Tahulah Pian, Islam pertama kali masuk ke Kalimantan Selatan melalui peristiwa sejarah yang menarik. Kisah ini tercatat dalam Hikayat Banjar, sebuah naskah kuno yang menuturkan berdirinya Kesultanan Banjar atau Kerajaan Banjarmasin.
Menurut catatan sejarawan Idwar Saleh (1981/1982), Kesultanan Banjar resmi berdiri pada 24 September 1526. Tanggal ini ditandai dengan pengangkatan Raden Samudera sebagai sultan pertama dengan gelar Sultan Suriansyah. Ia memerintah hingga tahun 1550 M.
Sebelum Kesultanan Banjar berdiri, Kalimantan Selatan telah dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan sebelumnya yang bercorak sebagai negara suku, seperti Nan Sarunai dan Tanjung Pura (di Tabalong), dan negara awal yakni Negara Dipa dan Negara Daha.
Kerajaan Negara Dipa dan Negara Daha berperan dalam sejarah pembentukan Kesultanan Banjar di kemudian hari. Karena silsilah raja-raja Banjar dapat ditelusuri atau berasal dari keturunan raja-raja Negara Dipa dan Negara Daha.
Sejarawan dan akademisi dari UIN Antasari Banjarmasin, Mursalin menjelaskan masuknya Islam ke Kalimantan Selatan tidak bisa dipisahkan dari peran sentral Pangeran Samudera yang merupakan tokoh kunci dalam peralihan kekuasaan dari Negara Daha bercorak Hindu, ke Kesultanan Banjar bercorak Islam. "Proses ini tidak hanya mengubah politik, tetapi juga identitas keagamaan masyarakat di wilayah Kalimantan bagian Selatan," katanya, Rabu (19/2) pagi.
Embrio transformasi itu muncul ketika Raden Sukarama yang memerintah Negara Daha, mewasiatkan pewaris tahta kepada cucunya, Pangeran Samudera. Namun, wasiat itu justru ditentang oleh ketiga anaknya, yaitu Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumenggung, dan Pangeran Bagalung.
Setelah Raden Sukarama wafat, Pangeran Tumenggung mengambil alih kekuasaan dan mengangkat dirinya sebagai raja Negara Daha. Imbasnya, Pangeran Samudera melarikan diri ke hilir Sungai Barito. Ia ditampung dan dilindungi oleh komunitas Melayu yang tinggal di sana.
Kampung ini, yang oleh orang Dayak Ngaju disebut Banjar Oloh Masih (kampung orang Melayu), dipimpin oleh Patih Masih. Kampung tersebut kemudian dikenal sebagai Bandar Masih atau Bandarmasih, yang kelak menjadi cikal bakal kota Banjarmasin.
Di tempat inilah Pangeran Samudera didukung oleh para patih setia, seperti Patih Masih, Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung, dan Patih Kuin. Mereka mengangkatnya sebagai raja di Bandarmasih, sembari mulai membangun kekuatan untuk merebut kembali tahta.
Guna menambah kekuatan, Pangeran Samudera lalu meminta bantuan Kesultanan Demak, kerajaan Islam terkuat di Jawa saat itu. Sultan Trenggono, penguasa Demak, bersedia membantu dengan syarat Pangeran Samudera dan pengikutnya harus memeluk Islam. Kesepakatan ini pun terjalin, dan Demak mengirim pasukan serta seorang ulama bernama Khatib Dayan untuk memimpin proses pengislaman.
"Hubungan antara Banjar dan Demak sejatinya sudah terjalin lama, terutama dalam bidang perdagangan. Namun, aliansi militer ini menjadi titik balik penting dalam sejarah Islamisasi di Kalimantan Selatan," jelas pria yang juga merupakan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Banjarmasin itu.
Singkat cerita, perang antara Negara Daha dan Bandarmasih pun tak terelakkan. Untuk menghindari banyaknya pertumpahan darah, disepakati duel satu lawan satu antara Pangeran Samudera dan Pangeran Tumenggung.
Namun, duel tersebut tidak pernah terjadi karena Pangeran Samudera menolak melawan. Ia menunjukkan sikap hormat kepada pamannya, dan bahkan mempersilakan Pangeran Tumenggung untuk membunuhnya jika diinginkan.
Tergerak oleh sikap keponakannya, Pangeran Tumenggung akhirnya luluh dan menyadari kekhilafan. Ia lalu menyerahkan tahta dan segala perlengkapan kerajaan kepada Pangeran Samudera. "Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 24 September 1526 atau 8 Dzulhijah 932 Hijriah, yang kemudian ditetapkan sebagai hari berdirinya Kota Banjarmasin," lanjut Mursalin.
Setelah kembali mendapatkan tahta, Pangeran Samudera resmi diangkat sebagai Sultan Banjar dengan gelar Sultan Suriansyah. Ia pun memeluk Islam dan diikuti oleh rakyatnya.
Sultan Suriansyah kemudian memindahkan seluruh regalia kerajaan dan rakyat Negara Daha ke Banjarmasin. Ia membangun keraton di tepi Sungai Kuin, dan mendirikan masjid pertama yang kini dikenal sebagai Masjid Sultan Suriansyah. Sebagai tameng, wilayah sekitar keraton dilindungi dengan cerucuk dari pohon Ilayung. Hari ini, kita mengenal kawasan tersebut sebagai Kuin Cerucuk.
"Kemenangan Pangeran Samudera menandai pergeseran politik dari negara agraris bercorak Hindu ke negara maritim bercorak Islam. Ini adalah momen penting dalam sejarah Kalimantan Selatan," tegasnya.
Dengan berdirinya Kesultanan Banjar, Islam resmi menjadi agama negara, mengakhiri era kerajaan bercorak Hindu di Banua. Peristiwa ini menjadi awal mula Islam menyebar dan mengakar di Kalimantan Selatan, membentuk identitas budaya dan keagamaan masyarakat hingga saat ini.
"Proses Islamisasi di Kalimantan Selatan tidak hanya bersifat politis, tetapi juga kultural. Langkah Pangeran Samudera menjadi titik balik penting dalam sejarah. Islam kemudian menjadi fondasi kehidupan masyarakat, baik dalam pemerintahan maupun budaya," tutup Mursalin.
Rentetan peristiwa ini tidak hanya menjadi awal mula masuknya Islam ke Kalimantan Selatan, tetapi juga menjadi fondasi sejarah kota Banjarmasin. Jadi, Tahulah Pian, dibalik nama Banjarmasin tersimpan kisah heroik tentang perjuangan, diplomasi, dan transformasi spiritual yang mengubah wajah Kalimantan Selatan selamanya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief