Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Dari Mubes Warga Tapin Muncul Deklarasi Dirikan Kampus

Rasidi Fadli • Kamis, 15 Februari 2024 | 06:45 WIB
HASIL MUBES: Politeknik Islam Syekh Salma Al-Farisi Rantau menjadi perguruan tinggi pertama di Tapin.
HASIL MUBES: Politeknik Islam Syekh Salma Al-Farisi Rantau menjadi perguruan tinggi pertama di Tapin.

Ada sejarah menarik di balik berdirinya Politeknik Islam Syekh Salma Al-Farisi Rantau. Perguruan tinggi swasta pertama di Kabupaten Tapin. Lokasi kampusnya di Jalan Munggu Kapasan Nomor 212 Tambarangan, Kecamatan Tapin Selatan.

Sekda Tapin, Sufiansyah menceritakan untuk tanggal pendirian poltek ini 20 Agustus 2009. “Namun untuk rencana pembangunannya, sebelum itu,” jelasnya.

Diberitahukannya, ide pendirian poltek sendiri berdasarkan Musyawarah Besar (Mubes) seluruh warga Tapin tahun 2008. Termasuk warga yang ada di perantauan. “Saat itu, bupatinya masih Bapak Idis Nurdin Halidi,” jelasnya.

Dari hasil mubes tersebut, keluarlah deklarasi bahwa Tapin memerlukan lembaga perguruan tinggi. Untuk kebutuhan anak-anak Tapin, terutama yang tidak mampu berkuliah di perguruan tinggi. “Sebelum berdiri, bupati membuat tim kajian pendirian poltek. Tim tersebut terdiri dari para tokoh Tapin perantauan, tokoh pemuda, dan lain-lain,” jelasnya.

Setelah ada kajian, bupati membentuk tim pendirian poltek. “Dari aturan, pemerintah daerah tidak diperbolehkan membentuk perguruan tinggi. Harus bentuk yayasan,” jelasnya.

Yayasan pun terbentuk. Namanya, Syekh Salma Al-Farisi. Salah satu pendirinya H Muhammad Zaini atau Haji Izai, pengusaha batu bara kondang dari Binuang. “Yayasan terbentuk, pendirian poltek pun dilanjutkan,” runut Sufiansyah.

Terlebih dulu tim dari yayasan belajar ke poltek yang ada di Bandung dan Kementerian Pendidikan Tinggi. “Seiring berjalan waktu, kita bersyukur tahun 2008, disetujui pendirian poltek. Berbarengan dengan poltek yang ada di Kabupaten Tanah Laut,” jelasnya.

Ada tiga program studi sesuai dengan potensi yang ada di Tapin. Teknik Pertambangan, Teknologi Pertanian, dan Teknik Mesin. Pertama kali penerimaan mahasiswa tahun 2009, ada 25 orang yang kuliah di situ.

Kebetulan waktu itu, sekda menyelesaikan kuliah lanjutannya di Malang. Jadi langsung bisa mengajar di sini. “Saya juga masuk jajaran pengurus, dengan jabatan Wakil Direktur Keuangan dan Administrasi,” ungkap Sufiansyah.

Seiring berjalannya waktu, ada peluang untuk menjadikan poltek ini sebagai perguruan tinggi negeri. “Coba kami usahakan untuk jadi negeri,” paparnya.

Ada syaratnya. Pertama, pemda harus menyiapkan lahan seluas 10 hektare, dan ini langsung dipenuhi. “Pemda bersama DPRD Tapin harus menganggarkan lewat hibah selama tiga kali berturut-turut,” jelasnya.

Tapi, ini perlu komitmen. Namun, hanya didapatkan dari DPRD saja. Sedangkan komitmen dari Pemkab Tapin belum bisa didapatkan. “Karena terbentur aturan dari Kemendagri terkait penganggaran. Jadi komitmen tidak didapatkan,” jelasnya.

Setelah seleksi akhir, poltek gugur untuk jadi negeri. Tapi, Tanah Laut berhasil. Namun diakui sekda, ternyata Pemerintah Pusat hanya perlu komitmen saja. “Seandainya dulu kita berkomitmen, kemungkinan akan tembus juga ke negeri,” banding Sufiansyah.

Upaya untuk mengubah status Poltek Syekh Salman Al-farisi menjadi negeri juga tetap dilakukan. “Idenya untuk menjadikan universitas. Tapi, terkendalanya mencari orang-orang yang mau ke sana cukup sulit,” pungkasnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Sekolah #Tahulah Pian #Tapin