Tahulah Pian, kalau di Banjarmasin ada kampung India. Di era Hindia Belanda disebut Kampung Keling. Pengelompokan permukiman berdasarkan etnis ini memang menjadi strategi politik penjajah.
Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan, Mansyur mengungkapkan keberadaan orang India sudah ada di Kalimantan sejak beberapa abad lalu.
“Sayangnya, catatan mengenai keberadaan kampung ini hanya ada di era tahun 1850-an. Setelahnya, sangat minim sekali catatan yang dapat didapatkan,” tuturnya.
Sekarang keturunan India masih bisa didapati di Banjarmasin. “Di sekitar wilayah Sungai Baru maupun beberapa pedagang di wilayah Pasar Sudimampir,” sebutnya.
Cirinya bisa dilihat dari nama Pasar Malabar. Malabar adalah nama pantai di pesisir barat daya benua India. Mereka biasanya membuka usaha pengobatan alternatif penyakit mata dan penyakit keluhan pria.
Dalam catatan JBJ Van Doren (1860), bahwa orang India sudah berdomisili di sekitar wilayah Margasari. Catatan Kolonel Von Henrici ketika mengunjungi Margasari pertengahan abad 19 menyebutkan orang India tersebut adalah migran dari Pantai Coromandel, India. Keberadaan mereka diperkirakan pada masa Kerajaan Negara Dipa.
“Setelah memasuki masa Islam, keberadaan orang India di Banjarmasin dapat ditelusuri dalam data Hindia Belanda tentang perdagangan di Banjarmasin,” ujarnya dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini.
Populasi orang India di Banjarmasin juga terekam dalam Laporan Umum Pejabat Pemerintah Hindia Belanda pada 1850. “Jumlahnya 125 orang. Rinciannya 102 orang pribumi, dan 23 orang timur asing lain,” katanya.
Sementara hasil studi A Mani, Indian Communities in Southeast Asia tahun 1993, orang India di Banjarmasin berjumlah seratus orang. Rinciannya 56 laki-laki, dan 44 perempuan.
“Jumlah itu yang berhasil terdata. Sangat dimungkinkan jumlah etnis India dan keturunannya, termasuk yang sudah WNI di Kalsel, lebih banyak lagi,” ujarnya.
Populasi orang India dan keturunannya di Banjarmasin memang sangat jarang didapat hingga era tahun 2000-an. “Walaupun demikian, keberadaan kampung Keling paling tidak memberi warna dan dinamika Kota Banjarmasin sebagai kota berkembang di daratan Borneo,” tutup Mansyur.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief