Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Perjuangan Jemaah Haji Banjarmasin Tempo Doeloe Sampai Bersembunyi di Kapal Niaga VOC

M Oscar Fraby • Rabu, 12 Juni 2024 | 12:41 WIB

 

MENUJU TANAH SUCI: Kapal pengangkut jemaah haji Indonesia pada tahun 1960-an.
MENUJU TANAH SUCI: Kapal pengangkut jemaah haji Indonesia pada tahun 1960-an.

MUSIM haji 2024 mengingatkan kita dengan perjuangan jemaah haji tempo doeloe.

Zaman dahulu, orang Banjar yang hendak menunaikan rukun Islam kelima itu harus menempuh pelayaran panjang. Butuh waktu lima sampai enam bulan untuk tiba di Tanah Suci.

Gelombang haji dari Banjarmasin diperkirakan dimulai sejak abad ke-17. Seiring penyebaran agama Islam di wilayah Kesultanan Banjar.

Dosen sejarah Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur mengatakan, posisi Aceh sangat menentukan. Sebab menjadi transit bagi jemaah haji yang berangkat dari Banjarmasin.

Bukan hanya untuk berhaji. Ada juga yang berangkat ke Arab untuk mendalami ilmu agama.

Mansyur mengacu pada jurnal yang ditulis Ahmad Fauzan Baihaqi berjudul Pelayaran Angkutan Jamaah Haji di Hindia Belanda (1911-1930).

Disebutkan, pada 1860, sedikit sekali daerah-daerah di Nusantara yang mencapai tingkat kemakmuran merata seperti Banjarmasin. Maka, tidak banyak orang daerah lain yang bisa berhaji sebanyak muslim Banjarmasin.

"Ini membuktikan, sejak dahulu orang Banjarmasin memang memiliki minat tinggi untuk berhaji," kata Mansyur kepada Radar Banjarmasin, Selasa (11/6).

Ibadah haji semakin marak ketika Terusan Suez dibuka. Ditambah penemuan teknologi mesin uap yang melahirkan kapal api atau alias steamer.

"Ini semakin mempermudah orang-orang Banjar pergi berhaji,” imbuhnya.

Sebelum penemuan itu, para calon haji menumpang kapal-kapal layar niaga, baik milik domestik maupun milik saudagar asing. "Masa itu kapal niaga Nusantara telah menunjang pelayaran yang sering digunakan Muslim," terangnya.

Pada abad ke-18, lalu lintas pelayaran antara Nusantara dan Samudera Hindia didominasi oleh kapal-kapal jenis Galleon dan Frigate milik perniagaan Eropa.

"Konsekuensinya, calon haji kadang harus berlayar menaiki kapal-kapal milik VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dari Batavia menuju Teluk Aden sebelum ke Jeddah," ujarnya.

Menjadi problematis karena sempat muncul larangan bagi kapal-kapal Belanda mengangkut jemaah haji. Aturan ini menyulitkan pribumi Muslim.

Hingga mereka terpaksa menumpang secara sembunyi-sembunyi pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Bila beruntung, bisa bertemu kapal milik pedagang Arab yang dengan senang hati memberikan tumpangan.

Pertengahan abad ke-19, jumlah jemaah haji dari Kalimantan Selatan sudah dianggap yang terbesar di Indonesia.

"Saat itu naik haji dilayani kapal-kapal KPM (Kapal Pemerintah Hindia Belanda), tetapi kadang-kadang dengan angkutan tradisional," ungkapnya.

 "Sepanjang sejarah, perjalanan kapal-kapal yang membawa jemaah haji selalu mengalami hambatan dan tantangan," tutup Mansyur.

Editor : Muhammad Helmi
#kapal #Haji 2024 #Kemenag #jemaah haji