Kantor lurahnya tepat berada di tepi jalan nasional Pelaihari-Banjarmasin, sekitar lima kilometer dari pusat kota.
Diceritakan, pada zaman dahulu, Pabahanan merupakan sebuah hutan yang ditumbuhi berbagai macam jenis pohon. Sebagian besar penduduknya bekerja mencari kayu.
Mayoritas campuran Suku Banjar dan Suku Jawa. Mereka merupakan bekas buruh kontrak karet di daerah Ambungan (sekarang menjadi Desa Ambungan).
Kayu-kayu yang ditebang itu kemudian dibawa ke perkampungan dengan menggunakan gerobak (gelendengan) yang ditarik seekor sapi.
Tiba di perkampungan, kayu-kayu tersebut diolah untuk membangun rumah atau membuat perabot.
"Pada masa itu banyak kalangan dari luar Pabahanan memesan kayu yang sudah diolah masyarakat untuk gelendengan," ungkap Rudi, warga Pelaihari, Ahad (15/5).
Menurutnya, pada saat itu gelendengan sapi merupakan alat transportasi yang sangat penting, baik untuk angkutan orang maupun angkutan barang.
"Karena menjadi perlintasan kayu pesanan, wilayah itu kemudian dikenal dengan sebutan Kampung Pabahanan," ujarnya.
Asal katanya adalah "bahan". Maksudnya, dari sini orang bisa memesan bahan-bahan kayu.
"Akhirnya sekarang dikenal sebagai Kelurahan Pabahanan," tutup Rudi. (sal/gr/fud) Editor : Arief