Jembatan ini membentang kokoh di atas Sungai Martapura. Menghubungkan antara Jalan Hasanuddin HM dan Jalan A Yani.
Dibangun pada zaman Hindia Belanda. Jembatan ini dulunya bernama Jembatan Coen (kun). Jembatan yang memiliki sejarah panjang di Banua.
Material bangunan jembatan didominasi bahan kayu ulin. Konstruksinya pun unik. Jembatan ini memiliki bagian tengah yang dapat diangkat. Guna memudahkan perahu yang hendak melintas. Sehingga jembatan ini juga disebut Jembatan Ringkap.
KITLV merilis beberapa foto terkait infrastruktur Banjarmasin. "Tampak beberapa jembatan yang disebut Ophaal brug, jembatan itu bisa diangkat bila ada perahu lewat ke pedalaman. Satu diantaranya memuat foto tentang pesta pembukaan Jembatan Ringkap tahun 1914," tutur Mansyur, Dosen Pendidikan Sejarah FKIP ULM.
"Nama Jembatan Coen berasal dari nama pemimpin Belanda yang bernama Jan Pieterzoon Coen. Kalau sekarang lokasinya di wilayah Jembatan Dewi," sambungnya
Tentu saja jembatan ini menarik perhatian warga Banjarmasin. Sebab, Jembatan Coen adalah jembatan ringkap terpanjang pertama. Serta menghubungkan dua wilayah antara Pulai Tatas dan Hulu Sungai.
Jembatan ini menjadi salah satu warisan zaman kolonial Belanda di Banjarmasin. Terutama di era Residen Belanda CA Kroesen. Pembangunan infrastruktur di kota ini sejatinya sudah dimulai sejak 1898 silam.
Pembanguan infrastruktur begitu terasa saat Banjarmasin berubah status menjadi Gemeente Raad pada tahun 1919. Jembatan Coen menjadi salah satu penanda pembangunan era itu.
Modernisasi Banjarmasin pun berlangsung pada masa pemerintahan ini. Ditandai dengan dibangunnya pusat-pusat perkantoran, bank, firma-firma Belanda, gereja, jalanan kampung Belanda, pasar, alun-alun dan tentunya jembatan ringkap.
Seiring perkembangannya, tahun 1935, jembatan ringkap ini direnovasi agar dapat dilintasi kapal laut. "Pada tahun yang sama dilakukan perombakan. Oleh masyarakat Banjar, jembatan ini dikenal dengan sebutan jembatan panjang atau jembatan ulin," ujar Ketua LKS2B ini.
Pada 1942, sebelum Jepang memasuki Banjarmasin, Jembatan Coen lebih dulu diledakkan oleh Algemene Vemielings Corp (AVC) Belanda agar tak bisa digunakan. Hal ini dilakukan atas perintah Gubernur Borneo, Bauke Jan Haga (1938-1942).
Jembatan ini kemudian dibangun kembali oleh Jepang pada Agustus 1942, dengan nama Jembatan Yamato Bashi. Demi perbaikan kembali infrastruktur Jembatan Coen, pemerintahan pendudukan Jepang harus menggelontorkan dana sebesar f 8.000.
Jembatan Coen yang sebelumnya hanya memiliki lebar 7 meter, ditambah pemerintah Jepang menjadi 8,60 meter. Kemudian Jepang berinisiatif membangun kembali trotoar bagi pejalan kaki di atas badan Jembatan Coen. Ukurannya, lebih lebar dibandingkan ukuran sebelumnya dari 1,20 meter menjadi lebar 2 meter.
Pada 1945, Jepang pun menyerah kepada Sekutu. Dua tahun berselang, Belanda berusaha kembali menduduki Indonesia. Nama Jembatan Coen pun kembali digunakan. Hingga Belanda menyerahkan kedaulatan Indonesia tahun 1949-1959.
"Jembatan peninggalan Belanda ini perlu dilestarikan dan diperbaiki. Namanya kemudian berubah dengan nama Jembatan Akhmad Yani dan diresmikan pada awal Pelita 3 era Orde Baru," ujar lelaki yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Riset LAKPL Kalsel itu.
Nama Jembatan Dewi sendiri mencuat sejak tahun 70-an. Era di mana Kota Banjarmasin diramaikan oleh sejumlah bioskop-bioskop ikonik. Satu diantaranya adalah Bioskop Dewi.
Bioskop ini berada di ujung Jalan Hasanudin HM. Tepat di sisi kiri sebelum Jembatan Coen. Bioskop ini sudah tak beroperasi sejak awal 2000-an. Bangunan kemudian berganti menjadi Toko Roberta yang sekarang juga sudah tutup.
Seiring waktu, jembatan ini terkenal dengan sebutan Jembatan Dewi dan melekat hingga sekarang. (tia/by/ran) Editor : Arief