Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian, Pelabuhan Lama Sudah Bermasalah Sejak Zaman Belanda

Endang Syarifuddin • Selasa, 28 November 2023 | 10:08 WIB
TAHULAH PIAN: Kapal Armada KPM dan NISM di Pelabuhan Lama, Banjarmasin pada Zaman Belanda. Sumber: KITLV, Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen, Tropen museum.
TAHULAH PIAN: Kapal Armada KPM dan NISM di Pelabuhan Lama, Banjarmasin pada Zaman Belanda. Sumber: KITLV, Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen, Tropen museum.

Bagi kebanyakan warga Banjarmasin, tentu tidak asing dengan Pelabuhan Lama atau Pelabuhan Martapura Lama. Pelabuhan ini letaknya tak jauh dari Kantor Wali Kota Banjarmasin. Tepatnya di Jalan RE Martadinata.

Namun, pelabuhan tersebut telah berhenti beroperasi sejak tahun 1965.

“Penyebabnya lantaran aktivitas perdagangan, bongkar muat, dan lainnya dipindahkan ke Pelabuhan Trisakti,” ujar dosen Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur.

Sejarahnya pada abad 19, pelabuhan di Banjarmasin menjadi yang terbaik di wilayah Kalsel dan Kaltim. Jalur pelayarannya mengikuti sungai Martapura dan sungai Barito yang sangat lebar.

Sayangnya, pelabuhan ini memiliki kelemahan yang tidak mudah ditanggulangi. Terjadi endapan lumpur pada muara sungai. “Akibatnya Pelabuhan Banjarmasin sering mengalami pendangkalan yang sangat mengganggu kelancaran arus lalu lintas pelayaran,” katanya.

Pendangkalan ini sudah diketahui melalui hasil kajian Department der Burgerlijke Openbare Werken, Nederlandsch-Indische Havens, Batavia, yang dipublikasi tahun 1920. Pada saat air laut sedang surut, kedalaman alur keluar masuk pelabuhan tersebut kurang dari enam kaki. Jadi, tidak mungkin dapat dilewati kapal besar.

Kalau sudah begitu, kapal besar yang akan memasuki sungai Barito untuk menuju pelabuhan harus menunggu di open sea sampai tiba air pasang.

Dari artikel Van Borneo De Locomotif tanggal 2 Januari 1919, diketahui keberadaan beting lumpur ini sangat mengganggu.

Seperti yang pernah menimpa Kapal de Weer Desember 1918 silam. Kapal tersebut tidak bisa sandar di pelabuhan, dan terpaksa membuang sauh. Jam lima sore baru bisa melanjutkan pelayaran menuju Pelabuhan Martapura Lama.

Hasil kajian itu juga mengemukakan sampai akhir abad 19, kondisi pelabuhan Banjarmasin masih belum memadai untuk pelaksanaan aktivitas bongkar muat dari kapal-kapal yang singgah. Ini karena sempitnya dermaga.

Kelemahan ini kemudian dapat teratasi dengan selesainya perbaikan dermaga pada tahun 1911. Meskipun demikian, kapasitas dermaga menerima kedatangan kapal pada saat saat lalu lintas pelayaran cukup padat tetap menjadi masalah yang belum teratasi.

Supaya kepadatan arus lalu lintas pelayaran di Sungai Martapura dapat teratasi, solusinya adalah memindahkan emplasemen duane ke Sungai Barito pada tahun 1911. Rencana itu terbentur besarnya biaya. Lantas gagal dilaksanakan.

Hingga tahun 1915, permasalahan kian kompleks. Lantas pengelola memutuskan memperbaiki dermaga. Pengerukan lumpur dengan lebar dasar 100 meter, lebar di dalam laut 600 meter, dan panjang 7,5 kilometer. Pekerjaan dimulai akhir 1916, dan baru selesai pada pertengahan 1918.

Editor : Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#belanda #Tahulah Pian #benda bersejarah #Penjajahan