Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sejarah Kampung Kuin, Kampung Tertua di Banjarmasin

M Oscar Fraby • Rabu, 7 Mei 2025 | 04:04 WIB
MASJID TERTUA: Masjid Sultan Suriansyah salah satu bangunan peninggalan bersejarah di Kuin.
MASJID TERTUA: Masjid Sultan Suriansyah salah satu bangunan peninggalan bersejarah di Kuin.

Tahulah pian, Kampung Kuin adalah sebuah kawasan permukiman di pinggiran Kota Banjarmasin. Dilalui oleh sebuah sungai bernama sungai Kuin, yakni sungai yang menghubungkan Sungai Barito dengan Sungai Martapura.

Kawasan Kuin sejak zaman Hindia Belanda, pendudukan Jepang, hingga berdirinya Republik Indonesia meliputi kampung-kampung seperti Kampung Kuin Utara, Kampung Kuin Selatan, Kampung Kuin Cerucuk, Kampung Pangeran, Kampung Sungai Miai, Kampung Antasan Kecil Timur, dan Kampung Antasan Kecil Barat.

Namun, lokasi kawasan Kuin saat ini, secara administrasi hanya membentang mulai ujung/pertemuan sungai Alalak hingga sungai Pangeran yang terletak di Kecamatan Banjarmasin Utara. Padahal dulunya sungai Kuin dipandang sebagai alur utama lalu lintas kawasan Kuin yang menghubungkan beberapa sungai.

Di sepanjang sungai Kuin inilah muncul permukiman pertama di Banjarmasin. Ini menjadikan Kampung Kuin sebagai kampung tertua dari kampung-kampung yang ada di Banjarmasin dan sekitarnya.

“Di kampung inilah sebagai awal dari persinggahan dan menetapnya masyarakat untuk bertempat tinggal dalam bentuk suatu komunitas yakni komunitas etnis Banjar,” papar sejarawan Kalsel, Wajidi Amberi.

Kampung Kuin menjadi kawasan kampung tua bersejarah karena inilah cikal bakal Kerajaan Banjar pertama menuju suatu pemerintahan Kerajaan Islam Banjar dengan nama Kesultanan Banjarmasin yang berpusat di Kuin.

Nama Kuin dalam beberapa pustaka mengingatkan pada tradisi atau istilah Barat mengacu pada kata “Queen“ yang berarti ratu atau raja. Penguasa tertinggi dalam sistem pemerintahan monarki atau kerajaan. Hal ini tak dipungkiri sebagai kenyataan sejarah bahwa di sinilah pusat Kerajaan Banjar didirikan dan pernah eksis sebelum dibumihanguskan oleh Belanda pada tahun 1612 M. Dengan peristiwa tersebut, kawasan Kuin sempat ditinggalkan sementara, dan pusat pemerintahan berpindah ke sekitar Martapura.

Pada saat pusat pemerintahan kesultanan masih di Kuin, pengaruh kekuasaannya meliputi daerah yang sangat luas. Mulai dari Kalimantan bagian selatan, Kalimantan bagian tengah seperti Kapuas, Kotawaringin, Lamandau, sebagian Kalimantan bagian timur hingga Pasir, Berau dan sebagian Kalimantan bagian barat.

Wajidi menambahkan, di Kuin ini pulalah dimulai penyebaran agama Islam yang ditandai dengan pemelukan agama Islam oleh raja Banjar pertama Pangeran Samudera yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah dan dikuti rakyatnya. Proses pengislaman itu dipimpin oleh Khatib Dayyan dari Kesultanan Demak.

Keberadaan Kerajaan Banjar pada saat berada di Kuin, sebut Wajidi, digambarkan berada di sekitar lima sungai kecil. Yaitu sungai Sigaling, Karamat, Pangeran (Pageran), Jagabaya dan Pandai.

“Kelima sungai ini bertemu dan membuat danau kecil bersimpang lima, dan daerah inilah yang dahulunya menjadi ibu kota Kerajaan Banjar. Oleh karena itu, kampung ini disebut dengan Kampung Raja karena pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Banjar,” paparnya.

Wajidi menambahkan, Keraton Banjar pertama dibangun di pinggiran sungai Kuin. Tepatnya antara sungai Keramat dengan sungai Jagabaya. Daerah itu sampai sekarang masih bernama kampung Keraton.

“Di tepi sungai Kuin di sisi sungai Jagabaya dibuat masjid pertama, yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Sultan Suriansyah,” terangnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#banjarmasin #Tahulah Pian #Sungai #kampung #Desa #Sejarah