Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Ritual Sembahyang Tuhan di Klenteng Soetji Nurani Banjarmasin

Wahyu Ramadhan • Selasa, 13 Agustus 2024 | 12:10 WIB
BERKUMPUL: Ritual Sembahyang Tuhan biasanya digelar di Klenteng Soetji Nurani
BERKUMPUL: Ritual Sembahyang Tuhan biasanya digelar di Klenteng Soetji Nurani

Tahulah Pian, pada hari ke sembilan di bulan pertama Imlek, masyarakat Tionghoa umumnya menggelar ritual King Thi Gong atau disebut Sembahyang Tuhan.

Di Banjarmasin, ritual ini biasanya digelar di Klenteng Soetji Nurani. Di Jalan Pierre Tendean, Kecamatan Banjarmasin Tengah. Saat itu, umat tampak membanjiri klenteng. Mayoritas berada di halaman. Menghadap altar yang dibangun dan berisi ragam seserahan.

Ritual dimulai sekitar pukul 24.00 WITA. Ditandai dengan bunyi bedug yang dipukul bertubi-tubi dari dalam klenteng. Saat itu, umat duduk bersimpuh di atas bantalan berkelir merah.

Sejumlah Rohaniawan Tridharma atau yang biasa disebut Matrisia, duduk di barisan depan menghadap altar seserahan. Mereka membagikan hio (dupa) kepada masing-masing warga Tionghoa. Kemudian memimpin jalannya ritual.

Dalam ritual sembahyang itu, umat berlutut sebanyak tiga kali, dengan kepala menyentuh ke tanah sebanyak sembilan kali. Sesudah itu, Matrisia membagikan sebuah kitab berkelir kuning kepada umat yang hadir. Tiap lembaran kitab itu berbahasa mandarin. Namanya, kitab puji-pujian untuk Tuhan.

Seusai puji-pujian dihaturkan, umat tampak bergantian mengelilingi altar. Prosesi sembahyang hampir selesai, ketika matrisia memercikkan air dari dalam mangkok yang diisi tumbuh-tumbuhan. Tampak seperti 'ditapung tawar'. Meminta berkat.

Kemudian, masing-masing umat juga diberikan angpao yang isinya adalah kertas kecil untuk tolak bala. Atau biasa disebut Hu. Pada pukul 01.00 dini hari, segala prosesi atau ritual Sembahyang Tuhan pun dinyatakan selesai.

Anggota Majelis Rohaniawan Tridharma (Matrisia), Hengky Yulianus Sofian menuturkan sejatinya Sembahyang Tuhan adalah ungkapan rasa terima kasih atau syukur kepada Tuhan. "Karena sudah melewati satu tahun yang lalu. Sekaligus, meminta perlindungan untuk yang dijalani," ucapnya.

Itu terlihat dari ragam seserahan yang tampak di altar. Bila dihitung, masing-masing seserahan berjumlah dua belas macam. "Sebagian contoh di antaranya, ada dua belas macam buah-buahan, lauk pauk, hingga dua belas macam kue. Itu melambangkan dua belas bulan dalam satu tahun," jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Matrisia lainnya, Chitra Suryapandi. Ia bilang, warga Tionghoa dulu suka atau gemar bersyukur. "Sedikit-sedikit bersyukur. Maka untuk menyemarakkannya, juga dicari hari yang pas, hari kesembilan. Hari yang paling tinggi menurut kepercayaan Tionghoa," tuntasnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Budaya #ibadah #imlek #agama #umat #banjarmasin #Tahulah Pian #tionghoa