Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sarigading yang Misterius

M. Syarifuddin • Rabu, 23 Maret 2022 | 17:03 WIB
Photo
Photo
Sarigading tidak banyak disinggung dalam sejarah lokal. Meski begitu namanya dikenang oleh masyarakat Hulu Sungai Tengah (HST). Sebuah bukit dan jalan di HST dinamai seperti namanya.

Sosok Sarigading sendiri masih misteri. Cerita yang beredar dia merupakan pahlawan yang ikut berperang ketika revolusi fisik Kalimantan Selatan tahun 1945-1949 di Barabai.

Sarigading konon bukan asli Banjar. Dia merupakan seorang pejuang dari Sulawesi bernama asli Sawerigading. Dia merantau dari Sulawesi ke Kalimantan Timur, kemudian ikut berperang di Barabai. Untuk memudahkan pemanggilan nama, masyarakat kerap memanggil Sarigading.

Kala itu, Komandan Gerakan Pemuda Indonesia Merdeka (Gerpindom) Adbdurrahman Karim di Birayang pada tanggal 10 Agustus 1945, memerintahkan pejuang Damanhuri untuk pergi ke Kalimantan Timur.

Dia diutus untuk mencari senjata dan melebarkan sayap perjuangan. Damanhuri kembali ke Birayang dengan membawa pasukan sebanyak 25 orang lengkap dengan persenjataannya. Dari 25 orang tersebut, Sarigading salah satunya. Pasukan ini dipimpin oleh John Masael.

Pasukan ini menembus hutan belantara untuk menuju pusat komando Gerpindom di Birayang. Saat pasukan ini sedang istirahat di wilayah Lokbatu (nama sebuah desa di Balangan saat ini) tiba-tiba polisi militer belanda menyerang.

Serangan itu datang dari segala arah dengan kekuatan yang besar. Pasukan John Masael terpaksa menghindar menyelamatkan diri sambil mengadakan perlawanan, pasukan pun terpecah. Beberapa prajurit terpaksa menyelamatkan diri.

Setelah penyerangan itu, di sini lah awal mula hancurnya pasukan yang dipimpin John Masael. Beberapa prajurit meninggal dan tertangkap. Kala itu Sarigading berhasil lolos, dia bersembunyi di dalam hutan. Sarigading menjadi buronan polisi Belanda.

Menurut cerita yang berkembang, Pada suatu waktu Sarigading keluar dari hutan untuk menuju Banjarmasin. Namun sesampainya di Pantai Hambawang, perjalanan Sarigading terhenti oleh pasukan Belanda, kemudian Sarigading ditangkap dan dibawa ke kampung Banua Binjai.

Dalam artikel yang ditulis Sejarawan FKIP ULM, Mansyur berjudul: Sarigading, Jejak Perjuangan Sejarah Hingga Nama Jamu di Barabai, menyebut jika Sarigading dihukum tembak oleh Polisi KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger) artinya Tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Konon jenazah Sarigading dimandikan disebuah sumur di wilayah Desa Banua Budi. Sampai sekarang sumur tersebut dinamakan Sumur Sarigading. Jenazahnya dimakamkan di Wilayah Banua Budi.

Namun untuk memberikan penghormatan kepada Sarigading atas jasanya saat melawan Belanda di Barabai, jasadnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa, Desa Pagat, Kecamatan Batu Benawa. Di batu nisannya tercatat Sarigading meninggal usia 30 tahun pada tanggal 16 Mei 1947. (mal/by/ran) Editor : Arief
#Sejarah Banua