Sebelumnya, stadion ini bernama Indrasari. Oleh Sultan Khairul Saleh yang kala itu menjabat Bupati Banjar, namanya diubah menjadi Stadion Demang Lehman.
Ini nama panglima Perang Banjar yang berjuang bersama Pangeran Antasari.
Sebagai bentuk penghormatan. Mengenang keberanian Demang Lehman dalam mengusir cengkeraman penjajah Belanda.
Keberanian Demang Lehman yang sangat ditakuti kolonial diharapkan bisa memberi semangat bagi tim asal banua yang akan bertanding di Stadion Demang Lehman.
"Dalam sejarah tercatat, sampai berada di tiang gantungan, Demang Lehman tidak menunjukkan rasa takut. Menolak memakai penutup kepala. Dalam catatan Belanda, itu membuat mereka terkesan," kata Mansyur, dosen sejarah Universitas Lambung Mangkurat.
Terlahir dengan nama Idris, Kiai Demang merupakan gelar untuk pejabat yang memegang sebuah distrik. Demang Lehman semula merupakan panakawan (ajudan) dari Pangeran Hidayatullah II sejak tahun 1857.
Berkat kesetiaan dan kecakapannya, dia diangkat menjadi Kiai untuk Distrik Riam Kanan. Demang Lehman juga memegang dua pusaka kesultanan, yaitu Keris Singkir dan sebuah Tombak Kaliblah yang berasal dari Sumbawa.
Stadion Demang Lehman terletak di Desa Indrasari, Kecamatan Martapura. Stadion milik Pemkab Banjar ini berkapasitas 15.000 penonton.
Terdiri dari tribun terbuka dan tertutup, menggunakan rumput berstandar FIFA dan penerangan untuk bermain pada malam hari dengan kejuatan lampu 1000 lux.
Beberapa tahun terakhir, Stadion Demang Lehman menjadi kandang Barito Putera dalam mengarungi kompetisi Liga 1 Indonesia. Lantaran Stadion 17 Mei di Kota Banjarmasin masih dalam tahap renovasi. (bir/gr/fud) Editor : Arief