Tahulah Pian Budaya Bugis Bone yang ditampilkan dalam puncak Hari Jadi Kotabaru ke-75. Mereka saling menghujamkan badik satu sama lain sambil keduanya terikat dalam sarung.
Saat penampilan Sigajang Laleng Lipa ini, dua aktor yang masing-masing berpakaian adat Bugis ini saling bersahutan. Ada permasalahan.
Karena tidak ada jalan keluarnya, ia menyelesaikannya dengan Sigajang Laleng Lipa, atau saling tikam dalam sarung.
Pertarungan dilakukan dalam lingkaran sarung yang sempit dengan jarak sangat dekat. Mereka mempertaruhkan nyawanya. Menurut kepercayaan, siapapun keluar dengan bernyawa dianggap sebagai pihak yang benar.
Dalam pertarungannya sangat sengit ini badik yang digunakannya bukanlah aksesori semata. Tapi, asli pusaka.
Yang lebih serunya lagi, dalam pertarungan ini juga diiringi dengan musik khas Bugis yaitu gendang dan terompet atau lebih dikenal dengan Pui Pui.
Setelah sengitnya pertarungan, salah satu di antara mereka berdarah dan mati kena tikam di bagian dadanya.
Ketua Pertunjukan asal Bone, Daeng Aswin menceritakan Sigajang Laleng Lipa ini adalah tradisi zaman dulu masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Untuk umurnya juga sudah sangat lama sejak ratusan tahun silam. Sigajang Laleng Lipa menjadi jalan terakhir atau dalam penyelesaian masalah antara dua pihak yang berkonflik jika musyawarah tidak membuahkan hasil.
“Yang paling penting, dari masyarakat Bugis, tradisi ini sangat berkaitan erat ‘Siri’ atau harga diri dan martabat. Kami percaya Sigajang Laleng Lipa menjadi bentuk pertarungan untuk mempertahankan kehormatan dan martabat yang telah terinjak,” ucap Daeng Aswin yang diminta langsung Bupati Kotabaru tampil di Harjad Kotabaru.
Daeng Aswin menjelaskan budaya seperti ini tidak lagi dilaksanakan seperti orang tua dulu yang pernah punya sejarah kelam.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief