Hasilkan 11 Lagu Banjar, Anang Marendra Bayu Menjaga Budaya Lewat Lirik dan Nada

Jumain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 13:28 WIB
SENIMAN: Anang Marendra Bayu seniman Banjarmasin yang sekarang berkiprah di Kotabaru.
SENIMAN: Anang Marendra Bayu seniman Banjarmasin yang sekarang berkiprah di Kotabaru.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, KOTABARU – Melestarikan budaya Banjar tak selalu harus dilakukan di atas panggung. Bagi Anang Marendra Bayu, warisan budaya juga bisa dijaga lewat lirik, nada, dan cerita yang dituangkan dalam sebuah lagu.

Seniman asal Banjarmasin yang kini berkiprah di Kotabaru itu konsisten menciptakan lagu-lagu Banjar. Karyanya mengangkat kehidupan masyarakat, tradisi, nasihat, hingga nilai-nilai budaya Banjar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Anang lahir di Banjarmasin, 18 Agustus 1975. Kecintaannya terhadap dunia seni tumbuh sejak remaja. Pada 1993, saat masih duduk di bangku SMA, ia mulai bersentuhan dengan lingkungan Taman Budaya.

Dari Tari, Teater hingga Musik Tradisional

Sejak saat itu, pintu dunia kesenian terbuka lebar baginya. Anang tidak hanya menekuni satu bidang seni, tetapi mencoba berbagai bentuk kesenian yang kemudian membentuk karakter dan perjalanan kreatifnya.

Seni tari, teater, hingga musik tradisional pernah digelutinya. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam melahirkan berbagai karya.

Menurut Anang, perjalanan panjang di dunia kesenian turut membentuk cara pandangnya dalam berkarya.

“Pengalaman hidup yang lekat dengan dunia kesenian adalah sumber inspirasi abadi dalam menjalani hari-hari sebagai seorang seniman,” kata Anang, Senin (21/9/2026).

Bagi Anang, seni bukan sekadar hobi ataupun profesi. Kesenian telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang terus menuntunnya menghasilkan karya.

Berada di berbagai ruang kesenian membuatnya memahami bahwa budaya tidak hanya perlu dipertunjukkan, tetapi juga perlu diceritakan dan diwariskan.

Salah satu jalannya adalah melalui lagu.

Tak Mengejar Popularitas, Memilih Menjadi Pencipta

Perjalanan panjang di dunia seni tidak lantas membuat Anang mengejar popularitas. Ia justru lebih nyaman berada di balik layar sebagai pencipta lagu.

Baginya, ada kepuasan tersendiri ketika sebuah karya dapat dinikmati banyak orang, meski tidak banyak yang mengetahui sosok di balik lagu tersebut.

“Bagi saya, karya itu yang penting bisa dinikmati orang. Tidak harus orang tahu siapa penciptanya. Ada kenikmatan sendiri ketika karya kita bisa diterima,” ujarnya.

Sikap itu membuat Anang lebih memilih berbicara melalui karya. Baginya, sebuah lagu yang sampai kepada pendengar memiliki arti lebih penting daripada sekadar nama penciptanya dikenal luas.

Lirik Lagu Jadi Jalan Mengenalkan Budaya Banjar

Di kalangan sesama seniman, karya Anang Marendra Bayu dikenal memiliki warna yang kuat. Ia disebut mewarisi gaya almarhum Anang Ardiansyah, pencipta lagu Banjar legendaris Paris Barantai.

Kesamaan tersebut salah satunya terlihat dari penggunaan pantun dalam sejumlah karyanya.

Lirik yang dibuat Anang tidak sekadar mengejar keindahan bunyi. Ia berusaha memasukkan cerita tentang kehidupan masyarakat, nasihat, hubungan antarmanusia, tradisi, hingga gambaran sejarah Banjar.

Setiap lagu menjadi semacam cerita yang dapat membawa pendengar mengenal kehidupan masyarakat Banjar melalui bahasa yang dekat dengan keseharian.

Karena itu, ketika mendengarkan lagu-lagunya, pendengar tidak hanya menikmati musik. Ada gambaran tentang Banjar yang coba dihadirkan melalui lirik.

“Intinya, kalau orang mendengarkan lagu saya, sedikit banyak mereka bisa tahu dan tergambar bagaimana budaya Banjar itu,” katanya.

Puluhan Cerita Banjar dalam Sebuah Karya

Konsistensi Anang dalam menciptakan lagu Banjar terlihat dari sejumlah karya yang telah dibuatnya.

Di antaranya Anakku Sayang, Baingat Diri, Karasmin Banua, Nanang Galuh, Si Palamutan, Jalujur Kasih, dan Raja Mamanda.

Kemudian Carita Kawan, Hambar Kuluman, Parigal Su Anang, serta Pituah Babustan Tujuh.

Tidak seluruh karyanya menggunakan warna musik Banjar. Ada pula Surga Tuk Ayah Ibu yang dikemas dalam nuansa dangdut akustik dan Hasrat Tercerai Tanpa Wujud dengan warna pop Melayu.

Meski memiliki warna musik yang beragam, karya-karya tersebut tetap menjadi bagian dari perjalanan panjang Anang dalam mengekspresikan diri melalui musik.

Karya-karya lagu Banjar Anang Marendra Bayu dapat ditemukan melalui kanal YouTube pribadinya.

Menyimpan Cerita Banjar untuk Generasi Berikutnya

Di tengah perkembangan musik modern dan semakin beragamnya pilihan hiburan, Anang memilih jalan yang mungkin tidak selalu mendatangkan popularitas.

Ia tetap menulis, menciptakan, dan menyimpan cerita Banjar dalam bentuk lagu.

Baginya, karya bukan sekadar bunyi yang didengar hari ini. Lagu juga bisa menjadi cara untuk membawa cerita budaya melewati zaman.

“Intinya, selama masih ada karya yang bisa didengar dan cerita budaya yang dapat disampaikan kepada generasi berikutnya, maka ada bagian dari budaya Banjar yang tetap hidup,” tutupnya.

 

Editor : Eddy Hardiyanto
Lirik nada Budaya Banjar