Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Separuh Hadir

Arief • Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:59 WIB
ilustrasi
ilustrasi

 

CERPEN oleh: A. Ramadhani

Pesawat baru saja menyentuh landasan ketika Akmar sudah lebih dulu membuka ponselnya.

Belum sempat lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan, ibu jarinya bergerak cepat menelusuri grup redaksi. Puluhan pesan masuk selama penerbangan dari Banjarmasin melalui Surabaya menuju Denpasar. Ada kebakaran di Plaza Amuntai, rapat DPRD Kabupaten Hulu Sungai Utara yang molor hingga malam, dan banjir kiriman dari Tabalong yang mulai merendam beberapa desa di Amuntai.

Siska melirik layar ponsel itu, lalu menghela napas pelan.

"Aku kalah cepat sama notifikasi," katanya setengah bercanda.

Akmar tersenyum tanpa mengangkat kepala.

"Tinggal balas sebentar."

Siska tidak menjawab.

Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu.

"Sebentar."

Kata yang paling panjang dalam hubungan mereka.

*

Pantai itu menghadap matahari yang mulai condong ke barat.

Deretan kursi kayu tertata rapi di atas pasir putih. Payung-payung pantai bergoyang pelan diterpa angin. Bau asin laut bercampur aroma tabir surya dan kopi yang diseduh dari kafe kecil di belakang mereka.

Bali tampak bekerja keras mempertahankan reputasinya sebagai tempat orang-orang melupakan kesibukan.

Sayangnya, kesibukan Akmar tidak membeli tiket pulang.

Ia ikut duduk di sampingnya.

Ponselnya bergetar lagi.

"Ada apa lagi?" tanya Siska.

"Editor minta konfirmasi satu kutipan."

"Kita lagi liburan."

"Berita juga tidak libur."

Jawaban itu meluncur begitu saja, seperti refleks seorang yang terlalu lama hidup di bawah tenggat waktu.

Siska memandang laut.

Ombak datang bergantian, tanpa tergesa, tanpa terlambat.

Andai manusia bisa belajar disiplin dari laut, pikirnya, mungkin mereka juga belajar kapan harus berhenti.

*

Akmar berasal dari Amuntai.

Ia mengenal kota itu bukan dari peta, melainkan dari suara.

Azan subuh yang menggema di atas rawa.

Mesin kelotok yang memecah kabut pagi.

Pedagang ikan yang berteriak sebelum matahari benar-benar terbit.

Baginya, menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan.

Ia percaya setiap peristiwa, sekecil apa pun, layak dicatat agar tidak lenyap ditelan lupa.

Ia pernah menerjang banjir demi mengambil foto.

Pernah mengejar ambulans berjam-jam.

Pernah menunggu semalaman hanya untuk memperoleh satu kalimat konfirmasi.

Orang-orang memuji dedikasinya.

Tak banyak yang menyadari bahwa dedikasi memiliki saudara kembar yang bernama keterlaluan.

*

Malam pertama di hotel.

Siska sudah lebih dulu tertidur.

Akmar masih menatap layar laptop.

Suara pendingin ruangan terdengar seperti dengungan ruang redaksi.

Pukul sebelas malam.

Lalu dua belas.

Satu.

Baru ketika kelopak matanya tak lagi sanggup terbuka, ia merebahkan tubuh.

Namun tidurnya bukan benar-benar tidur.

Ia bermimpi.

Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah Pasar Amuntai.

Orang-orang berlarian.

Seseorang berteriak ada kebakaran.

Ia mengangkat kamera.

Mencatat nama saksi.

Menelepon editor.

Lalu tiba-tiba pasar berubah menjadi pantai.

Api berubah menjadi matahari tenggelam.

Suara sirene berubah menjadi debur ombak.

Di kejauhan Siska memanggil namanya.

"Akmar..."

Ia ingin mendekat.

Tetapi dari belakang terdengar suara editor.

"Copy naik lima menit lagi!"

Ia menoleh.

Saat kembali memandang laut, Siska sudah tidak ada.

Akmar terbangun dengan napas memburu.

Jam menunjukkan pukul empat dini hari.

Siska masih tertidur menghadap jendela.

