CERPEN: Muhamad Yusuf
Aku baru ditugaskan di sebuah desa kecil di tepian Sungai Barito. Desa itu tenang, seolah waktu berjalan lebih lambat dibandingkan kota. Setiap hari aku mengajar di sekolah dasar yang hanya memiliki beberapa ruang kelas. Lalu, sore hari kembali ke rumah kontrakan sederhana yang menghadap jalan setapak menuju sungai. Rumah kecil itu berdampingan dengan sebuah gubuk kayu tua yang nyaris roboh. Tak pernah kulihat tamu datang atau suara tawa dari sana. Hanya kesunyian yang menetap seperti penghuni tetapnya.
Baru beberapa hari tinggal di desa itu, aku mulai mengenal perempuan tua yang tinggal seorang diri di gubuk itu. Warga memanggilnya Nini Imah. Setiap senja, ia duduk di ambang pintu dengan pandangan tak pernah lepas dari Sungai Barito, seolah sedang menunggu seseorang yang terlambat pulang. Mula-mula kukira ia hanya menikmati pemandangan sore. Namun, semakin lama aku memperhatikannya, semakin kusadari bahwa tatapan itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan penantian yang telah berlangsung begitu lama hingga menjadi bagian dari hidupnya. Dari para tetangga, perlahan aku mengetahui kisah yang membuat dadaku sesak.
Seperti biasa di senja ini, kulihat Nini Imah duduk bersimpuh di depan pintu rumah kayunya. Wajahnya yang penuh keriput tertutup bedak putih tradisional yang selalu dipakainya sejak muda. Rambutnya disanggul sederhana, sementara kedua tangannya bertumpu di pangkuan. Begitulah Nini Imah.
Dari ambang pintu itu, pandangannya lurus mengarah ke Sungai Barito yang mengalir tenang. Cahaya matahari yang mulai tenggelam memantulkan semburat jingga di permukaan air. Angin sore berembus lembut, menggoyangkan dedaunan dan membawa aroma sungai yang akrab baginya. Di tengah suara riak air dan desir angin, kesunyian terasa begitu dekat, menjadi teman setia yang menemani hari-harinya.
Setiap kapal dan perahu yang melintas selalu disambut tatapan penuh harap. Mata Nini Imah mengikuti setiap gerakannya hingga menghilang di tikungan sungai. Dalam hatinya terselip doa yang sama, semoga ada yang menepi dan membawa kabar tentang lelaki yang telah lama menghilang dari hidupnya. Betapa panjang penantian itu, seakan tak mengenal batas waktu.
Tahun demi tahun berlalu tanpa pernah memberinya jawaban. Musim hujan datang membawa air sungai yang meluap, lalu berganti kemarau yang menyisakan asap di lahan gambut yang kering, tetapi suaminya tak juga pulang. Rambut Nini Imah yang dahulu hitam kini memutih, wajahnya semakin dipenuhi keriput, sementara harapan yang disimpannya tetap hidup, seteguh arus Sungai Barito yang tak pernah berhenti mengalir.
Sejak hari suaminya hilang ditelan arus Sungai Barito, hidup Nini Imah seakan berhenti di tepi sungai. Ia menyerahkan seluruh harapan kepada aliran air yang tak pernah lelah mengembara. Setiap senja, langkahnya selalu kembali ke tempat yang sama, seolah di sanalah waktu terakhir kali mempertemukannya dengan lelaki yang dicintainya.
Nini Imah tak pernah menyalahkan Sungai Barito. Baginya, sungai bukan perampas, melainkan penjaga rahasia. Kepada riak-riaknya ia menitipkan harapan yang sama selama puluhan tahun. "Kalau kau tahu di mana suamiku, cukup berikan aku satu tanda," bisiknya lirih. Namun, yang menjawab hanya desir angin dan gemericik air yang terus mengalir menjinjing diam.
Berpuluh-puluh tahun, sebelum kesedihan menjadi bagian dari hidupnya, Nini Imah muda adalah kembang desa. Parasnya ayu dengan kulit kuning langsat, sementara tutur katanya lembut dan penuh santun. Senyumnya mampu membuat siapa pun merasa teduh. Tak heran, banyak pemuda yang diam-diam berharap dapat mempersunting gadis yang menjadi kebanggaan kampung itu.
Hingga pada suatu hari datang seorang saudagar muda dari Hulu Sungai bernama Aziz. Perawakannya gagah, tutur katanya sopan, dan namanya telah dikenal sebagai pedagang yang berhasil menguasai pasar di pesisir Sungai Barito hingga ke berbagai daerah tetangga. Tanpa berlama-lama, Aziz menyampaikan niatnya untuk melamar Imah.
Lamaran itu diterima dengan penuh sukacita oleh ibunya Imah. Hari pernikahan mereka pun menjadi peristiwa besar yang patut dikenang. Para tamu berdatangan dari berbagai pelosok kampung, bahkan dari desa-desa terdekat yang dihubungkan oleh aliran Sungai Barito. Kemeriahan itu bukan hanya karena kecantikan mempelai perempuan, tetapi juga karena nama Aziz yang telah masyhur sebagai saudagar muda yang sukses dan disegani.
Sesuai harapan mereka, Aziz dan Imah membangun sebuah rumah panggung yang cukup besar di tepian Sungai Barito. Tiang-tiangnya terbuat dari kayu ulin yang kokoh, menghadap langsung ke sungai yang menjadi urat nadi kehidupan. Dari beranda rumah itulah mereka memulai hari dengan harapan-harapan baru, menyambut matahari terbit dan melepas senja bersama.
Hari, minggu, dan bulan pertama, pernikahan mereka dipenuhi canda, tawa, dan kasih sayang. Aziz semakin giat berdagang, sedangkan Imah dengan telaten mengurus rumah sembari menanti kepulangan suaminya setiap dua hari sekali. Siapa pun yang melihat mereka selalu berkata bahwa pasangan itu bagaikan dua hati yang ditakdirkan untuk saling menjaga hingga rambut memutih. Tak seorang pun menyangkal, kebahagiaan mereka begitu sempurna.
Namun, takdir ternyata menulis kisah yang berbeda. Seperti pagi sebelumnya, Aziz berpamitan untuk menakhodai kapal dagangnya menyusuri pedalaman Sungai Barito. Di beranda rumah panggung, Imah mengantar kepergian suaminya dengan senyum dan lambaian tangan, tanpa sedikit pun menyangka bahwa itulah perjumpaan terakhir mereka. Hari itu, Senin, 14 Maret 1979, menjadi tanggal yang tak pernah bisa dihapus dari ingatannya.
Tiga hari kemudian, kabar yang memadamkan seluruh cahaya dalam hidup Imah datang bersama wajah-wajah muram para pelayar. Kapal dagang yang dinakhodai Aziz dikabarkan karam setelah diterjang arus deras. Dua orang anak buah kapal berhasil menyelamatkan diri, tetapi Aziz lenyap tanpa jejak. Sejak hari itu, tak pernah ada kepastian tentang nasib suaminyanya. Tubuhnya tak ditemukan, namanya tak pernah dipastikan meninggal, dan harapan Imah pun terjebak di antara penantian dan kehilangan yang tak berkesudahan. Tak seorang pun menyangka, mereka dipisahkan oleh Sungai Barito yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.
Semenjak peristiwa itu, Imah menjalani hari-harinya sebagai seorang janda muda tanpa kepastian. Ia tidak pernah melihat jasad suaminya. Ia tidak pernah mendengar kabar yang benar-benar meyakinkannya, bahkan tidak memiliki sebuah makam untuk diziarahi. Selama secercah harapan masih tersisa, ia percaya Aziz masih menunggu untuk ditemukan. Karena keyakinan itulah, Imah tak pernah berhenti mencari jejak lelaki yang dicintainya.
Ia kerap mendatangi kapal dagang yang singgah di setiap dermaga pasar di Sungai Barito. Ia mengunjungi dermaga demi dermaga, berbincang dengan para nakhoda, nelayan, dan pedagang yang mungkin pernah mendengar nama Aziz. Namun, setiap perjalanan itu selalu berakhir dengan jawaban yang sama, tidak ada yang tahu.
Begitulah hidup Imah berlalu dari tahun ke tahun. Ia terus mencari, terus menanti, dan memelihara rindu yang tak pernah usai, hingga penantian itu menjelma menjadi seluruh hidupnya. Harapan juga membawanya menyusuri perjalanan hingga ke Hulu Sungai, tempat keluarga Aziz berasal. Dengan langkah yang dipenuhi kegelisahan, Imah berharap ada secercah kabar yang belum pernah didengarnya. Ia menemui satu per satu keluarga suaminya, menanyakan apakah Aziz pernah pulang atau mengirim pesan. Namun, jawaban yang diterimanya hanya gelengan kepala.
Yang lebih menyakitkan, sebagian dari keluarga suaminya mulai mencari kambing hitam atas musibah itu. Bisik-bisik yang semula hanya terdengar pelan berubah menjadi tudingan yang melukai hati. Imah disebut perempuan pembawa sial. Mereka menganggap Aziz ditimpa petaka karena menikah dengannya. Bahkan, asal-usul Imah kembali diungkit. Imah dilahirkan oleh seorang ibu yang membesarkannya seorang diri tanpa suami, sehingga sebagian orang dengan kejam melabelinya sebagai anak tanpa ayah. Tuduhan-tuduhan itu menorehkan luka yang sama penantian yang selama ini dipikulnya.
***
Empat puluh tujuh tahun berlalu, tetapi penantian itu tak pernah benar-benar usai. Setiap selesai menunaikan salat, Nini Imah selalu menengadahkan tangan. Air matanya menetes tanpa suara. "Ya Allah, jika Aziz masih hidup, pertemukanlah kami. Jika ia telah Engkau panggil, izinkan aku mengetahui tempat peristirahatan terakhirnya sebelum Engkau memanggilku," bisiknya lirih. Itulah doa yang tak pernah berubah, dipanjatkannya berulang kali sepanjang puluhan tahun.
Waktu perlahan menggerogoti segala yang pernah mereka bangun bersama. Rumah panggung yang dahulu besar dan megah tak tampak lagi. Sedikit demi sedikit, tanah warisan dan bagian rumah itu terpaksa dijual untuk menyambung hidup. Tiang-tiang kayu yang dahulu kokoh menghilang satu per satu, berganti dinding yang lapuk dan atap yang bocor. Namun, di tengah kemiskinan yang mengikis segalanya, satu hal tetap utuh dalam diri Nini Imah: cinta dan harapannya kepada Aziz yang tak pernah ikut lapuk dimakan usia.
Pagi ini, aku berniat berlari kecil menyusuri jalan di tepian Sungai Barito. Matahari baru saja menyembul dari balik pepohonan, sementara embun masih menggantung di ujung-ujung rumput. Namun, ketika kubuka pintu, aku dikejutkan oleh sosok yang berdiri tepat di depan pintu rumah kontrakanku. Nini Imah tampak berpegangan pada kusen kayu agar tubuhnya yang renta tidak kehilangan keseimbangan. Senyumnya tetap mengembang, tetapi napasnya terdengar berat dan kedua kakinya sedikit gemetar.
Aku segera mempersilahkannya duduk di kursi teras. Setelah beberapa saat mengatur napas, perempuan tua itu menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi harap. "Bisakah aku minta bantuanmu?" tanyanya lirih, nyaris berbisik. Tanpa mengetahui apa yang akan dimintanya, aku langsung mengangguk berkali-kali. Ada sesuatu dalam tatapan Nini Imah yang membuatku yakin, permintaan itu bukan sekadar meminta tolong.
