu.(gmp)

Editor : Arief
#Meratus #Desa #Sejarah