Ia tampak damai.

Akmar memandang wajah perempuan itu cukup lama.

Lalu, tanpa sadar, tangannya kembali mencari ponsel.

Ada delapan pesan baru.

*

Hari kedua.

Mereka menyewa motor menyusuri jalan-jalan kecil di Ubud.

Sawah bertingkat memantulkan cahaya matahari seperti pecahan kaca hijau.

Turis berjalan santai.

Anjing tidur di depan galeri seni.

Udara membawa bau dupa dari pura yang entah sedang mengadakan upacara apa.

Siska memeluk pinggang Akmar dari belakang.

"Enak ya kalau hidup pelan begini."

"Iya."

"Kamu bisa?"

"Bisa apa?"

"Hidup pelan."

Akmar tidak langsung menjawab.

Motor terus melaju.

Kadang jawaban yang paling jujur adalah kesunyian.

*

Sore harinya mereka kembali ke pantai.

Seorang fotografer menawarkan jasa memotret.

Siska mengangguk antusias.

"Ayo, sekali saja."

Akmar menyimpan ponselnya.

Mereka duduk.

Siska memonyongkan bibir sambil mengangkat tangan seolah bertanya kepada dunia mengapa lelaki di belakangnya selalu tampak serius.

Akmar menatap kamera.

Klik.

Hanya satu detik.

Fotografer tersenyum puas.

"Bagus. Kelihatan romantis."

Siska ikut tersenyum.

Tetapi ia tahu.

Foto tidak pernah merekam jeda-jeda sunyi.

Foto tidak tahu bahwa lima menit sebelumnya mereka baru saja berhenti berbicara.

*

Menjelang malam, mereka berjalan tanpa alas kaki.

Pasir yang lembab menempel di telapak kaki.

Siska berhenti.

"Mas."

"Hm?"

"Aku mau tanya sesuatu."

"Tanya saja."

"Kalau nanti kita menikah..."

Akmar menoleh.

"...aku dapat bagian yang mana dari hidupmu?"

Angin laut mendadak terasa lebih dingin.

Akmar membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

Di kejauhan, ombak kembali pecah di bibir pantai.

Suara yang sama.

Berulang-ulang.

Seperti notifikasi yang tak pernah selesai.

Dan Siska tiba-tiba merasa, mungkin yang paling sulit dikalahkan dalam hidup ini bukan perempuan lain.

Melainkan sebuah pekerjaan yang dicintai seseorang melebihi dirinya sendiri.

Akmar tidak segera menjawab.

Ia memandang laut yang mulai kehilangan warna birunya. Matahari telah turun separuh, meninggalkan semburat jingga yang memanjang di atas permukaan air. Orang-orang di pantai sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang berfoto, ada yang tertawa, ada yang mengejar anak kecil yang berlari terlalu dekat dengan ombak.

Dunia, pikir Akmar, selalu tampak sederhana jika dilihat dari kejauhan.

Yang rumit selalu terjadi di dalam kepala manusia.

"Aku enggak tahu harus jawab apa," katanya akhirnya.

Siska tersenyum tipis.

"Itu juga jawaban."

Mereka melanjutkan berjalan.

Tak ada pertengkaran.

Kadang cinta tidak meledak seperti petir. Ia retak perlahan, seperti garam yang larut di dalam air. Tak terdengar, tetapi rasanya berubah.

*

Malam itu mereka makan di sebuah warung kecil yang menghadap pantai.

Lampu-lampu kuning bergoyang ditiup angin. Seorang pemusik memainkan gitar akustik dengan lagu-lagu lama yang terdengar lebih tua daripada usianya sendiri. Aroma ikan bakar bercampur asap tempurung kelapa memenuhi udara.

Biasanya Siska akan bercerita banyak.

Tentang pekerjaan di kantornya.

Tentang ibunya yang mulai sering menanyakan tanggal pernikahan.

Tentang gaun yang sudah ia lihat berulang kali di media sosial.

Malam itu ia lebih banyak diam.

Akmar mencoba memulai percakapan.

"Ikannya enak."

"Iya."

"Kamu capek?"

"Sedikit."

Hanya itu.

Percakapan mereka seperti ombak kecil yang bahkan gagal mencapai bibir pantai.

Di sela-sela makan, ponsel Akmar kembali bergetar.

Ia tidak berniat membuka.

Benar-benar tidak.

Namun benda kecil itu seolah memiliki daya tarik yang tidak dimiliki apa pun di dunia.

Ia melirik.

Editor.

Dua panggilan tak terjawab.

Disusul pesan.

"Akmar, ada kecelakaan speedboat di Danau Panggang. Korban masih simpang siur. Bisa bantu koordinasi dari sana? Wartawan kita di lokasi belum dapat data."

Akmar memejamkan mata.

Siska melihat semuanya.

"Angkat saja."

"Nanti saja."

"Aku kenal wajahmu."

"Maksudnya?"

"Kalau tidak diangkat, tubuhmu tetap duduk di sini. Tapi pikiranmu sudah pulang ke Amuntai."

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada teguran.

Akmar akhirnya meletakkan ponselnya dalam tas.

Untuk pertama kalinya selama dua hari, ia sengaja menjauhkan benda itu dari jangkauan tangannya.

Namun ternyata meletakkan ponsel tidak otomatis mematikan kebiasaan.

Ia tetap membayangkan jumlah korban.

Tetap menyusun lead berita di dalam kepala.

Tetap mencari judul yang tepat.

Seorang wartawan, pikirnya, rupanya bisa meninggalkan kantor, tetapi kantor tidak pernah benar-benar meninggalkan wartawan.

*

Keesokan paginya mereka berangkat ke sebuah pura di tepi tebing.

Langit bersih.

Angin membawa bau laut yang lebih tajam.

Di bawah sana ombak menghantam karang tanpa lelah. Batu-batu tetap diam, seolah sudah menerima bahwa hidup memang berarti bersedia dipukul berkali-kali.

Siska berhenti di pagar batu.

"Mas."

"Hm."

"Kenapa dulu melamarku?"

Akmar tersenyum kecil.

"Karena aku mencintaimu."

"Masih?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Tetapi tidak ada jawaban sederhana untuk sesuatu yang terus berubah setiap hari.

"Aku masih."

"Lalu kenapa aku sering merasa pekerjaanmu lebih dicintai?"

Akmar tidak langsung menjawab.

Sudah bertahun-tahun ia pandai mewawancarai orang.

Ia tahu bagaimana membuat narasumber membuka diri.

Ironisnya, ia kesulitan menjadi narasumber bagi hidupnya sendiri.

"Ayahku pernah bilang," katanya pelan, "kalau sebuah kampung kehilangan orang yang mau mencatat cerita-ceritanya, maka suatu hari kampung itu akan hilang dua kali. Hilang peristiwanya. Hilang ingatannya."

Siska mengangguk.

"Aku tahu."

"Itu yang selalu kuingat."

"Masalahnya..." suara Siska bergetar tipis, "...aku takut suatu hari nanti, yang lupa dicatat justru keluarga kita sendiri."

Angin berhenti sesaat.

Atau mungkin hanya mereka yang berhenti mendengarnya.

*

Mereka duduk lama di atas batu.

Tanpa bicara.

Di kejauhan, beberapa burung melintas rendah di atas laut.

Akmar tiba-tiba teringat ibunya di Amuntai.

Perempuan sederhana yang selalu menunggu kepulangannya, bahkan ketika ia pulang lewat tengah malam setelah meliput banjir atau kebakaran.

Ibunya tak pernah mengeluh.

Suatu hari, bertahun-tahun lalu, ibunya hanya berkata,

"Nak, jangan terlalu sibuk menceritakan hidup orang sampai lupa menjalani hidupmu sendiri."

Waktu itu ia menganggap nasihat itu sekadar kekhawatiran seorang ibu.

Kini kalimat itu datang kembali, seperti surat yang baru dibuka setelah bertahun-tahun terselip di antara halaman buku.

*

Sore terakhir di Bali.

Mereka kembali ke pantai yang sama.

Kursi-kursi kayu masih berjajar menghadap laut.

Seolah tidak ada yang berubah.

Padahal dalam tiga hari, ribuan orang telah datang dan pergi.

Mungkin begitu pula kehidupan.

Yang tampak tetap sering kali sebenarnya terus berganti.

Siska duduk.

Akmar tidak mengeluarkan ponselnya.

Ia hanya memandang laut.

"Aneh ya," katanya.

"Apa?"

"Ombak selalu buru-buru datang."

"Tapi selalu pelan saat kembali."

Siska menoleh.

"Itu kalimat wartawan atau calon suami?"

Akmar tertawa.

Tawa yang kali ini tidak terdengar dipaksakan.

"Calon suami."

Mereka saling memandang cukup lama.

Lalu Akmar berkata pelan,

"Aku enggak bisa janji berhenti jadi wartawan."

"Aku juga enggak pernah minta."

"Tapi aku bisa belajar berhenti menjadi wartawan... saat aku sedang menjadi suamimu."

Mata Siska mulai berkaca.

"Kamu yakin bisa?"

"Aku enggak yakin."

"Lalu?"

"Tapi berita selalu bisa ditulis ulang kalau ada kesalahan."

Ia menarik napas.

"Hubungan belum tentu."

Kalimat itu menggantung di antara mereka.

Tidak sempurna.

Tetapi kejujuran memang jarang terdengar sempurna.

*

Sebelum meninggalkan pantai, seorang anak kecil berlari membawa ember plastik.

Ia jatuh.

Istana pasir yang dibuatnya runtuh seketika.

Anak itu menangis sebentar.

Lalu, tanpa diminta siapa pun, ia mulai membangun lagi dari awal.

Siska memperhatikan anak itu.

"Aku iri sama anak kecil."

"Kenapa?"

"Mereka tahu bahwa sesuatu yang runtuh bukan berarti selesai."

Akmar menggenggam tangan Siska.

Lama.

Tanpa kata-kata.

Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Bali, tidak ada getaran ponsel yang memisahkan telapak tangan mereka.

*

Pesawat lepas landas menjelang senja.

Pulau Dewata perlahan mengecil di balik jendela.

Di kantong tas, ponsel Akmar kembali dipenuhi pesan.

Ia membacanya sekilas.

Lalu mematikan layar.

Siska menoleh, seolah tidak percaya.

"Kok dimatiin?"

Akmar tersenyum.

"Redaksi bisa menunggu dua jam."

"Editormu marah."

"Biar saja."

"Serius?"

"Kalau calon istriku merasa kehilangan aku selama bertahun-tahun, rasanya editor bisa meminjam kesabaran selama dua jam."

Siska tertawa.

Tawa yang sejak lama ingin didengar Akmar tanpa terganggu bunyi notifikasi.

Di luar jendela, awan menggumpal seperti lembaran-lembaran kertas kosong.

Akmar membayangkan ketika kembali ke Amuntai, ia akan menulis berita tentang banjir, rapat dewan, panen padi, kecelakaan, atau pemilihan kepala desa. Dunia akan tetap bergerak. Peristiwa akan terus meminta untuk dicatat.

Namun untuk pertama kalinya ia memahami bahwa hidup tidak hanya terdiri atas kejadian-kejadian yang layak menjadi berita.

Ada hal-hal yang tak pernah masuk halaman depan surat kabar: tangan yang tetap menggenggam ketika jawaban belum ditemukan, diam yang menyelamatkan pertengkaran, dan keberanian mengakui bahwa seseorang yang kita cintai tidak membutuhkan kesempurnaan, melainkan kehadiran.

Ketika pesawat menembus lapisan awan terakhir, Akmar memandang Siska yang telah terlelap di bahunya.

Ia tersenyum.

Dalam hati ia menyusun sebuah judul, bukan untuk dikirim kepada editor, melainkan untuk diingat sepanjang hidupnya:

"Seorang Wartawan Belajar Menjadi Rumah."

Barangkali itulah berita paling penting yang tak akan pernah dimuat di surat kabar mana pun, tetapi justru menentukan seluruh sisa hidupnya. (*)

*****
Penulis merupakan pembaca setia Radar Banjarmasin, tinggal di Amuntai

 

 

 

Editor : Arief
cerpen