Cahaya yang Terlambat

admin • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 16:27 WIB
ilustrasi
ilustrasi

CERPEN Oleh: Kunadi S

Listrik padam tepat ketika azan Isya belum selesai mengambang di antara gedung-gedung. Bukan sekadar lampu di gudang yang mati, melainkan seluruh kota seperti kehilangan urat nadinya. Deretan jendela apartemen yang biasanya menyala bagai papan catur tiba-tiba menjadi bidang hitam.

        ****

Klakson bersahutan dari jalan raya yang tak jauh dari kawasan pergudangan. Dari kejauhan terdengar kereta berhenti mendadak, disusul lengking rem yang panjang seperti keluhan seseorang yang terlambat menyadari usianya sendiri.

Pak Wiryo mengangkat kepala dari bangku kayu tempat ia biasa menyeduh teh setiap malam.

Ia sudah enam belas tahun menjaga gudang tua itu.

Gudang tersebut pernah menjadi tempat menyimpan karung-karung beras impor, lalu suku cadang mesin, kemudian bertahun-tahun hanya diisi rak-rak besi kosong yang berkarat. Pemiliknya tinggal di luar negeri. Sesekali ada truk datang mengangkut barang yang entah apa. Selebihnya, yang menetap di sana hanya debu, tikus, laba-laba, dan Pak Wiryo.

Ia hafal setiap bunyi bangunan itu.

Atap seng yang mengembang saat siang.

Kayu tua yang mengerang ketika udara lembap.

Tetes air dari pipa bocor yang jatuh dengan irama nyaris sama setiap malam.

Kesunyian, pikirnya, juga memiliki logat.

Ia meraba saku kemeja, menemukan korek api gas berwarna hijau kusam. Sekali tekan.

Cetik.

Api kecil menyala, memantulkan cahaya kekuningan pada telapak tangannya yang dipenuhi urat. Cahaya itu hanya cukup untuk memperlihatkan wajahnya sendiri dalam kilasan singkat di kaca jendela yang buram—seorang lelaki tua dengan rambut memutih yang tampak lebih asing daripada bayangannya.

Api padam.

Gudang kembali menjadi rongga hitam.

Di luar, suara orang-orang berlari mulai terdengar.

Mula-mula hanya beberapa langkah.

Lalu puluhan.

Lalu teriakan.

Sulit dibedakan apakah mereka sedang mengejar seseorang atau sedang dikejar sesuatu. Kota besar sering kali tidak membutuhkan alasan untuk gaduh. Ia hanya membutuhkan kesempatan.

Pak Wiryo baru hendak menyalakan korek lagi ketika pintu besi gudang digedor keras.

Brang!

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

"Pak... buka...!"

Suara laki-laki muda.

Serak.

Terengah.

Pak Wiryo tidak segera bergerak.

Bekerja sendirian terlalu lama membuat seseorang belajar membedakan berbagai jenis ketukan. Ada ketukan kurir. Ada ketukan polisi. Ada ketukan pencuri yang berpura-pura panik. Ada pula ketukan orang yang benar-benar ketakutan.

Yang ini terdengar seperti yang terakhir.

Ia membuka sedikit selot pintu.

Seketika sebuah tubuh menyelinap masuk.

Pintu ditutup kembali.

Mereka kini sama-sama berada dalam gelap.

"Jangan nyalakan lampu..." kata suara itu terburu-buru, sebelum menyadari bahwa seluruh kota memang sedang tanpa listrik.

Pak Wiryo tersenyum tipis dalam gelap.

"Lampunya memang sedang tidak bisa diajak bekerja."

Tak ada jawaban.

Yang terdengar hanya napas berat.

Dan bau logam.

Bau darah.

"Kamu luka?"

Hening beberapa detik.

"Lumayan."

"Lumayan itu sedikit atau banyak?"

"Tidak tahu."

Pak Wiryo menyalakan korek.

Api kecil itu memperlihatkan wajah seorang pemuda sekitar dua puluh tahunan. Pelipisnya lecet. Lengan kirinya robek. Darah membasahi ujung lengan jaket.

Mata mereka sempat bertemu.

Lalu api padam.

"Ada kotak obat," kata Pak Wiryo.

Ia berjalan pelan menyusuri gudang tanpa banyak ragu. Kakinya hafal letak meja, rak, kursi, bahkan paku yang mencuat dari lantai kayu. Gelap tidak terlalu merepotkan orang yang telah bertahun-tahun hidup bersama kebiasaan.

Pemuda itu mengikuti suara langkahnya.

Ketika korek dinyalakan lagi, mereka sudah duduk berhadapan di lantai semen.

Pak Wiryo membersihkan luka dengan kapas yang sudah menguning.

Pemuda itu meringis.

"Kalau sakit, berarti masih hidup."

"Bapak sering mengobati orang?"

"Dulu sering."

"Dulu?"

Pak Wiryo diam sesaat.

"Dulu anak saya sering jatuh."

Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah bukan berasal dari kepalanya, melainkan dari sudut gudang yang lembap.

Pemuda itu tidak menanggapi.

Mungkin karena terlalu lelah.

Atau mungkin setiap orang memang memiliki bagian hidup yang tak perlu dikomentari.

Dari luar terdengar ledakan kecil.

Entah petasan.

Entah sesuatu yang lain.

Pemuda itu refleks menoleh ke arah pintu.

"Mereka mencari saya."

"Siapa?"

"Saya juga tidak kenal semuanya."

Pak Wiryo mengikat perban seadanya.

"Kota ini lucu," katanya pelan. "Orang bisa dikejar oleh orang yang bahkan tidak tahu kenapa mereka mengejar."

Pemuda itu tertawa pendek.

Tawa yang cepat habis.

"Bapak orang sini?"

"Bukan."

"Dari mana?"

"Sebuah desa yang sekarang mungkin sudah berubah."

Pemuda itu mengangguk meski tak terlihat.

"Saya juga dari desa."

"Kok bisa sampai sini?"

"Mencari hidup."

Pak Wiryo tersenyum getir.

"Semua orang datang ke kota untuk mencari hidup."

"Lalu?"

"Sebagian malah kehilangan hidupnya di sini."

Mereka kembali diam.

Kesunyian di antara dua orang asing ternyata tidak selalu canggung. Kadang-kadang ia justru terasa seperti selimut yang dipakai bersama.

Di luar hujan mulai turun.

Titik-titik air memukul atap seng dengan ritme yang mengingatkan Pak Wiryo pada malam-malam di kampung.

Ia tiba-tiba teringat halaman rumahnya dahulu.

Pohon mangga.

Sumur.

Istrinya yang menjemur pakaian.

Seorang anak kecil berlari sambil membawa burung kayu hasil ukirannya.

Sudah lama ia tidak mengizinkan kenangan itu datang.

Kenangan bekerja seperti rayap. Semakin diusir, semakin diam-diam menghabiskan bagian dalam diri seseorang.

"Bapak punya keluarga?" tanya pemuda itu.

Pertanyaan sederhana.

Namun di usia tertentu, pertanyaan sederhana bisa terasa seperti pisau.

Pak Wiryo menyalakan korek.

Api menyala sebentar.

"Cuma pernah."

"Ke mana mereka?"

Api padam.

"Saya yang pergi."

Hening.

Pemuda itu akhirnya berkata lirih, "Ayah saya juga begitu."

Pak Wiryo merasakan sesuatu bergetar di dadanya.

Ia tidak tahu apakah itu jantung, rasa bersalah, atau sekadar udara malam yang mendadak dingin.

"Ibu saya bilang," lanjut pemuda itu, "ayah pergi waktu saya masih kecil. Katanya mau bekerja sebentar. Sebentar itu ternyata sampai ibu meninggal."

Pak Wiryo menggenggam korek lebih erat.

Pemuda itu melanjutkan tanpa nada marah.

Justru itulah yang membuat setiap kata terasa lebih berat.

"Saya dulu sering membayangkan kalau bertemu dia."

"Lalu?"

"Saya tidak tahu harus memukulnya atau memeluknya."

Pak Wiryo menunduk.

Gelap menolongnya menyembunyikan wajah.

Di luar, sirene meraung semakin dekat.

Sementara di dalam gudang, dua orang yang belum saling mengenal nama itu duduk dipisahkan oleh bertahun-tahun waktu yang belum selesai meminta pertanggungjawaban.

Pak Wiryo merogoh termosnya.

"Minum teh?"

Pemuda itu menerima gelas aluminium yang disodorkan.

Uap tipis masih naik.

"Enak."

"Teh bisa tetap hangat lebih lama daripada kemarahan."

Pemuda itu tersenyum kecil.

"Lho, kok Bapak tahu saya marah?"

Pak Wiryo tidak menjawab.

Sebaliknya ia bertanya, nyaris tanpa berpikir,

"Ibumu... namanya siapa?"

Pemuda itu menyebut sebuah nama.

Nama yang membuat tangan Pak Wiryo berhenti di udara.

Di luar, hujan masih turun.

Di dalam gudang, api korek belum dinyalakan lagi.

Tetapi untuk pertama kalinya malam itu, Pak Wiryo merasa ada sesuatu yang jauh lebih menyilaukan daripada cahaya: ingatan yang akhirnya menemukan jalan pulang.

Pak Wiryo tidak segera bertanya lagi.

Nama itu berputar-putar di kepalanya seperti suara ember diturunkan ke dalam sumur tua. Selama bertahun-tahun ia menghindari mengucapkannya, seolah dengan tidak menyebutnya ia bisa menghapus kenyataan bahwa ia pernah menjadi suami dan ayah. Ternyata nama yang disimpan terlalu lama tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali terdengar.

"Kenapa, Pak?" tanya pemuda itu.

Pak Wiryo menggeleng, meski gerak itu tak mungkin terlihat dalam gelap.

"Tidak apa."

Ia menyalakan korek. Api kecil bergetar karena jemarinya ikut bergetar. Dalam cahaya sesaat itu, matanya menangkap sebuah liontin kayu yang tergantung di leher pemuda. Bentuknya seekor burung dengan sayap yang belum sempurna, ukirannya kasar, salah satu ujung paruhnya sedikit patah.

Api padam.

Dunia kembali hitam.

Burung itu.

Tak mungkin ada dua.

Ia mengukirnya dari sisa kayu nangka pada malam sebelum berangkat merantau. Anak kecilnya terus menangis karena ingin ikut ke terminal. Untuk mengalihkan tangis itu, ia membuat burung kecil dan berjanji akan pulang sebelum tali kalungnya putus.

Tali itu kini telah berganti. Burungnya masih sama.

Suara gaduh dari luar mendadak membelah ingatan.

"Ke sana! Periksa gudang itu!"

Beberapa langkah kaki mendekat. Senter menyapu celah-celah dinding yang lapuk, meski cahayanya tak mampu menembus ke dalam. Seseorang menggedor pintu besi.

"Pak! Ada orang masuk?"

Pak Wiryo menatap ke arah suara, lalu berbisik, "Masuk ke belakang. Di balik rak paling ujung."

"Tapi—"

"Cepat."

Pemuda itu bergerak tertatih. Rak-rak tua yang selama ini hanya menyimpan ruang kosong kini mendadak menjadi tempat persembunyian yang berharga.

Pak Wiryo membuka pintu sedikit.

"Sendirian, Pak?" tanya seorang lelaki.

"Sejak tadi."

"Boleh kami periksa?"

Pak Wiryo menarik napas pendek. Selama bertahun-tahun ia menjaga gudang ini tanpa pernah berurusan dengan siapa pun. Malam itu, untuk pertama kalinya ia sadar bahwa kebohongan juga bisa menjadi bentuk perlindungan.

"Gelap begini mau memeriksa apa?" katanya datar. "Isinya cuma besi tua."

Orang itu mengintip sekilas ke dalam, mengumpat karena gelap, lalu berlari menyusul rombongannya.

Suara langkah mereka perlahan menjauh.

Pak Wiryo menutup pintu.

Entah mengapa lututnya terasa lebih lemas daripada sebelumnya.

"Aman?" bisik pemuda itu.

"Untuk malam ini."

Mereka kembali duduk.

Hujan mulai reda. Dari sela-sela ventilasi, angin membawa bau tanah basah yang mengingatkan Pak Wiryo pada sawah selepas panen. Kota ternyata masih menyimpan sedikit aroma desa, hanya saja tertutup asap kendaraan pada hari-hari biasa.

