Arkais Festival 2026 Digelar di Banjarmasin, Menelusuri Jejak Mas Husaini Maratus Lewat Sastra

Zulqarnain Radar Banjarmasin • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 11:15 WIB

 

FESTIVAL SASTRA: Arkais Festival 2026 di Banjarmasin mengangkat kisah perjuangan dan sosok Mas Husaini Maratus lewat sastra.
FESTIVAL SASTRA: Arkais Festival 2026 di Banjarmasin mengangkat kisah perjuangan dan sosok Mas Husaini Maratus lewat sastra.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BATULICIN – Cerita perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari Kalimantan Selatan akan dihidupkan kembali melalui karya sastra.

Komunitas Arkalitera bakal menggelar Arkais Festival 2026 pada 28–30 September 2026 di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin.

Mengusung tema “Mardahika, 1945-1950: Merawat Ingatan, Menulis Kepahlawanan”, festival ini menjadi bagian dari Program Penguatan Komunitas Sastra Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.

Arkais Festival menghadirkan ruang pertemuan bagi pegiat sastra dan kebudayaan melalui beragam kegiatan. Mulai diskusi, pembacaan karya, pelatihan, hingga proses penciptaan sastra.

Menghidupkan Kembali Cerita dari Kalimantan Selatan

Founder Arkalitera, Rafii Syihab, mengatakan Arkais Festival berangkat dari keinginan untuk mengenal kembali cerita, tokoh, serta karya yang berkaitan dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Menurutnya, penelusuran tersebut dilakukan dengan melihat sejarah dari sudut pandang lokal, termasuk tokoh-tokoh yang selama ini belum banyak dibicarakan.

Salah satu sosok yang menjadi titik berangkat festival adalah Mas Husaini Maratus, sastrawan, pejuang kemerdekaan, wartawan, sekaligus guru asal Kalimantan Selatan.

“Salah satu titik berangkatnya adalah penelusuran kembali sosok dan karya Mas Husaini Maratus, sastrawan, pejuang kemerdekaan, wartawan, dan guru dari Kalimantan Selatan,” ungkap Rafii di Batulicin, Selasa (15/9/2026).

Bagi Arkalitera, sastra tidak hanya menjadi ruang untuk menghasilkan karya. Sastra juga dapat menjadi cara untuk merawat ingatan sejarah dan memperkenalkan kembali kisah perjuangan kepada generasi hari ini.

Buka Ruang Kolaborasi Antarkomunitas

Arkais Festival 2026 juga tidak hanya diperuntukkan bagi pegiat sastra.

Festival tersebut membuka ruang kolaborasi bagi komunitas untuk memperkenalkan aktivitas dan karya mereka. Komunitas dapat berpartisipasi melalui lapak buku atau lapak baca, pameran karya, pengenalan produk komunitas, pembacaan karya, hingga aktivitas literasi dan kesenian lainnya.

Rafii berharap festival tersebut dapat menjadi ruang pertemuan yang mempertemukan berbagai komunitas di Kalimantan Selatan.

“Kami berharap ruang ini tidak hanya menjadi tempat untuk memperkenalkan komunitas, tetapi juga menjadi ruang bertemu, bertukar karya, dan memperluas jejaring antarkomunitas sastra dan kebudayaan di Kalimantan Selatan,” katanya.

Kementerian Kebudayaan Dorong Komunitas Sastra

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengatakan, komunitas sastra di berbagai daerah memiliki peran penting dalam menggerakkan ekosistem sastra Indonesia.

Menurutnya, komunitas bukan hanya menjadi penghubung antara karya dan pembaca, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi penulis muda serta tempat berkembangnya beragam wacana sastra.

Karena itu, Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat ekosistem sastra dengan mendorong komunitas di berbagai daerah untuk terus tumbuh dan berkembang mengikuti perubahan zaman.

“Dengan demikian, sastra sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan bisa berperan optimal sebagai sarana mencerdaskan bangsa,” ujarnya.

Melalui Arkais Festival 2026, sejarah perjuangan dari Kalimantan Selatan tidak hanya diingat sebagai catatan masa lalu. Cerita, tokoh, dan karya masa itu coba dihadirkan kembali melalui bahasa sastra agar tetap hidup dan menemukan pembacanya di masa kini.

 

Editor : Eddy Hardiyanto
banjarmasin sastra festival