Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tugu Longa Manis, Untuk Memperingati Sejarah Desa Longawang yang Sudah Ada Sejak Zaman Belanda

Salahudin Radar Banjarmasin • Rabu, 9 Oktober 2024 | 13:26 WIB
Ada Foto Tugu Longa Manis. | Foto Salahudin/Radar Banjarmasin
Ada Foto Tugu Longa Manis. | Foto Salahudin/Radar Banjarmasin

Tahulah pian, untuk mengenang sejarah asal usul Desa Longawang, Kecamatan Telaga Langsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Pemerintah setempat membangun tugu bundaran di Simpang Tiga Longawang yang diberi nama Bundaran Longa Manis tahun 2020 lalu.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Dispera KPLH) HSS, Ronaldy Prana Putra mengatakan pembangunan tugu dimulai dari 25 Agustus tahun 2020, dan diresmikan 28 Desember 2020 oleh Bupati HSS Achmad Fikry. “Anggaran pembangunan tugu Longa Manis ini dulu sebesar Rp198.978.000,” ujarnya.

Tugu terbagi menjadi tiga bagian. Bagian atas berbentuk ubi kayu (gumbili) di atas nyiru yang terbuat dari tembaga. Badan tugu terbuat material logam berbentuk melengkung, serta bagian dudukan tugu yang terbuat dari cor beton bertulang bertuliskan Longa Manis dengan dihiasi tanaman.

“Untuk mempercantik tugu juga dilengkapi dengan penerangan,” katanya.

Kepala Desa (Kades) Longawang, Muhmmad Syahrani menceritakan tugu Longa Manis dibangun setelah permintaan warga sekitar tahun 2019, untuk mengenang sejarah desa sampai mengatur arus lalu lintas.

“Sebelumnya tugu hanya berbentuk beton segitiga dengan tinggi sekitar dua meter yang dibangun sekitar tahun 1990-an,” ujarnya.

Longawang adalah salah satu kampung tertua di Kecamatan Telaga Langsat yang sudah ada sejak pada masa penjajahan Belanda. Menurut tetuha dahulu, asal usul kampung bernama Longa Manis ini diambil dari nama jenis pohon yang sudah langka di wilayah kampung pada saat itu yaitu pohon Lunga. Di masa itu, penamaan kampung dari nama pohon merupakan adat atau kebiasaan para tetuha dahulu seperti Gumbil dan Taniti yang juga diambil dari nama pohon.

Menurut cerita, konon pohon Lunga yang tumbuh di kampung ini memiliki bunga berwarna merah dan berbuah dengan rasanya manis. Diberilah nama Kampung Lunga Manis diambil dari pohon Lunga yang buahnya manis.

Kampung ini memiliki wilayah yang luas terbentang meliputi dari Muara Longawang, Pandulangan, Gumbil, Taniti hingga Sungai Durian. Pada masa kemerdekaan tahun 1945, Kampung Lunga Manis diubah namanya menjadi Kampung Lungawang. Nama itu diambil dari nama sungai yaitu sungai Longawang atau sekarang disebut sungai Panguruh.

Kampung Lungawang berada di wilayah administratif Kewedanaan Amandit Utara dengan pusat pemerintahan di Angkinang, atau sekarang Kecamatan Angkinang. Sekitar tahun 1960-an, Kecamatan Amandit Utara dimekarkan menjadi dua yaitu Kecamatan Angkinang dan Kecamatan Telaga Langsat. Kampung Lungawang menjadi berada di wilayah Kecamatan Telaga Langsat.

Kepala desa pertama atau waktu itu disebut Kepala Kampung adalah H Lamberi yang biasa dipanggil warga dengan sebutan H Layar. Seorang tokoh masyarakat yang sangat disegani pada masa itu.

Pada masa Kepala Desa H Darman tahun 1972, pemerintah melakukan pemekaran desa. Lungawang yang semula sangat luas dibagi menjadi dua yaitu Desa Lungawang dan Desa Gumbil.

Ketika itu juga bertepatan dengan penyesuaian ejaan baru, sehingga penyebutan Lungawang berubah menjadi Longawang. Demikian halnya penyebutan Lunga Manis menjadi Longa Manis.

Pada masa Kepala Desa Djarkasi B tahun 1982, kembali dilakukan pemekaran menjadi Desa Longawang dengan Desa Pandulangan dan Desa Gumbil dengan Desa Taniti.

Kemudian dilakukan penciutan kembali, namun hanya Desa Taniti yang diciut menjadi satu dengan Desa Gumbil, sehingga Desa Longawang tetap ada sampai sekarang ini.

Pada perjalanannya Kepala Desa Longawang terjadi beberapa kali pernah dijabat oleh pejabat sementara dikarenakan kepala desa definitif meninggal dunia, tokoh masyarakat yang pernah menjadi pejabat kepala desa diantaranya adalah Suriadi, dan Marhani Rais.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#asal usul #hulu sungai selatan #Tahulah Pian #Desa