Kalayangan Dandang, Layang-Layang Raksasa Tradisional di Rantau dan Kandangan

Rasidi Fadli • Dipublikasikan Selasa, 5 November 2024 | 13:46 WIB
BADANDANG: Kelayangan dandang merupakan permainan tradisional yang dimainkan warga Rantau dan Kandangan.
BADANDANG: Kelayangan dandang merupakan permainan tradisional yang dimainkan warga Rantau dan Kandangan.

Kalayangan dandang merupakan permainan tradisional masyarakat Kabupaten Tapin dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Pada 2024 ini, layang-layang berukuran jumbo dengan berbagai bentuk itu berhasil masuk sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kemendikbud RI.

Dari naskah yang dikirim Pegiat Seni Tapin, MS Arif bahwa Rantau sebelum terbentuknya Kabupaten Tapin berada di bawah daerah administratif Hulu Sungai Selatan. Tak heran masyarakat yang bermain kalayangan dandang tersebar di Rantau hingga Kandangan.

Kalayangan dandang biasanya dimainkan setelah musim panen selesai di area pahumaan alias persawahan. Untuk mempersingkat penyebutan ‘kalayangan dandang’, umumnya masyarakat menyebutnya dengan ‘dandang’. Sedangkan istilah kata kerja untuk menyebut bermain kalayangan dandang ialah ‘badandang’. Pemainnya disebut dengan ‘padandangan’.

Dari skripsi Yudha berjudul Budaya Bakalayangan Dandang di Desa Sarang Halang, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten HSS, disebutkan bahwa rata-rata ukuran dandang rentang lebarnya kisaran 6-9 meter. Tergantung pemiliknya membuat untuk anak-anak atau orang dewasa.

Asal mula kalayangan dandang diketahui dari tradisi lisan. Dahulu masyarakat pedalaman di Pegunungan Meratus membuat Bubut Agung. Sejenis bambu besar yang disebut batung (betung), diberi lubang agar menimbulkan bunyi “But.. but..”. Hingga diberi nama Bubut Agung, yang kini dikenal oleh masyarakat sebagai Dangung di Kabupaten Tapin, atau Kukumbangan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Bagi masyarakat pedalaman Meratus, Bubut Agung dipasang di sekitar Balai Adat. Dipakai sebagai penanda arah jalan pulang ketika berburu. Bunyi yang dihasilkannya ketika tertiup angin. Seiring dengan perkembangan zaman, Bubut Agung dipakai untuk sebuah permainan rakyat. Dipasang di kalayangan cacanting (asal mula kalayangan dandang berbentuk lebih kecil dari kalayangan dandang).

Dalam kajiannya, Yuhda menjelaskan tradisi lisan lainnya mengisahkan bahwa kalayangan dandang bermula dari adanya cangkirik atau kincir angin yang dibuat oleh seseorang tak diketahui namanya. Didirikan di Gunung Layang-Layang Desa Tanah Bangkang. Kincir angin ini terbuat dari dua potong bambu yang dilubangi. Jika angin bertiup mengenai kincir tersebut, maka akan menghasilkan bunyi yang sangat nyaring.

Itu menimbulkan rasa penasaran masyarakat, apa sebenarnya yang menghasilkan bunyi senyaring itu. Akhirnya ada warga yang ingin mengetahui sumber suara tersebut. Setelah ditemukan, di waktu malam hari didatanginya ke tempat kincir angin tersebut. Lantas kayu kincir tersebut dipotong, termasuk dua potong bambu yang menjadi sumber bunyi tersebut turut dibawa pulang.

Setelah itu, daerah di Sungai Raya banyak memiliki kincir angin yang bisa menghasilkan bunyi-bunyian.

Seorang tokoh dari Sungai Raya yang mampu membuat alat berbunyi tersebut, Ning Sualir mengaplikasikannya ke layang-layang dengan mengingatnya menggunakan tali rotan. Awalnya, hanya sebelah saja. Setelah berselang beberapa waktu, Ning Sualir berhasil membuat kedua belah alat bunyi itu. Bunyinya makin nyaring dan semakin merdu. Sampailah suara tersebut ke desa sebelah yaitu Sarang Halang.

