Tahulah Pian Yapahut? Nama ini sangat dikenal oleh warga Banjarmasin, khususnya di kawasan Banjarmasin Barat. Sebutan "Yapahut" telah melekat kuat, sama halnya seperti penyebutan Air Mantan atau Trisakti. Namun, Yapahut bukanlah nama kelurahan ataupun nama jalan resmi, melainkan sebutan yang muncul dari kebiasaan masyarakat sebagai penanda wilayah tertentu.
Wilayah yang disebut Yapahut ini berada di jalur menuju kawasan Banjar Raya. Bahkan, nama ini turut diadopsi dalam penamaan sekolah, seperti MIS Nurul Islam 2 Yapahut. Lokasinya bersebelahan langsung dengan Pelabuhan Trisakti. Meski begitu, secara administratif kawasan ini tercatat berada di Jalan Barito Hulu.
Berdasarkan penelusuran Radar Banjarmasin dari berbagai sumber, sebutan "Yapahut" konon sudah ada sejak zaman Belanda. Warga yang tinggal di sekitar Teluk Dalam, Pelambuan, hingga kawasan Trisakti sudah sejak lama mengenal wilayah ini dengan nama tersebut.
"Kalau versi cerita yang saya dengar, nama Yapahut itu berasal dari nama perusahaan kayu gelondongan atau sawmill bernama A Yani,” ujar Karim, Ketua RT setempat, kemarin (6/8).
Konon orang Belanda kesulitan melafalkan kata 'Japaut' sebagai nama kayu. Jadi mereka menyebutnya 'Yapahut'.
“Lama-kelamaan penyebutan itu melekat dan diikuti oleh warga setempat. Saya sendiri kurang tahu arti dari Japaut itu, apakah nama jenis kayu atau yang lain, saya tidak mengerti," sebut Karim.
Miharja (70), warga yang sudah lama tinggal di kawasan tersebut menceritakan bahwa sebelum berdirinya perusahaan kayu A Yani, di situ dulunya berdiri asrama TNI. Bangunan asrama itu terbuat dari kayu dan membentang hingga ke tepian Sungai Barito. Kini, bekas perusahaan kayu tersebut telah berubah fungsi menjadi area docking kapal.
"Wilayah yang disebut Yapahut itu membentang dari pertigaan jembatan hingga ke sekitar area docking kapal saat ini,” tunjuknya.
Dahulu, wilayah ini hanya terdiri dari satu RT, dengan banyak lahan kosong dan sawah. Permukiman hanya ada sedikit. “Sekarang, kawasan ini telah berkembang menjadi lima RT, yakni RT 23, 24, 25, 26, dan 27," banding Miharja.
"Jadi penyebutan Yapahut sampai saat ini masih melekat. Apabila tujuan ke kawasan ini, pasti orang menyebutnya mau ke Yapahut. Tukang ojek atau jasa transportasi lainya pasti tahu Yapahut," tuntasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief