Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Wisata Susur Sungai di Banua Sudah Ada Zaman Belanda

Endang Syarifuddin • Kamis, 1 Mei 2025 | 08:45 WIB
ZAMAN DULU: Warung terapung yang menjual tanggui dan keperluan masyarakat lainnya di wilayah Kuin, Banjarmasin yang sering dikunjungi wisatawan pada Zaman Hindia Belanda. Sumber: KITLV.
ZAMAN DULU: Warung terapung yang menjual tanggui dan keperluan masyarakat lainnya di wilayah Kuin, Banjarmasin yang sering dikunjungi wisatawan pada Zaman Hindia Belanda. Sumber: KITLV.

Wisata susur sungai yang digaungkan pada masa kepemimpinan Wali Kota Ibnu Sina ternyata sudah ada sejak zaman Hindia Belanda. Layanan ini ditawarkan kepada wisatawan asing oleh manajemen Hotel Bandjer, satu-satunya hotel yang ada pada masa itu.

Peneliti sejarah dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur mengatakan manajemen hotel menggelar wisata susur sungai dimulai dari jam 4 sore. Rute yang akan dilintasi sepanjang Sungai Martapura dan Sungai Barito hingga ke Marabahan, Kabupaten Barito Kuala (Batola).

“Kapal yang digunakan untuk mengantarkan para wisatawan adalah Kapal Negara,” ujarnya.

Khusus di Banjarmasin, para wisatawan akan diajak mengunjungi tempat penjual tanggui (caping, red). Wisatawan asing dari dulu memang sangat tertarik dengan berbagai kebudayaan suatu daerah, apalagi di Banjarmasin.

Tanggui adalah penutup kepala khas Banjarmasin yang terbuat dari daun nipah kering berbentuk setengah lingkaran. Kawasan Kuin hingga kini, masih menjadi lokasi tempat pembuatan tanggui.

“Penjualnya di toko terapung di wilayah Kuin,” katanya.

Berdirinya Hotel Bandjer yang kemudian menjadi Grand Hotel Bandjer, tidak terlepas dari ramainya kegiatan kepariwisataan masa penjajahan Belanda. Lokasi bangunan hotel menghadap ke Sungai Martapura semakin menarik minat orang-orang Eropa. Uniknya di sekitar hotel juga terdapat aktivitas Pasar Sore yang sekarang disebut Pasar Kupu-kupu.

Sebelum Kota Banjarmasin berstatus Gemeente (Kotamadya), nama hotel ini adalah hotel Wiggers. Mirip dengan nama Hotel Wiggers di Bad Oldesloe, Jerman. Apakah ada hubungannya? Belum bisa dipastikan.

Namun dalam buku EGON’s Predecessors: Dutch Insurance Through 1870, nama Wiggers tertulis C.F.W Wiggers van Kerchem, yang pada 31 Desember 1859, mendirikan Nederlandsche Indische Levenverzekering en Lijvrente Maatschappij (NILLM). “Perusahaan ini yang menjadi cikal bakal Asuransi Jiwasraya. Wiggers juga menjadi Presiden Direktur De Javasche Bank periode 1863-1868,” ujarnya.

Di lokasi itu terdapat sebuah Kantor Pos dan rumah bubuhan orang kaya. Pelabuhan Banjarmasin (Pelabuhan Lama) masih belum mengalami pelebaran dermaga seperti sekarang.

Untuk memudahkan wisatawan ke Banjarmasin, pemerintahan Belanda kemudian membentuk biro wisata yang diberi nama Vereeneging Toeristen Verkeer (VTV). Pembentukan secara resmi tahun 1910-1912, pascakeluarnya keputusan Gubernur Jenderal.

Cabang agen travel pertama kali dibentuk di Jalan Majapahit No 2 Jakarta pada tahun 1926. Namanya adalah Lissone Lindemend (Lislind). Pusatnya berada di Belanda. “Tahun 1928, Lislind berganti menjadi Nederlandche Indische Touristen Bureau atau Nitour. Kegiatan wisata lebih banyak didominasi kaum kulit putih, sedangkan untuk pribumi tidak ada,” tutupnya.

Editor: Syarafuddin

Editor : Arief
#Wisata #belanda #susur sungai #banjarmasin #Tahulah Pian #Sejarah