Oleh: M OSCAR FRABY, Banjarmasin
SELAMA Ramadan, ipau bisa dicari dan dibeli di pasar-pasar wadai.
Tetapi bila Anda menginginkan ipau versi "istimewa", datanglah ke Jalan Sulawesi di Kelurahan Pasar Lama.
Pada bulan puasa, di tepi jalan ini mendadak bermunculan lapak-lapak kecil yang menjual ipau.
Kebanyakan pedagangnya adalah warga keturunan Timur Tengah. Maklum, kawasan ini tak jauh dari Jalan Antasan Kecil Barat yang punya julukan Kampung Arab.
Beberapa orang terkadang membandingkan ipau dengan lasagna, makanan tradisional Italia. Mungkin karena teksturnya yang lembut dan berlapis-lapis.
Ipau tampil dengan warna putih bersih. Kontras dengan taburan bawang goreng dan potongan seledri hijau di atasnya.
Salah seorang pedagang ipau, Amiroh menceritakan, wadai ini laku keras selama Ramadan.
Buktinya, dalam sehari ia sanggup menjual 30 loyang. Belum termasuk kemasan yang sudah dipotong-potong kecil. Ukuran ini bisa laku sampai 60 kotak dalam sehari.
Pada hari-hari biasa, di luar Ramadan, Amiroh hanya memasak ipau ketika ada pesanan khusus.
"Biasanya kalau ada acara saja," ujarnya.
"Makanya bulan puasa selalu menjadi berkah bagi kami," sambungnya.
Lapisan ipau terbuat dari adonan tepung terigu, telur, dan susu. Isiannya adalah wortel, kentang, bawang bombay, dan daging.
Lapisan-lapisan tersebut kemudian dikukus. Ketika matang, disiram dengan kuah santan dan ditaburi daun bawang.
Lalu, apa bedanya ipau di sini dengan ipau yang dijual di tempat lain? "Ipau kami berbeda dengan ipau yang lain, khususnya yang dibuat orang Banjar. Kalau ipau yang kami jual, isiannya daging. Rasanya pun gurih dan santannya manis," jawabnya.
Ipau bisa dibeli dalam potongan kecil atau satu loyang penuh. "Ukuran kecil seharga Rp5 ribu. Sedangkan ukuran paling besar Rp60 ribu," sebutnya.
Ketika berbuka puasa, ipau biasanya disantap sebagai makanan pembuka. "Sebelum makan berat, saya biasanya makan wadai dulu. Ipau salah satu favorit saya," ujar Kifli, salah seorang pembeli.
Bagi dia, ipau adalah kudapan yang paling ditunggu-tunggunya. "Menunggunya satu tahun lamanya. Kalau wadai lain, semisal amparan tatak, masih banyak yang jualan di luar bulan Ramadan," imbuhnya. (mof/gr/fud) Editor : Arief