Hingga kini, belum terang benderang sejarah suku Bugis. Ada yang menyebut berasal suku ini dari Raja Cina di Wajo, La Sattumpugi. Masyarakatnya disebut dengan ucapan To Ugi: orang Bugis.
Asumsi itu berangkat dari beberapa kisah tentang Puteri Cina, dari karya La Galigo.
La Galigo membuat karya sastra terpanjang di dunia, mengalahkan Mahabrata dan Ramayana. Juga lebih panjang dari Homerus, Yunani. Unesco telah mencatat, naskah itu diperkirakan dibuat pada abad ke 14.
Sastra itu ditulis dengan aksara Lontara, yang dipercaya satu rumpun dengan aksara Brahmi. Tarik ke atas adalah aksara Aram.
Dari aksara itu, asumsi Bugis asal dari keturunan Raja Cina juga masih menjadi perdebatan.
Dalam naskah La Galigo, sudah ditulis keberanian Bugis dalam mengarungi lautan. Salah satunya hingga ke negeri Cina, menaklukkan kerajaan di sana sampai mempersunting puteri raja.
La Galigo mengisahkan keluarga kerajaan Bugis dengan kompleks. Kekayaan alur kisahnya -sebagai gambaran- sejajar dengan The Lord of The Rings. Telah dipentaskan oleh sutradara Amerika, Robert Wilson di beberapa negara.
Abad 16 - 17, Sulawesi dilanda perang berkepanjangan. Antar kerajaan Bugis Makassar. Kekacauan inilah yang membuat banyak orang Bugis merantau. Mereka lebih baik merantau daripada dijajah di tanah sendiri.
Salah satu bangsawan Bugis yang merantau adalah Puanna Dekke'. Dia hartawan dari Kerajaan Wajo. Mengarungi laut sampai ke daerah Kaltim. Tapi balik kanan, dan terpaut hatinya di sebuah pesisir di Selat Pulau Laut. Pesisir itulah Pagatan sekarang ini.
Ke sana Puanne Dekke' menambatkan kapalnya. Dia lalu meminta izin kepada Sultan Banjar, Panembahan Batu, untuk membuka kerajaan di sana.
"Baiklah kalau Anda mau mengeluarkan biaya. Karena daerah tersebut merupakan hutan belantara," kata Panembahan Batu seperti ditulis dalam Lontara Kapiten La Mattone.
"Bagaimana nantinya sekiranya kami telah mengeluarkan biaya?," tanya Puanna Dekke'.
"Wariskanlah kepada anak cucu Anda. Tidak ada yang dapat mengganggu gugat," jawab Panembahan Batu.
Usai membuka daerah itu, berdatanganlah keluarganya dari berbagai daerah. Mereka kemudian menjemput La Pangewa dari Sulawesi. "Saat itu dia baru berusia lima belas tahun," kata keturunan Raja Pagatan, Andi Satria Jaya.
La Pengewa merupakan Raja Pagatan pertama. Gelarnya Kapiten Laut Pulo. Walau gelar itu diberi oleh Sultan Banjar, tapi kerajaan ini menjalankan roda pemerintahannya sendiri dengan hukum adat Bugis.
Lama kelamaan orang-orang Bugis semakin banyak datang. Selain di Tanah Bumbu mereka juga mengisi daerah-daerah subur di pesisir Pulau Laut.
Tradisi kerajaan Bugis di Pagatan lekat dengan nuansa Islam. Salah satunya adalah Masukkiri, pembacaan sair maulid Nabi dengan bahasa Bugis.
Keberhasilan Bugis dalam merantau salah satunya karena falsafah hidup mereka yang diajarkan turun temurun. Falsafah itu tergambar dalam La Galigo.
Tallu Cappa' atau tiga ujung merupakan bekal bagi Bugis dalam merantau. Cappa' atau ujung pertama adalah cappa' ila' yang artinya ujung lidah. Bermakna kemampuan Bugis dalam berdiplomasi menguasai sebuah wilayah.
Ke dua adalah cappa' laso, atau ujung kemaluan. Artinya menguasai wilayah dengan cara jalinan kekeluargaan. Seperti mengawini puteri raja. Terakhir adalah cappa' badi' atau ujung badik. Ini adalah cara terakhir, menguasai wilayah dengan senjata.
Ke tiga pegangan itu dipercaya, membuat Bugis cepat berbaur dan terkenal ketika berada di perantauan. Nenek moyang mereka seolah telah mempersiapkan keturunan Bugis menjadi orang-orang perantauan.
Itu terbukti kemudian dengan berdirinya kampung-kampung Bugis hampir semua daerah di nusantara. Kepiawaian mereka dalam mengarungi laut dan berdagang, membuat suku ini mampu membuka wilayah-wilayah baru yang mandiri dari sisi ekonomi. (zal/by/ran) Editor : Arief