Tokoh sepuh di sini, Abdul Mutalib menceritakan, tak ada yang tahu secara persis kapan Baayun Maulid mulai digelar di Banua Halat.
"Tetapi cerita orang tua terdahulu, sudah menjadi kebiasaan di sini, bahwa setiap anak yang baru lahir harus ikut Baayun Maulid," kisahnya.
Jika ada warga desa yang merantau jauh, saat anaknya lahir di tanah perantauan, mereka pasti akan pulang kampung. Meski sebentar, supaya anaknya bisa ikut Baayun Maulid.
"Bahkan ada yang berada di Malaysia dan Brunei Darussalam. Tapi mereka tetap pulang membawa anaknya," tambahnya.
Rupanya, kalau anaknya tidak pernah ikut Baayun Maulid, terasa ada yang kurang.
"Dulu para ulama mengharuskan Baayun Maulid karena mereka ingin mengenalkan masjid sejak dini," katanya.
Baayun Maulid di Banua Halat semakin ramai sejak tahun 2000.
Kala itu ada orang tua yang lumpuh dan bernazar. Dia berucap, kalau diberi kesembuhan akan menggelar Baayun Maulid. "Ternyata ia bisa berjalan kembali," ujarnya.
Cerita ini sangat populer. Sampai akhirnya, bukan hanya bayi dan balita, orang dewasa dan uzur juga ikut Baayun Maulid. "Hingga ribuan ayunan dipasang," pungkas Abdul.
Data peserta Baayun Maulid pada 2019 silam, ayunan yang terpasang sebanyak 4.960 buah.
Peserta yang paling muda berumur 12 hari, sedangkan yang paling tua berumur 94 tahun. Jemaah yang datang diperkirakan 15 ribu orang.
Selama pandemi covid, Baayun Maulid memang diliburkan. Untuk Baayun Maulid pada 2022 ini, 8 Oktober nanti, panitia menargetkan 6 ribu ayunan terpasang. (dly/by/fud) Editor : Muhammad Helmi