"Ayah saya suka mengukir," kata pemuda itu tiba-tiba.

Pak Wiryo mengangkat wajah.

"Ibu bilang, tangan ayah kasar, tapi kalau memegang kayu selalu pelan. Saya tidak ingat wajahnya. Yang saya ingat cuma cerita itu."

Pak Wiryo memejamkan mata.

Ada penyesalan yang tidak datang seperti ombak, melainkan seperti embun: pelan, hampir tak terasa, tetapi suatu pagi seluruh tubuh sudah basah olehnya.

Dari kejauhan terdengar dengung gardu listrik. Sesaat kemudian, lampu neon di langit-langit berkedip sekali.

Lalu sekali lagi.

Gudang yang selama berjam-jam tenggelam dalam gelap perlahan dipenuhi cahaya pucat.

Untuk pertama kalinya mereka benar-benar saling melihat.

Pemuda itu menatap wajah lelaki tua di depannya. Dahinya lebar. Alisnya tebal. Ada bekas luka tipis di dagu.

Pak Wiryo melihat sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: bentuk mata itu. Mata yang dulu menatapnya dari gendongan ibunya sebelum ia naik bus menuju kota.

"Nama kamu..." suara Pak Wiryo pecah. "Raka?"

Pemuda itu membeku.

"Bagaimana Bapak tahu?"

Pak Wiryo tidak segera menjawab.

Tangannya bergerak perlahan ke saku kemeja. Dari dalam dompet yang kulitnya telah retak-retak, ia mengeluarkan selembar foto kecil yang warnanya hampir habis dimakan waktu. Seorang perempuan muda memangku balita dengan kalung burung kayu di lehernya.

Raka mengambil foto itu.

Lama.

Lalu memandang lelaki tua di depannya.

"Bapak..."

Satu kata itu melayang di udara, tidak sebagai panggilan yang penuh kehangatan, juga bukan tuduhan. Hanya sebuah kata yang selama ini kehilangan alamat.

Pak Wiryo menunduk.

"Maaf."

Tidak ada penjelasan panjang.

Tidak ada pembelaan tentang kemiskinan, kegagalan, atau rasa malu yang membuatnya tak pernah pulang.

Semua alasan mendadak terdengar lebih kecil daripada tahun-tahun yang telah lewat.

Raka menggenggam foto itu erat-erat.

"Saya membayangkan pertemuan ini berkali-kali," katanya lirih. "Saya kira saya akan marah."

Pak Wiryo mengangguk pelan.

"Itu hakmu."

"Ternyata..." Raka menarik napas panjang. "Saya cuma capek."

Di luar gudang, lampu jalan satu per satu menyala. Kota yang sempat kehilangan wajahnya mulai kembali sibuk, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Pak Wiryo berdiri dan membuka pintu.

Udara malam masuk bersama cahaya.

"Kalau mau pergi, pergilah," katanya. "Kalau suatu hari ingin kembali, saya masih di sini. Mungkin tidak lama lagi, tapi untuk sementara... saya masih di sini."

Raka melangkah sampai ambang pintu.

Kemudian berhenti.

Ia tidak menoleh.

"Bapak."

"Ya?"

"Burung ini... talinya memang putus."

Pak Wiryo memandang liontin kayu yang tergantung di leher anaknya.

"Tapi saya tidak pernah membuang burungnya."

Raka melangkah keluar, menyusuri jalan yang masih basah oleh hujan. Pak Wiryo tidak memanggilnya. Ia tahu ada jarak yang tidak dapat ditempuh hanya dengan beberapa langkah.

Namun untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, ia tidak lagi merasa menjaga gudang yang kosong.

Di dalam dadanya, sebuah ruang yang selama ini dipenuhi gelap telah menemukan seberkas cahaya—kecil, rapuh, dan mungkin belum sanggup menghangatkan seluruh hidupnya.

Tetapi kadang-kadang, manusia memang tidak membutuhkan matahari.

Satu nyala kecil sudah cukup untuk menunjukkan jalan pulang. (*)

Tentang Penulis:
Penulis merupakan seorang pekerja sektor swasta, tinggal di Surabaya.

Editor : Arief
cerpen