Jerebu Menerbangkan Cintaku 

admin • Dipublikasikan Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:26 WIB
ilustrasi
ilustrasi

Cerpen oleh: Fuji Hidjriyati

Subuh yang dingin serta kabut tipis menyergap tubuhku. Biasanya ini pertanda musim kemarau. Musim di mana tanah menjadi gersang, tanaman layu, sumber air mengering. Satu yang paling kutakutkan adalah kebakaran hutan dan lahan. Entahlah sejak banyak hutan dirambah, ekosistem rusak parah. Apalagi hampir semua lahan di Kalimantan merupakan tanah gambut. Tanah yang mudah terbakar jika matahati bersinat sangat terik. Tanah di mana aku dan suamiku dilahirkan. Tempat di mana alam menyediakan semua yang kami butuhkan. Buah-buahan dan sayuran hutan. Pampakin, limpasu, maritam, kelakai, rotan dan lainnya. Juga berbagai jenis ikan air tawar yang hidup di Sungai. Ada biawan, haruan, baung, kelabau. Bagiku, tanah Kalimantan Adalah surga. Apa yang ditanam bisa tumbuh jika kita merawatan menjaganya.

Sifat fisik tanah gambut memiliki kandungan organik tinggi karena terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan seperti kayu, akar dan serasah yang membusuk tidak sempurna. Kapasitas menyimpan airnya besar. Berfungsi seperti spons raksasa yang mampu menyerap dan menahan air dalam jumlah tinggi. Strukturnya lunak dan mudah amblas. Memiliki bobot isi yang ringan dan terasa longgar atau empuk saat dipijak. Warna air gelap dan cenderung berwarna cokelat kehitaman. Selain itu Tingkat keasaman tinggi. Tingkat pH tanah sangat masam, umumnya di bawah 4. Miskin unsur hara. Kandungan unsur hara makro dan mikro bagi tanaman relatif rendah. Air di sekitar lahan gambut seringkali merah kecokelatan atau seperti teh pekat akibat larutan asam organik dan tanin.

Apa pun itu, tanah Kalimantan adalah cinta pertamaku. Di sana ada kasih dan sayang sepanjang waktu.

***

“Ding, Kaka berangkat dulu, ya.” Suamiku selalu pamitan untuk berangkat kerja.

“Iya, Ka. Hati-hati di jalan! Bekalnya nanti dimakan, ya! Kaka tak boleh terlambat makan!” seperti biasa aku mengingatkan suamiku.

“Pastilah bekal yang disiapkan istriku akan kumakan. Kalau tidak, aku pasti kelaparan. Kamu juga baik- baik di rumah. Bawa hati dengan riang! Kamu bisa pergi ke rumah mama kalau kesepian. Atau pergi Bersama teman sekolahmu. Bahagiamu bahagiaku juga ” Sahut suamiku sambil mengecup keningku.

Kami berpelukan. Seperti itulah ritual mesra yang kami lakukan.

***

“Perbanyak minum air putih ya, Bu!”Banyak warga sini terserang ISPA. Obatnya minum setelah makan. 3 Kali sehari. Cepat sembuh Kembali!” Perawat di puskesmas dengan telaten melayani pasien. 

Ternyata warga di kampungku juga banyak terserang penyakit sepertiku. Batuk, sesak dada. Hidung berair dan mata perih. Sudah hampir setengah bulan, kebakaran hutan bertambah parah. Api membumbung tinggi. Membakar hutan dan lahan begitu cepat. Ke mana kami harus mengadu? Kami selalu menderita setiap tahun. Kebanjiran di musim hujan. Kebakaran hutan fan lahan di musim kemarau.

***

Aku bangga pada profesi suamiku. Dia salah satu karyawan Manggala Agni. Meski gajinya tak seberapa, semua keperluan hidup tercukupi. Kehidupan kami sederhana. Tinggal di suatu kampung yang dekat dengan hutan. Banyak pohon besar di sekeliling kampung kami. Pohon durian, pohon rambutan, pohon kasturi dan berbagai pohon khas Kalimantan lainnya. Air Sungai di belakang rumah kami sangat jernih. Mungkin karena daerah dataran tinggi dan dekat pegunungan. Menurutku, rumah kami laksana surga. Gemercik air yang selalu kudengar. Gesekan daun dan reranting yang dihembus angin membuatku seperti hidup yang sesungguhnya. Aku tak ingin yang lain. Sudah ada surga di rumahku. Bersama suamiku, keluargaku dan tetanggaku yang sangat baik. Siapa pun pasti ingin hidup seperti itu. Sederhana tetapi membuat batin terasa sejuk.

