Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Selepas Listrik Padam

admin • Sabtu, 4 Juli 2026 | 17:06 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 

Cerpen oleh: Gilang Syahputra

Listrik padam sesaat setelah azan Isya selesai berkumandang.

Bukan ledakan keras atau bunyi yang mengejutkan. Hanya sebuah “klik” kecil dari gardu di ujung jalan, lalu seluruh lampu di kompleks itu padam serentak. Pendingin ruangan berhenti berdengung, kipas angin membeku di tengah putaran, dan modem Wi-Fi kehilangan seluruh lampunya yang berkedip.

Zainuddin mendongak dari layar laptop yang masih menyala dengan tenaga baterai. Berkas laporan yang sedari tadi dikerjakannya masih terbuka, tetapi tanda sambungan internet berubah menjadi gambar kecil yang membuatnya menghela napas.

“Padam lagi,” gumamnya.

Ia sebenarnya masih bisa mengetik. Baterai laptop masih cukup untuk beberapa jam. Namun laporan itu harus dikirim malam itu juga. Tanpa internet, pekerjaannya seperti perahu yang sudah selesai dibuat tetapi tak punya sungai untuk berlayar.

Ia menutup layar perlahan. Di luar jendela, kegelapan menjalar dari rumah ke rumah seperti tinta yang tumpah di atas kain putih.

Dari kejauhan terdengar beberapa suara mengeluh.

“Mati lagi…”

“Katanya bergiliran.”

“Entah sampai jam berapa.”

Kalimat-kalimat itu terdengar seperti rutinitas yang selalu diulang setiap kali listrik padam. Tak ada yang benar-benar marah. Tak ada pula yang benar-benar menerima. Orang-orang hanya mengulang keluhan yang sama, mungkin agar mereka merasa masih memiliki kendali atas sesuatu yang tidak bisa mereka atur.

Zainuddin mengambil kursi kayu dari ruang tamu lalu membawanya ke teras.

Sudah lama ia tidak duduk di sana.

Selama ini teras hanya menjadi tempat meletakkan pot bunga yang sesekali disiram, lalu dilupakan kembali. Seusai bekerja ia lebih sering langsung masuk rumah, ditemani pendingin ruangan, televisi, dan telepon genggam.

Malam itu angin terasa berbeda.

Tanpa suara mesin, desir daun terdengar lebih jelas. Pohon rambutan di halaman tetangga bergoyang pelan, seolah baru diberi kesempatan untuk bersuara.

Aroma tanah yang masih menyimpan sisa hujan sore ikut terbawa angin. Entah sejak kapan ia terakhir kali benar-benar mencium bau tanah. Barangkali hidung manusia memang perlahan kehilangan kepekaan ketika hidup dipenuhi aroma pendingin ruangan dan pewangi sintetis.

Tak lama kemudian terdengar suara anak-anak.

Mereka berlari di jalan kompleks dengan riang, membawa senter kecil dan sesekali hanya mengandalkan cahaya bulan.

“Hitung sampai dua puluh!”

“Jangan curang!”

Gelak tawa mereka memenuhi jalan yang biasanya dipenuhi suara kendaraan.

Zainuddin memperhatikan mereka cukup lama.

Aneh. Anak-anak yang selama ini sering ia lihat menunduk menatap layar kini justru berlari tanpa memedulikan apa pun selain teman-temannya.

Seorang bocah berkata sambil terengah-engah,

“Kalau mati lampu begini, Ayah pasti keluar rumah.”

Temannya menjawab polos,

“Iya. Biasanya Ayah sibuk terus.”

Kalimat itu sederhana, tetapi entah mengapa terdengar seperti cermin yang diam-diam menghadap ke wajah orang-orang dewasa.

Di rumah sebelah, seorang lelaki tua yang dipanggil Haji Jani sedang duduk di kursi rotan. Di pangkuannya, cucu laki-lakinya mendengarkan cerita.

“Dulu,” katanya pelan, “kami mengenal musim dari angin, bukan dari berita di telepon.”

Anak itu hanya mengangguk.

Barangkali ia belum memahami maksudnya. Namun setiap cerita memiliki caranya sendiri untuk tinggal di dalam ingatan, lalu baru dipahami bertahun-tahun kemudian.

Tiba-tiba terdengar suara dari ujung gang.

“Acil Imah belum keluar.”

Beberapa orang saling berpandangan.

Rumah kecil di ujung jalan itu memang dihuni seorang perempuan tua yang hidup sendiri. Anak-anaknya bekerja jauh di luar daerah. Mereka rutin mengirim uang, tetapi uang tak pernah benar-benar pandai menggantikan kehadiran.

Tanpa ada yang mengomando, beberapa warga berjalan ke sana.

Zainuddin ikut menyusul.

Pintu rumah terbuka sedikit.

Di dalam, cahaya korek api berkali-kali padam sebelum sempat menyalakan sumbu lilin.

Tangan Acil Imah bergetar.

“Apinya susah menyala hari ini,” katanya sambil tersenyum malu.

Padahal yang sulit bukan apinya. Usia memang perlahan mengambil keteguhan dari jemari seseorang.

Seorang pemuda segera mengambil lilin itu.

“Biar saya bantu, Cil.”

Api akhirnya menyala.

Cahaya kecil itu segera mengusir gelap dari ruang tamu yang sederhana. Di dinding tergantung foto keluarga yang mulai memudar warnanya. Senyum orang-orang di dalam bingkai tampak seolah berasal dari masa yang jauh.

“Kalau kalian tidak datang, mungkin saya sudah tidur saja malam ini,” kata Acil Imah.

