Masjid ini punya peran penting pada era perjuangan melawan penjajah Belanda.
Sebelum dinamakan masjid Ash Sulaha dulu namanya Masjid Jami. Namanya diubah pada tahun 1900-an ketika direlokasi. Ash Shulaha sendiri memiliki arti tempat berkumpulnya orang-orang saleh.
Masjid ini sudah beberapa kali direnovasi. Dari penggantian material hingga bentuk bangunan.
Tempo dulu, masjid ini berarsitektur Jawa-Banjar. Tidak semodern sekarang.
Dahulu memiliki tiga atap bertingkat. Filosofinya, tingkat pertama bermakna syariat, kedua tarikat dan atap teratas adalah hakikat. Kini masjid ini hanya memiliki satu kubah.
Penasihat Masjid Ash Sulaha, Mugni Usman menceritakan, sembilan tiang masjid merupakan peninggalan dari bangunan asli.
"Selain tempat ibadah, dulu juga menjadi tempat untuk menyusun strategi. Lalu tempat para ulama dalam menyiarkan dakwah untuk menyerukan perlawanan terhadap penjajah," katanya kepada Radar Banjarmasin, Rabu (28/9).
Dari masjid ini muncul tiga tokoh yang berjasa besar dalam masa revolusi fisik tahun 1946. Mereka disebut Tri Kesuma, maknanya tiga bunga bangsa.
Mereka adalah Muhammad Nawawi Arief, Norman Arief dan Al Hamdie Arif. "Ketiganya berani menentang kolonial. Dan mampu menggerakkan orang-orang untuk melawan Belanda," ceritanya.
Salah satu buah provokasi mereka, warga menyerang markas Belanda di Barabai pada 19 Maret 1946. Banyak serdadu Belanda yang tewas. Aksi ini kemudian dikenal sebagai penyerangan Tri Kesuma atau Tiga Badingsanak (dalam bahasa Banjar).
Belanda marah dan memburu mereka. Singkat cerita Norman Arief ditembak mati Belanda. Lalu Al Hamdie Arief dan Muhammad Nawawi Arief tertangkap. Mereka lalu dipenjara di Pulau Nusakambangan.
Kini nama Tri Kesuma diabadikan menjadi nama jalan di kota Barabai. Kembali ke cerita masjid.
Ada tradisi yang terus dijaga oleh takmir. Yakni tausiah setelah salat magrib berjamaah. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak masjid ini dibangun. "Kalau bulan Ramadan, diganti dengan ceramah subuh," pungkas Mugni. (mal/by/fud) Editor : Muhammad Helmi