Jalan ini membentang dari persimpangan Jalan HM Cokrokusomo, Kecamatan Cempaka sampai persimpangan jalan tembus Pelaihari, Kecamatan Liang Anggang.
Trikora punya dua lajur yang lebar. Karakternya lurus, menanjak dan menurun.
Jalan ini ramai dilintasi ketika ada event-event besar di Banjarbaru atau tetangganya Martapura. Fungsinya untuk mengurai kemacetan. Sebab jalan ini terhubung dengan beberapa jalan lingkungan.
Namun siapa yang menyangka Trikora bakal semulus dan selebar sekarang. Sebab dahulu Trikora hanyalah jalan tanah biasa.
Trikora mulai dibangun pada tahun 1990-an. Berbagai sumber menyebutkan, pada awal digunakan, Trikora cuma penghubung antara Jalan Sidorejo dan Jalan Purnawirawan ke Jalan Guntung Manggis.
Selain masih tanah, pemandangan kiri dan kanan jalan masih semak belukar dan hutan. Kala itu perumahan dan pertokoan belum banyak dibangun.
Konon, sangat jarang ada pengendara yang mau melintasi Trikora. Alasannya sederhana: sepi.
Selain sepi, cerita berseliweran, Trikora kerap diseberangi binatang-binatang liar.
Tapi Trikora perlahan menjadi primadona, setidaknya di kalangan sopir truk. Terutama truk angkutan dari tambang-tambang galian C.
Sopir truk datang, warung kopi pun berkembang. Kedai-kedai di tepi jalan ini menjadi tempat favorit sopir untuk rehat sejenak.
"Ramai warungnya, karena para sopir sering singgah. Bahkan ada yang bermalam. Karena kalau sudah hujan, kondisi jalannya kian berat, mereka lebih memilih menginap," cerita Sarjowo, 59 tahun, warga Guntung Manggis yang menjadi saksi hidup perkembangan Jalan Trikora.
Singkat cerita, pada awal tahun 2000-an, Trikora mulai diaspal. Kemudian, lebarnya ditambah sampai lebih enam meter.
"Seingat saya, pas diaspal itu juga sekaligus diperlebar. Namun kiri kanan masih hutan," ingatnya.
Selain warung, tepi jalan turut diramaikan oleh penjualan pasir dan batu koral.
Sarjowo ingat, ia pernah membelinya untuk mengeraskan halaman rumahnya. "Memang tak banyak, tapi ramai karena harganya terkenal murah," katanya.
Kini, Jalan Trikora sudah tak sesepi dulu. Barisan ruko banyak berdiri. Terlebih di kawasan LIK Liang Anggang, pergudangan kian eksis.
Meski sudah mulus, keluhan pengguna Jalan Trikora masih tetap nyaring. Sebab pada malam hari, kawasan itu gelap dan remang.
Secara status, Trikora adalah jalan provinsi. Berada di bawah pemprov, pemko mengaku tak berwenang membenahi penerangan Jalan Trikora. (rvn/gr/fud) Editor : Arief