Contohnya, kesenian musik Gamelan, Tari Topeng, Kuda Gepang, Seni Pahat, Tari Japin dan Baarak (arak-arakan) Naga. Paling populer dan menarik di desa ini yaitu arak-arakan naga. Biasanya tradisi ini digelar dalam upacara perkawinan.
Pegiat seni asli HST, Masruswian mengatakan arak-arakan naga merupakan kebiasaan yang dilakukan keturunan Datu Tanura, dia adalah warga asli Desa Barikin. Tradisi ini sudah ada turun-temurun ratusan tahun. “Namun, seiirng berkembangnya zaman. Tradisi ini bisa dilakukan masyarakat luas,” tuturnya.
Tradisi ini dulunya dilakukan oleh para tokoh adat Desa Barikin ketika mengawinkan anaknya. Arak-arakan naga digelar untuk memeriahkan pesta perkawinan anak tokoh adat tersebut.
Kedua pengantin dibuatkan perahu kayu berkepala naga, lalu mereka menaiki perahu tersebut. Layaknya raja dan ratu mereka diarak keliling dengan melalui jalur sungai diiringi musik gamelan.
Tradisi ini tak lepas dari cerita dan peristiwa mistis. diceritakan, kala kedua pengantin asyik menyusuri sungai tiba-tiba perahu naga tersebut bergerak seolah hidup. “Saat itu para pengantin melewati Sungai Harang, Kecamatan Haruyan (saat ini). Di sana ada teluk atau liang yang dalam,” kisahnya.
Untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan, seorang keluarga pengantin langsung mengambil tindakan.
Dia mencaput Mandau dari kumpangnya (senjata khas Dayak) lalu menebas kepala naga tersebut. Tak disangka darah mengalir bercucuran. “Perahu itu tidak bergerak-gerak lagi,” ceritanya.
Jalur sungai tempat peristiwa mistis itu terjadi kini dikenal dengan wilayah Lok Laga (teluk naga) dan menjadi salah satu objek wisata di Kecamatan Haruyan.
Konon patung kepala naga yang ditebas dengan Mandau, sampai saat ini masih disimpan oleh keturunan Datu Tanura di Desa Barikin, diberi nama Naga Rimpang diperkirakan umurnya ratusan tahun.
Semenjak itulah, garis keturunan warga Barikin asli tidak lagi mengadakan pesta perkawinan dengan tradisi arak-arakan naga melalui jalur sungai. Sekarang tradisi arak-arakan naga tidak menggunakan perahu melainkan bertransformasi menggunakan mobil pikap atau gerobak kemudian dihias dengan kepala naga dibuat bak seekor naga asli.
Bahan yang digunaka untuk merakit tubuh naga dari kayu dan bambu. Kemudian dibuatkan singgah sana di atas pundak naga untuk dijadikan tempat duduk para pengantin. “Dihias membentuk ornamen naga dan diarak mengelilingi kampung melalui jalur darat,” katanya.
Sekarang tidak ada lagi di HST tradisi arak-arakan naga yang menggunakan jalur sungai. Tradisi ini juga tidak diwajibkan untuk warga Barikin dan keturunan Datu Tanura. Warga di luar wilayah Barikin pun bisa melaksanakan tradisi tersebut.
Kepala naga yang sering digunakan ada jantan dan betina. Naga Jantan bernama Gauk Saliburan Alam dan betina bernama Salira Puspa Kencana. Sebelum memulai tradisi, harus ada syarat yang disediakan. Seperti piduduk (sesajen) berisi kelapa, beras, gula merah dan telor.
Kemudian dibacakan doa meminta permohonan kepada Tuhan agar kelancaran dan keselamatan saat tradisi arak-arakan digelar. Tak melulu soal upacara perkawinan, tradisi ini bisa digelar dalam kegiatan apapun sesuai hajat dan kegiatan pesta-pesta lainnya. (mal/by/ran) Editor : Arief