Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Jangan Panggil Dayak Meratus dengan Sebutan Dayak Bukit

Muhammad Helmi • Selasa, 19 Juli 2022 | 15:57 WIB
SUMPIT: Menyumpit merupakan salah satu teknik Dayak Meratus dalam berburu. FOTO: WAHYUDI/RADAR BANJARMASIN.
SUMPIT: Menyumpit merupakan salah satu teknik Dayak Meratus dalam berburu. FOTO: WAHYUDI/RADAR BANJARMASIN.
MAYORITAS suku Dayak masih mendiami Meratus. Pegunungan yang melintasi wilayah Kabupaten Tabalong, Balangan, HST, HSS, Tapin hingga Kotabaru.

Dari suku yang besar ini, ada sub-sub etnis lagi. Meliputi Dayak Pitap, Dayak Loksado, Dayak Halong, Dayak Deah dan Dayak Kiyu.

Sedangkan nama kolektif untuk semuanya adalah Dayak Meratus.

Dulu, sebutan Dayak Bukit sempat disematkan orang-orang luar kepada mereka. Pada kenyataannya, tidak pernah ada suku dengan nama semacam itu.

Seperti yang ditegaskan Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Balangan, Mandan. Dijelaskannya, Dayak Bukit hanya sebuah panggilan terhadap Dayak Meratus yang tinggal di gunung.

"Tapi sekarang panggilan itu sudah hampir tak lagi terdengar. Karena orang mulai mengetahui bahwa Suku Dayak di Kalsel adalah Dayak Meratus," terang Mandan.

Apalagi, sebutan itu mengandung konotasi negatif. Seolah-olah mereka orang pedalaman. Terkebelakang. Menurutnya, ini label yang tidak pantas.

Bahkan, dulu Dayak Meratus sebenarnya lebih memilih dataran rendah. Kondisi lah yang memaksa mereka untuk bergeser naik ke atas pegunungan.

"Karena sudah merasa nyaman tinggal di gunung, maka berlanjut sampai sekarang. Tapi sudah banyak orang Dayak Meratus yang sekolah atau kuliah dan tinggal di perkotaan," tutupnya. (why/gr/fud) Editor : Muhammad Helmi
#Tahulah Pian