Itik ini sendiri asalnya dari Desa Mamar Kecamatan Amuntai Selatan. Sedangkan Alabio sendiri ada di Kecamatan Sungai Pandan.
Kenapa dinamai itik Alabio?
Kepala Bidang Pengembangan dan Peternakan Akhmad Rijani mengatakan jenis itik ini awalnya dikenalkan oleh peternak bernama Abdurrahman Alwi pada tahun 1970. Abdurrahman merupakan peternak dari Desa Mamar Kecamatan Amuntai Selatan. " Itik ini juga dinamai itik Banar sebelum populer nama itik Alabio," kata Rijani Minggu (14/2) kemarin.
Jadi kenapa Itik Alabio menjadi nama yang melekat, bukan Itik Mamar? ternyata sederhana saja. Saat itu kegiatan pasar unggas memang berada di Alabio Kecamatan Sungai Pandan.
"Jadi setiap hari Rabu perpekannya ada pasar unggas di Pasar Unggas Alabio. Sehingga itik hasil Desa Mamar di Kecamatan Amuntai Selatan, baik anakan, indukan sampai telur, dijual di pasar sana," kata Rijani. Pembeli yang datang pada hari Rabu itu berasal dari Banua Anam dan dari Provinsi Kalteng.
Di Desa Mamar sendiri, pengembangan Itik Alabio semakin pesat. Sentra pengembangan itik di Mamar terbagi atas sentra pembibitan penetasan itik, pembesaran, telur tetas dan sentra telur konsumsi.
"Rata-rata produksi bibit anak itik di Desa Mamar lebih kurang 45.000 ekor per Minggu, terdiri dari itik Alabio, itik silang atau MA, itik Peking," sampainya.
Pengusaha pembibit ternak itik Alabio dan jenis lainnya di desa Mamar masih terkait keluarga, dimana hampir satu kampung di Mamar merupakan pengusaha pembibitan itik.
Sementara itu, Taufikurrahman salah satu penetas itik Alabio dan Peking di Desa Mamar mengaku melakoni profesi penetas itik sejak tahun 1990."Usaha penetasan itik dari orang tua. Pemasaran ada yang dijual seputar Amuntai dan sekitar kabupaten tetangga seperti Tabalong, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan," sampainya.
Pemasaran terjauh sebutnya, yakni Kota Palangkaraya di Kalteng, Kota Balikpapan di Kaltim dan luar kota lainnya. (mar/by/ran)
Editor : Arief