Aku terdiam beberapa saat. Kalimat yang baru saja keluar dari bibir Nini Imah membuat pikiranku seperti berhenti bekerja.
"Tolong berikan arloji ini kepada suamiku yang sekarang tinggal di Kampung Melayu bersama istrinya."
Aku terhenyak. Dadaku berdegup lebih cepat. Bukankah selama ini seluruh warga desa meyakini Aziz hilang ditelan arus Sungai Barito? Bukankah setiap senja Nini Imah menunggu seseorang yang tak pernah kembali? Aku menatap wajahnya, berharap itu hanya ucapan yang lahir dari ingatan yang mulai rapuh. Namun, sorot matanya begitu tenang, seolah sedang menyampaikan sebuah kenyataan yang telah lama disimpannya seorang diri.
Dengan suara pelan, Nini Imah melanjutkan, "Tak seorang pun di desa ini tahu. Aziz tidak meninggal. Ia masih hidup. Kata pedagang yang pernah kudatangi, Aziz sudah punya dua orang cucu."
Jantungku seakan berhenti sesaat. Selama puluhan tahun, perempuan tua itu tetap duduk di tepi Sungai Barito menunggu lelaki yang ternyata masih bernapas di tempat lain. Lebih mengejutkan lagi, ia mengucapkannya tanpa kemarahan, tanpa kebencian. Yang tersisa di wajahnya hanyalah kelelahan panjang dan kerinduan mengkristal.
Perlahan, Nini Imah mengelus arloji perak itu dengan ujung jarinya yang keriput. "Arloji ini sudah lama mati, tepat ketika aku mengetahui Aziz masih hidup dan menikah dengan perempuan lain. meninggalkanku. Aku tak pernah memperbaiki arloji ini. Biarlah ia berhenti berdetak bersama hari ketika aku memulai untuk melupakannya," ucapnya lirih. Ia menghela napas panjang, lalu menyodorkan arloji itu kepadaku. "Tak ada gunanya lagi aku menyimpannya. Tolong berikan kepadanya.
Jemariku menerima arloji itu dengan gemetar. Nini Imah tersenyum tipis, senyum yang tidak lagi menyimpan harapan untuk dipertemukan, melainkan keikhlasan yang lahir setelah bertahun-tahun berdamai dengan luka. "Aku tidak lagi menunggunya pulang," katanya pelan sambil memandang gumpalan awan. "Aku hanya menunggu Allah memanggilku."
Nini Imah akhirnya memilih berhenti mencari lelaki yang telah mengubur dirinya dalam kebohongan. Aziz, baginya, bukanlah pria sejati. Seandainya ia memang ingin mengakhiri kisah mereka, ia hanya perlu datang sekali saja untuk mengatakan bahwa hatinya telah berpaling. Namun, Aziz memilih menghilang, menikah lagi, dan membiarkan seorang perempuan memikul rindu yang tak pernah diberi jawaban selama hampir setengah abad.
Ketika matahari mulai meninggi, Nini Imah bangkit perlahan meninggalkan terasku. Langkahnya tertatih, tetapi tampak lebih ringan daripada sebelumnya, seolah telah meletakkan beban yang selama ini dipikul seorang diri. Aku memandang punggungnya hingga menghilang di balik jalan setapak menuju rumah kayunya. Di tanganku, arloji yang telah lama berhenti berdetak terasa begitu berat. Barangkali waktu memang dapat berhenti pada sebuah benda, tetapi tidak pada luka yang ditinggalkan oleh seseorang yang pergi tanpa penjelasan. Hari itu aku mengerti, ada rindu yang tidak berakhir karena kematian, melainkan karena kepengecutan seseorang yang meninggalkan cinta tanpa kata perpisahan. Rindu semacam ini benar-benar dapat berumur seumur hidup.
****
Tentang Penulis
Muhamad Yusuf, seorang cerpenis yang mengajar di SMA Negeri 1 Banjarmasin
Editor : Arief M