Tak ada yang menjawab.

Kadang-kadang kesunyian lebih sopan daripada kalimat penghiburan.

Tak lama kemudian seorang ibu datang membawa termos.

“Ini teh panas.”

Yang lain membawa pisang rebus.

Ada yang membawa kue cincin, ada pula yang membawa singkong kukus.

Seorang bapak terkekeh.

“Daripada isi kulkas rusak kalau padamnya lama, lebih baik dimakan bersama.”

Semua tertawa.

Begitulah, sesuatu yang semula dikhawatirkan menjadi kerugian justru berubah menjadi alasan untuk berbagi.

Dalam waktu singkat, tikar digelar di halaman.

Orang-orang duduk melingkar.

Tak ada rapat RT.

Tak ada acara resmi.

Tak ada pengeras suara.

Hanya malam yang kebetulan mematikan lampu-lampu, sehingga manusia akhirnya saling melihat wajah tanpa gangguan cahaya layar.

Percakapan mengalir begitu saja.

Tentang harga ikan yang naik.

Tentang musim hujan yang semakin sulit ditebak.

Tentang anak-anak yang merantau.

Tentang cucu yang baru lahir.

Tentang sawah yang kini berubah menjadi deretan ruko.

Masing-masing membawa cerita, dan malam menerimanya tanpa tergesa-gesa.

Zainuddin baru sadar bahwa selama hampir enam tahun tinggal di kompleks itu, ia tidak pernah benar-benar mengenal kehidupan orang-orang yang rumahnya hanya dipisahkan satu pagar.

Ia tahu merek mobil mereka.

Ia tahu warna cat rumah mereka.

Tetapi ia tidak tahu siapa yang sedang sakit, siapa yang kesepian, dan siapa yang diam-diam menunggu telepon dari anaknya setiap malam.

Di sela percakapan, Haji Jani menatap langit.

“Coba lihat.”

Semua ikut mendongak.

Langit malam dipenuhi bintang.

Bukan karena malam itu bintangnya lebih banyak. Barangkali mereka memang selalu ada. Hanya saja, selama ini cahaya lampu kota terlalu sibuk menutupi keberadaan mereka.

Zainuddin teringat sesuatu.

Sejak kecil ia diajari bahwa manusia selalu mengejar terang. Namun malam itu ia justru menemukan beberapa hal yang hanya muncul ketika terang menghilang.

Suara jangkrik.

Aroma tanah.

Tawa anak-anak.

Obrolan tetangga.

Tatapan seorang perempuan tua yang merasa tidak lagi sendirian.

Barangkali gelap memang tidak selalu berarti kehilangan.

Kadang-kadang ia hanya mengembalikan apa yang selama ini tertutup.

Sekitar dua jam kemudian, dari kejauhan terdengar bunyi gardu.

Lampu-lampu rumah berkedip.

Satu demi satu menyala.

Kipas angin kembali berputar.

Televisi kembali berbicara.

Modem Wi-Fi memancarkan cahaya hijau yang berkedip-kedip seperti baru bangun dari tidur.

Ponsel mulai berbunyi hampir bersamaan.

Nada pesan, panggilan, dan notifikasi saling berebut perhatian.

Orang-orang perlahan berdiri.

“Besok lanjut lagi kalau mati lampu,” canda seseorang.

Semua tertawa.

Tikar digulung.

Cangkir dikumpulkan.

Piring-piring dibawa pulang.

Seolah sebuah perjamuan sederhana baru saja selesai.

Zainuddin juga kembali ke rumah.

Laptopnya masih memiliki sisa baterai. Laporan itu masih menunggu untuk dikirim. Setelah jaringan internet kembali, pekerjaannya akan selesai dalam beberapa menit.

Namun sebelum membuka layar, ia kembali berdiri di teras.

Langit yang beberapa saat lalu dipenuhi bintang kini mulai memudar oleh cahaya lampu-lampu kompleks.

Ia memandang rumah-rumah di sekelilingnya.

Pintu-pintu kembali tertutup.

Suara televisi mulai mengalahkan suara jangkrik.

Anak-anak dipanggil masuk.

Malam perlahan kembali seperti semula.

Entah mengapa, ia merasa sedikit kehilangan.

Selama ini ia selalu mengira pemadaman bergiliran hanyalah gangguan yang memutus aliran listrik. Malam itu ia menyadari bahwa yang sesungguhnya terputus bukan hanya arus dari gardu menuju rumah-rumah, melainkan juga arus kebiasaan yang membuat manusia terus bergerak tanpa sempat berhenti menoleh kepada sesamanya.

Barangkali kehidupan memang memerlukan jeda.

Seperti tanda koma di tengah kalimat yang panjang.

Tanpa jeda, kata-kata hanya akan saling bertabrakan hingga kehilangan makna.

Demikian pula manusia.

Mereka mungkin membutuhkan sesekali malam yang gelap agar kembali mengingat bahwa cahaya paling hangat tidak selalu datang dari lampu yang menyala, melainkan dari orang-orang yang memilih tetap saling mendekat ketika keadaan menjadi redup.

Ketika akhirnya Zainuddin membuka kembali laptopnya dan mengirim laporan yang sejak tadi tertunda, ia merasa malam itu telah menyelesaikan sesuatu yang tak pernah tercantum dalam daftar pekerjaannya: memperkenalkan kembali dirinya kepada lingkungan yang selama ini hanya ia lewati setiap hari.

Dan mungkin, kepada dirinya sendiri. (*)

  ____

Tentang Penulis:
Penulis merupakan pengamen paruh waktu, tinggal di Banjarbaru.

Editor : Arief
#cerpen