Dari pusat kecamatan kota Rantau, danau ini berjarak sekitar 20 kilometer. Naik sepeda motor, hanya perlu setengah jam. Rutenya melewati daerah pegunungan dan kebun karet.
Kepala Desa Hatiwin, Ahmad Zais menceritakan, danau kecil itu dibangun masyarakat pada tahun 1984. Nyaris empat dekade yang lewat.
"Saya masih sekolah dasar (SD). Danau itu menjadi tempat bermain saya dengan teman-teman," kenangnya.
Danau itu sangat membantu masyarakat yang kesulitan mencari air bersih. Sehari-hari dipakai masyarakat untuk keperluan memasak, mencuci dan mandi.
Seiring waktu, danau itu semakin membesar. "Besar seperti sekarang, terjadi secara alami. Jadi tidak dikeruk lagi," jelasnya.
Danau Hatiwin mulai ramai dikunjungi wisatawan lokal sejak tahun 2013. Tapi sempat vakum karena kekurangan biaya untuk memperbaiki sarana wisata.
"Baru beberapa tahun ini mulai aktif lagi. Pengelolannya dibenahi, pengelolaannya diserahkan kepada badan usaha milik desa (BUMDes)," tambahnya.
Zais menekankan, Danau Hatiwin penting untuk mendongkrak perekonomian masyarakat Desa Hatiwin.
"Alhamdulillah tahun ini dibantu kapal dari Pemkab Tapin lewat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tapin," sebut pria kelahiran tahun 1972 ini.
Lewat dana desa, akan dibangun resto apung. Yang menyediakan makanan dan minuman untuk pengunjung danau.
"Kami juga mendapat bantuan berupa bibit ikan dan pembangunan jalan penunjang. Semoga pengunjungnya semakin ramai," tutupnya. (dly/gr/fud)
Editor : Muhammad Helmi