Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Wali Majdub Perempuan di Banjarbaru Bernama Syarifah Badrun

M Fadlan Zakiri • Rabu, 6 Maret 2024 | 09:55 WIB
KUBAH: Kubah makam Syarifah Badrun Al Qadiri Al Hasani, seorang wali majdub perempuan di Cempaka yang disegani masyarakat Banjar.
KUBAH: Kubah makam Syarifah Badrun Al Qadiri Al Hasani, seorang wali majdub perempuan di Cempaka yang disegani masyarakat Banjar.

BANJARBARU – Warga Banjarbaru barang kali pernah melihat makam ini di tepi Jalan HM Mistar Cokrokusumo. Namun, tak tahu siapa sosok yang bersemayam di dalamnya.

Syarifah Badrun Al Qadiri Al Hasani merupakan seorang perempuan yang bermakam di Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. Dari tepi jalan pun kubah makam Syarifah Badrun ini sudah kelihatan.

Makam anak dari Sayyid Yusuf Al-Qadiri Al-Hasani ini tidak pernah sepi dari peziarah. Apalagi ketika mendekati momen peringatan haulnya yang jatuh pada 29 Syawal di setiap tahun Hijriah.

Sejarawan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, Mursalin mengatakan saat ini belum ada catatan detail tentang data lengkap sosok Syarifah Badrun ini. “Karena belum ada catatan resmi mengenai biografi lengkap Syarifah Badrun ini. Baik tanggal lahir maupun usia berapa beliau wafat,” ungkapnya, Selasa (5/3) sore.

Jika melihat dari tulisan yang tercatat di kubahnya, Syarifah Badrun wafat pada 25 Januari 2001 M atau 29 Syawal 1441 H. “Mungkin ada catatan lengkapnya, karena setiap peringatan haul ada angkanya. Namun secara pribadi, belum tahu apakah itu valid atau tidak,” ucapnya.

Dari fam ‘Al Qadiri Al Hasani’, berarti Syarifah Badrun satu marga dengan Syaikh Abdul Qadir Jaelani, seorang pendiri Tarekat Qadiriyah.

Mursalin melihat penghormatan dan ketakziman masyarakat pada haul Syarifah Badrun. Ini menandakan bahwa corak Islam Banjar yang sufistik dan mengakui kewalian dari sang pemilik makam. “Artinya beliau (Syarifah Badrun) merupakan seorang ulama perempuan yang mengamalkan ilmunya,” ujar Mursalin.

Ia juga melihat ada hal menarik yang terdapat dalam sosok Syarifah Badrun ini bagi kalangan masyarakat Cempaka. “Beliau (Syarifah Badrun, red) ini mempunyai posisi unik, sudah ulama, perempuan pula,” bandingnya.

Unik dimaksud Mursalin ini lantaran sosok Syarifah Badrun yang merupakan ulama perempuan. Jika berkaca dari kultur masyarakat Banjar, hal tersebut tidak biasa. “Sebab, konteks pemimpin keagamaan pada masyarakat Banjar, cenderung didominasi laki-laki,” katanya.

Posisi gender perempuan di Tanah Banjar memang cenderung egaliter. Kadang kala dalam urusan agama keegaliteran ini sering kali tak tampak. “Mungkin ini karena pengaruh tafsir keagamaan tertentu yang mengharuskan laki-laki sebagai ‘imam’. Karena itulah peran perempuan Banjar sebagai ulama sering kali tertutupi. Padahal ulama perempuan Banjar ada,” jelas Mursalin.

Syarifah Badrun dikenal sebagai ulama perempuan yang dianggap masyarakat setempat masuk dalam golongan wali majdub. Mursalin menjelaskan, wali majdub dalam istilah sufistik adalah orang yang terkejut ditarik Allah kerohaniannya dari aktivitas bersifat duniawi.

Karena keterkejutan itu mengakibatkan jiwa keduniawiannya hilang. “Untuk mencapai ini, harus melalui ibadah tertentu. Makanya disebut wali majdub,” ujar Mursalin.

“Sebagai seorang keturunan nabi sekaligus keturunan waliyullah Syekh Abdul Qadir Al Jailani, tak mengherankan Syarifah Badrun melakukan amalan tarekat tertentu, hingga membuat dia majdub,” tambahnya.

Hal itu sejalan dengan penuturan Hilman. Ia adalah penjaga makam Syarifah Badrun binti Habib Yusuf yang tinggal di Desa Pumpung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Semasa hidup banyak masyarakat setempat yang meminta doa kepada Syarifah Badrun, termasuk doa menolak bala.

Bahkan, Hilman menceritakan pernah satu ketika Allah SWT menunjukkan karamah yang diberikan kepada Syarifah Badrun memadamkan kebakaran di Kecamatan Cempaka. Dahulu pernah terjadi kebakaran di dekat PLN arah Gunung Kupang. Terus Syarifah Badrun mengambil sebatang kayu durian. Kemudian beliau mengencingi pohon itu. “Tiba-tiba api yang berkobar langsung padam,” tuturnya.

Keganjilan lain yang juga pernah ditemui masyarakat setempat dari Syarifah Badrun semasa hidup, antara lain sangat suka membeli dagangan orang yang tidak laku berjualan. “Jika ada penjual yang sepi dagangannya, maka beliau membeli jualan pedagang itu. Tidak lama kemudian, dagangan orang itu akan ramai dengan pembeli,” katanya.

Ketika wafat pun, Hilman pernah menemui hal yang tidak masuk akal jika dipikir secara logika. Ia pernah melihat sepasang suami-istri untuk ziarah ke makam Syarifah Badrun. Mereka bernazar dan berdoa kepada Allah SWT agar ingin memperoleh keturunan.

Setibanya di makam Syarifah Badrun, sepasang suami-istri tersebut mengambil air wudu serta membawa air ke makam, kemudian membaca surah Yasin.

Mereka berniat menghadiahkan bacaan surah Yasin tersebut untuk Syarifah Badrun. Sebelum pulang, air yang didoakan dengan pembacaan surah Yasin tadi diminumkan kepada sang istri. “Beberapa waktu kemudian, suami-istri itu datang lagi berziarah dengan keadaan istrinya yang sudah hamil,” tuntasnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Religi #banjarbaru #Tahulah Pian #Ulama #makam #habib #islam