Ternyata hal ini menarik perhatian tokoh dari Sarang Halang yang bernama Ning Samarang. Ning Samarang menemui Ning Sualir untuk belajar. Mereka berdua pun saling mengangkat saudara.
Sejak itu berkembanglah layang-layang yang diberi bambu penghasil bunyi tersebut ke desa-desa sekitar untuk dipelajari dan dimainkan hingga saat ini.

Versi lain, bagi masyarakat pesisir Kabupaten Tapin, cerita kalayangan dandang berawal dari burung dandang (sejenis burung berukuran besar) yang mencuri tapih bahalai atau kain sarung panjang. Burung dandang yang membawa tapih bahalai tersebut menari-nari di udara sambil bersuara dengan indahnya. Ini menginspirasi bagi masyarakat untuk membuat tiruan burung dandang berbentuk kalayangan atau layang-layang. Dalam perkembangannya, kalayangan dandang dipasangi dangung (potongan bambu berpasangan yang di bagian tengahnya dibuat celah) pada bagian badan dandang. Ketika dandang diterbangkan, angin akan menerpa dan dangung akan menghasilkan bunyi.

Menurut kisah yang beredar di masyarakat, diperkirakan awal mula dandang dipasangkan dengan dangung bermula sebagai penanda arah di dataran rendah. Hal ini serupa dengan fungsi Bubut Agung bagi masyarakat Dayak Meratus.

Kai Dahui (tokoh tetua padandangan di Kabupaten Tapin) mengisahkan hal yang serupa. Dulunya, sebut pria berumur 72 tahun tersebut, terdapat cangkirik atau kincir angin yang terbuat dari dua bilah batung, dan digunakan oleh masyarakat Dayak Meratus, di daerah pegunungan Meratus, kurang lebih 100 tahun yang lalu. Cangkirik tersebut menghasilkan bunyi ketika tertiup angin dikarenakan terdapat lubang di bagian tengahnya. Lalu, ada yang membawa cangkirik tersebut ke Banua, namun tidak diketahui secara pasti di mana daerah yang dimaksud. Lantaran tertarik suara yang dihasilkan cangkirik, maka orang tersebut membuat tiruannya.

Dalam perkembangannya, sepasang batung tersebut dipasangkan dengan layang-layang, kalayangan dandang, dan disebut dengan dangung atau kukumbangan.

Di Kabupaten Tapin, terdapat dangung yang dibuat pada tahun 1934, dikenal dengan nama Agung Basar, disimpan oleh ahli waris. Dangung tersebut merupakan warisan dari Julak Saripat, yang diperoleh dan dibuat oleh Julak Samarang, orang tua dari Julak Saripat. Pambakal Tiar, yang merupakan ayah dari Kai Dahui, menjadi wali perempuan yang diperistri oleh Julak Saripat.

Ketika menikahkan keduanya, Julak Saripat menyerahkan dangung Agung Basar kepada Pambakal Tiar sebagai jujuran atau mahar keluarga perempuan. Hingga saat ini, Agung Basar disimpan oleh ahli waris Pambakal Tiar.

Semasa hidupnya, Pambakal Tiar merupakan tokoh yang dihormati, dan menjadi salah satu pelopor berkembangnya kalayangan dandang di Kabupaten Tapin. Pambakal merupakan sebuah penyebutan untuk pemimpin sebuah kampung, ditunjuk oleh masyarakat, karena memiliki rasa tanggung jawab, keberanian, kejujuran, dan rasa berkorban untuk masyarakatnya.

Mulanya, bakalayangan dandang dimainkan tanpa adanya baundangan atau kegiatan saling mengundang padandangan untuk badandang dari kampung atau desa lain, melainkan hanya dimainkan di sekitar pahumaan kampung oleh masyarakat sekitar.

Namun, Pambakal Tiar merintis badandang mulai diagendakan sebagai kegiatan permainan bersama dan saling baundangan mengajak masyarakat di luar kampung atau desa untuk menerbangkan dandangnya bersama, maupun menyaksikan badandang untuk bararamian atau riang gembira berkumpul bersama. Hingga saat ini, baundangan badandang masih dilakukan oleh tiap-tiap kampung atau desa, dan diikuti oleh padandangan dari kampung atau desa, baik di Kabupaten Tapin, maupun di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
layang-layang Budaya hulu sungai selatan Tapin permainan tradisional