“Ding, Mungkin Kakak akan sering tak berada di rumah. Kabut asap semakin pekat. Tenaga kami dan relawan lainnya sangat diperlukan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan.” Suamiku menggenggam jemariku setelah kami makan malam.

“Tak apa, Kak. Ading tahu Risiko pekerjaan Kakak. Selama Kakak Ikhlas nekerja, semuanya akan terasa mudah. Kakak dan teman-teman diperlukan tenaganya di lapangan. Yang penting Kakak jaga Kesehatan. Jaga makan dan sholat!”pintaku pada suami.

“Iya Kakak dan teman-teman Ikhlas bekerja. Semua untuk melindungi hutan dan lahan. Menjaga manusia, hewan dan tumbuhan. Hutan, lahan, gunung dan Sungai Adalah nadi kehidupan kita. Kita bertumbuh bersamanya.”Suamiku menenangkan jiwaku.

“Kak… terkadang adding bingung. Kenapa orang membakar hutan dan lahan? Apakah mereka tak peduli pada lingkungan? Mengapa mereka tak peduli penderitaan orang lain?”Menyiksa orang sulit bernapas, menyiksa hewan yang bergantung pada pepohonan, menyiksa pepohonan itu sendiri? Apakah mereka tak tahu Tumbuhan juga selalu berdzikir pada Sang Maha? Hewan mungkin juga berdoa. Kenapa manusia kejam merenggut kehidupan mereka? Ading sedih memikirkannya.” Aku mengadu pada suamiku. Sesak terasa di dada.

“Kamu jangan terlalu banyak pikiran! Jaga calon anak kita! Kamu harus melihat yang baik-baik saja! Menonton film India, menyanyikan lagunya, jogetnya atau melihat wajah Bintang idolamu. Kulihat kamu selalu Bahagia karenanya. Aku ingin kamu selalu seperti itu, Kamu tidak boleh bersedih!Kamu harus selalu bahagia bersamaku!” Suamiku memandang wajahku dengan lekat. Memelukku begitu erat. Begitu juga aku. Seolah kami tak ingin berpisah. Tuhan… betapa besar anugerah yang Kau berikan pada kami.

***

Sudah 3 hari aku tak melihat wajah suamiku. Dia memang mengatakan aku harus sabar menunggunya. Kabut memang semakin pekat. Jarak pandang terhambat. Luar biasa. Luar biasa kebajaran hutan lahan kali ini. Entahlah ada keanehan yang aku rasakan. Semakin aku sholat, semakin aku mengaji, wajah suamiku selalu terlihat.

“Sabar dan serahkan semuanya pada Allah. Dia tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.” Ibuku menepuk punggungku saat aku terisak merindukan suamiku.

***

Aku berusaha tegar. Kutahan airmata yang selama tiga hari hari ini sudah tercurah. Aku melihat tanah yang menutup wajah suamiku. Semakin lama semakin hilang dalam pandangan. Kini hanya onggokan tanah basah di depanku. Batu nisan itu bertuliskan nama suamiku. Kupegang dengan penuh rasa tercekat. Ah….ada sesuatu yang hilang. Terasa hampa. Bagai oase kering di Tengah gurun

***

Kupandangi mesin pompa air, garu tajam, garu pacul, mesin pemadam jinjing, pompa punggung, jet sprinkle, cairan surfaktan, penyuntik memadamkan bara api di tanah gambut serta selang ekstensi. Juga baju dan Sepatu boot yang sering digunakan suamiku saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Rasanya baru kemarin suamiku mengecup keningku. Pelukan terakhir yang begitu hangat kurasakan. Kupandangi potretnya dengan wajah yang menyejukkan kalbu. Aku sekarang benci melihat jerebu. Jerebu yang beterbangan. Seperti cintaku yang dibawanya. Jauh ke langit.

 

***

Penulis: 

Fuji Hidjriyati, M.Pd, cerpenis yang mengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin.  Lahir di Banjarmasin, 22 September 1997. Ia memiliki ketertarikan besar pada dunia literasi, khususnya membaca dan menulis. Kecintaannya terhadap sastra telah membawanya meraih sejumlah prestasi sejak usia muda, di antaranya Juara 2 Lomba Menulis Cerita Pendek Tingkat SMA tahun 2001 dan 2002, Juara 3 Pendidikan dan Pelatihan Membaca, Menulis, Apresiasi Sastra tahun 2003, Juara Harapan 3 Sayembara Naskah Cerita Rakyat Khas Kalimantan Selatan tahun 2003, serta penghargaan untuk naskah cerpen “Parang Maya” dari Depdiknas Jakarta pada 2004.

Editor : Arief M
cerpen