DESA Tambalan dan Desa Banyu Tajun di Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), menyedot perhatian masyarakat saat menggelar tradisi Basuntingan, baru-baru ini.
Tahulah Pian? Tradisi ini merupakan permainan rakyat turun temurun yang masih dilestarikan anak-anak muda HSU.
Dalam Basuntingan, dibagi dua kelompok yang saling tarik menarik menggunakan batang pohon atau kayu panjang.
Permainan ini biasanya dilakukan di jalan desa atau tanah lapang, disaksikan masyarakat yang bersorak memberikan semangat.
Menurut warga Sungai Pandan, Rusdy, Basuntingan tidak hanya menjadi tontonan hiburan, tetapi juga simbol kebersamaan, kekompakan, dan semangat gotong royong masyarakat Hulu Sungai.
"Tradisi ini umumnya digelar pada momen tertentu, seperti perayaan desa atau kegiatan adat," ujarnya.
Permainan ini sudah ada sejak dahulu kala. Biasanya dimainkan anak-anak kampung. Namun hari ini kian jarang dimainkan.
"Ini permainan turun temurun, dulu sering diadakan, sekarang hanya sesekali, biasanya kalau ada momen besar," ujarnya.
Secara sederhana, Basuntingan mirip dengan tarik tambang, tetapi lebih unik karena dilakukan antar desa yang dipisahkan sungai.
Warga kedua desa saling tarik menarik menggunakan tali besar yang dilingkarkan ke pohon besar di tepi sungai.
Begitu pula di kampung sebelah, warga bersama-sama menarik tali dari arah berlawanan. Pemenang ditentukan dari desa yang berhasil memutuskan tali tambang lawan.
Meski kian jarang, Basuntingan adalah kekayaan budaya lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. "Kami senang masih ada generasi muda yang mau melestarikannya," ucapnya.
Dengan sorak sorai penonton, suasana semakin meriah, menciptakan kebersamaan yang kental antar warga. Menjadi daya tarik budaya lokal yang memperlihatkan kekayaan tradisi masyarakat Hulu Sungai.
Sementara itu, tokoh masyarakat Amuntai, Hendra Rosyadi menyebut awal mula tradisi Basuntingan ini dari permainan kapal-kapalan yang dibuat dari bambu.
Kapal diikat tali dan dilarutkan ke sungai. Desa tetangga juga bermain di sungai yang sama.
Selanjutnya, terjadilah tarik menarik dua kapal-kapalan bambu. Bagi yang kalah, kapal bambunya akan diambil sang pemenang.
"Seru juga. Namun kadang membuat konflik antar desa. Bagi desa yang tidak bisa menerima kekalahan dalam permainan ini," kata Anggota DPRD HSU ini.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief