Ya, dulu bagasing banyak diminati anak-anak, remaja, dan bahkan dewasa. Sekarang bagasing hanya bisa disaksikan pada festival atau event kebudayaan.
Ketua Inorga Bagasing Kota Banjarmasin, Muhammad Suriyani menjelaskan, bagasing berasal dari kata "gasing". "Permainan ini mengandung aspek olahraga, karena melatih ketangkasan memutar dan melemparkan gasing," katanya.
Gasing dibuat dari kayu pohon kopi, manggis, dan paling baik dari kemuning karena kayunya keras dan kuat.
"Ada dua jenis gasing, yaitu gasing laki (cowok) dan gasing bini (cewek)," sebutnya.
"Gasing laki memiliki ciri kepalanya yang agak besar, sedangkan kepala gasing bini agak kecil. Bentuk gasing seperti buah kedondong, dengan tinggi dan garis tengah 7 cm," jelasnya.
Perbedaan kedua gasing itu bukan sekadar ornamen. Sebab berpengaruh pada tali yang digunakan.
Untuk memutar gasing laki, diperlukan tali pendek sepanjang 60 senti. Sedangkan gasing bini memerlukan tali sepanjang dua meter.
"Tali gasing secara tradisional dibikin dari serat daun kanas (nenas). Alat lain yang diperlukan adalah susukan untuk menyusuk gasing yang sedang berputar dan lapik untuk tempat gasing berputar," tambahnya.
Bagasing bisa dimainkan dua orang atau lebih. Untuk menentukan siapa yang ciriw (memasang) dan siapa yang manukun (memukul), diputuskan lewat adu balandangan.
Keterampilan bermain gasing tampak pada gasing mana yang lebih lama berputar. Kadang-kadang gasing itu sampai titil (retak) bahkan pecah sakit kuatnya pukulan saat beradu gasing.
"Bagasing mengandung pendidikan positif. Melatih ketangkasan, kejujuran, dan kesetiakawanan," tutup Suriyani. (bir/gr/fud) Editor : Arief