Tahulah Pian, sejak kecil anak-anak nelayan di Kotabaru sudah dibiasakan orang tuanya melaut. Mereka diajarkan menjadi nelayan menggunakan perahu balapan.
Tradisi melaut sejak bocah ini bisa disaksikan di kampung para nelayan yang ada di Desa Hilir dan Desa Rampa. Utamanya di Desa Rampa. Anak kecil ikut orang tuanya melaut tidak hanya terjadi pada zaman dulu. Namun, juga masih berlangsung hingga sekarang.
Nelayan Desa Rampa, Hamdani (40) membagikan kisahnya sedari kecil sudah melaut. Menurutnya, itu wajar kalau melihat orang-orang suku Bajau yang hidup di sekelilingnya mengantungkan hidupnya dengan hasil laut.
Hamdani sejak umur 7 tahun, sudah sering ikut ke laut menemani orang tuanya. Baik siang atau juga malam. Itu membuat Hamdani mulai terbiasa dengan kehidupan di laut. Ia ikut membantu ayahnya mencari ikan.
Namun, di umurnya 9 tahun, Hamdani sangat bersedih karena ditinggal sang ayah menghadap yang Maha Kuasa. Ia sebenarnya mempunyai kakak perempuan, tapi sudah berkeluarga. Ia juga mempunyai adik masih kecil. Situasi itu memaksanya untuk memutuskan menjadi nelayan, ikut orang mengambil upah di tahun 90-an mengganti sang ayah mencari nafkah. “Saya ingat betul, lagi kecil, terpaksa saya harus ke laut demi mencari sesuap nasi,” ingatnya.
Waktu itu, profesi nelayan terpaksa dijalaninya demi memberikan penghidupan kepada dua adiknya.
Dua tahun menjalani, Hamdani kesulitan harus membagi waktu antara ke laut dan sekolah. Itu membuatnya sering bolos dan tertinggal pelajaran.
Hamdani bahkan dipanggil guru. Hamdani menyampaikan alasannya, yang membuat sang guru luluh. Lantas memberi solusi memperbolehkan ia tetap jadi nelayan. Pembagian waktunya hanya sepekan melaut, dan sepekan berikutnya harus sekolah.
Tawaran itu sempat diterimanya. Tapi, tak berlangsung lama. Hamdani kecil ini memutuskan untuk berhenti sekolah, dan fokus mencari nafkah sebagai nelayan. Dari ikut orang, sampai mempunyai kapal sendiri. Profesi ini dilakoninya sampai sekarang sudah mempunyai cucu.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief