Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

CERPEN: Luka-Luka Laki-Laki

admin • Sabtu, 15 November 2025 | 06:26 WIB
Ilustrasi Cerpen "Luka-Luka Laki-Laki" Karya: Muhamad Yusuf
Ilustrasi Cerpen "Luka-Luka Laki-Laki" Karya: Muhamad Yusuf

Karya: Muhamad Yusuf

 

Senja menumpahkan warna jingga ke laut yang beriak lembut di pelabuhan kecil itu. Di atas geladak kapal yang berbau asin, Bimo duduk sendirian sambil menatap matahari yang hendak tenggelam. Di tangan kanannya sebatang rokok menyala, asapnya melayang tertiup angin laut.

Sudah dua minggu kapal kargo yang ia nahkodai bersandar di pelabuhan Tanjung Perak. Waktu istirahat, katanya. Tapi sebenarnya, Bimo sedang beristirahat dari banyak hal. Dari laut yang tak pernah menjanjikan kepastian. Juga dari kenangan tentang perempuan yang dulu ia impikan menjadi istri.

Namanya Ratna. Anak tunggal seorang pengusaha batik di Pekalongan. Tiga tahun mereka menjalin hubungan jarak jauh, dengan janji sederhana. “Begitu cukup tabungan, aku akan melamarmu.” Tapi ketika hari itu tiba, justru ibunya Ratna yang menerima Bimo dengan tatapan datar dan kalimat yang menusuk.

“Kamu pelaut, kan? Hidup di laut itu tak tentu. Kami ingin Ratna hidup dengan seseorang yang pasti. Yang setiap pagi bisa ia lihat, bukan yang hanya bisa ia dengar suaranya lewat telepon.”

Bimo masih ingat wajah Ratna yang menunduk. Tak ada perlawanan. Tak ada keberanian. Sejak saat itu, laut menjadi satu-satunya tempat yang memeluknya tanpa syarat.

Beberapa kilometer dari pelabuhan, di sudut sebuah kafe kecil di Surabaya, Gido memainkan gitar akustiknya dengan lembut. Malam itu ia menyanyikan lagu-lagu lama untuk para pengunjung yang sibuk berbincang. Sesekali seseorang memberi tip ke wadah logam di depannya.

Gido bukan pemusik terkenal, tapi musik telah menjadi napasnya sejak kecil. Ia percaya, setiap nada punya cerita dan setiap lagu punya jiwa. Tapi tidak semua orang percaya pada mimpi yang sama.

Ia masih ingat hari ketika ia melamar Lani, kekasihnya yang bekerja di kantor akuntan. Dengan kemeja terbaik yang ia punya, ia datang ke rumah Lani membawa cincin sederhana. Tapi ayah Lani hanya tertawa kecil, lalu berkata. “Pemusik? Main di kafe? Nak, hidup bukan panggung hiburan. Kamu mungkin bisa bikin orang lain tersenyum malam ini, tapi bagaimana dengan besok? Bagaimana kamu akan menafkahi anakku?”

Kalimat itu seperti petir yang membelah dadanya. Lani mencoba menenangkan, tapi beberapa hari kemudian, Lani memilih diam. Diam yang berarti selesai.

Sementara itu, di rumah kontrakan kecil, Fajar baru saja menutup laptopnya. Di layar, lembar kerja Excel berisi jadwal les privat matematika untuk seminggu ke depan. Ia mengajar di rumah-rumah siswa dari pagi hingga malam.

Fajar bukan orang yang suka banyak bicara, tapi ia mencintai pekerjaannya. Mengajar membuatnya merasa berguna. Sayang, dunia kadang tidak melihat keikhlasan, hanya melihat gengsi. Rencana pernikahannya dengan Dinda hancur hanya dua minggu sebelum hari H. Alasannya datang lewat pesan singkat. “Ayahku, tidak yakin kamu bisa memberi masa depan yang cukup untukku.”

Sederhana, dingin, tanpa penjelasan lebih jauh. Sejak itu, Fajar belajar menahan tangis di malam hari. Ia tidak membenci siapa pun, tapi di dalam dadanya ada ruang yang hampa. Tempat semua rencana masa depan pernah hidup dan mati sekaligus.

Nasib mempertemukan mereka secara kebetulan di sebuah warung kopi pinggir jalan. Hari itu Bimo sedang menunggu montir memperbaiki motornya. Fajar duduk di meja pojok, sibuk menandai kertas latihan siswa. Sementara Gido baru saja selesai tampil di acara kecil di dekat situ, lalu mampir karena haus.

Mereka bertiga awalnya hanya saling menyapa. Obrolan ringan soal cuaca, lalu berlanjut ke kopi, kemudian musik, hingga laut.

“Aku pelaut,” kata Bimo, memperkenalkan diri.
“Aku guru privat,” sambung Fajar.

“Dan aku pemusik. Jadi, bisa dibilang kita bertiga, pengangguran yang tidak diakui dunia,” canda Gido, membuat dua orang lainnya tertawa.

Tawa pertama itu entah kenapa terasa menenangkan. Mungkin karena di balik tawa itu, ada kesedihan yang sama-sama belum sembuh.

Mereka mulai sering bertemu. Kadang di warung kopi, kadang di taman kota. Gido sering membawa gitarnya, memainkan lagu pelan sambil Bimo bercerita tentang badai di Samudra Hindia, dan Fajar mendengarkan sambil menyeruput kopi hitam.

Suatu malam, ketika bulan tampak bulat sempurna, obrolan mereka bergeser ke hal yang lebih pribadi.

“Lucu ya,” kata Bimo tiba-tiba, “Kita bertiga sama-sama gagal menikah.”

Gido terdiam. Fajar mengangkat kepala.
“Kenapa bisa?” tanya Gido pelan.

Bimo menceritakan kisahnya tentang Ratna, tentang restu yang tak pernah datang hanya karena pekerjaannya di laut. “Katanya, perempuan butuh kepastian. Tapi mereka lupa, laut juga punya arah,” katanya, menatap jauh ke cakrawala.

Gido mengangguk pelan, lalu gantian bercerita tentang Lani dan ayahnya yang menolak keras pemusik.
“Mungkin mereka pikir, musik cuma hobi. Padahal dari sanalah aku hidup.”

Terakhir, Fajar bicara pelan-pelan, seperti takut suaranya pecah. “Aku dan Dinda batal nikah dua minggu sebelum hari H. Katanya, ayahnya tak yakin masa depanku jelas. Padahal aku tak pernah minta banyak. Cukup dipercaya.”

Malam itu, tiga laki-laki itu diam lama.

***

Setelah perbincangan itu, mereka bertiga kembali bertemu di tempat yang sama. Tapi suasananya berbeda.

“Aku rasa,” kata Bimo, “Kita sama-sama trauma. Mungkin kita tidak boleh jatuh cinta lagi.”

Gido menyeringai miris. “Setuju. Cinta cuma bikin luka.”

Fajar yang biasanya tenang pun mengangguk. “Sudah kuhapus semua foto Dinda. Aku tidak mau terluka lagi.”

Lalu entah siapa yang memulai, tapi malam itu mereka membuat semacam perjanjian konyol. “Kita bertiga janji, tidak akan menikah. Dunia jahat buat kita.”

Mereka menertawakan ucapan itu, tapi dalam tawa itu terselip rasa getir. Bimo menepuk pundak Gido dan Fajar, lalu berkata lirih, “Setidaknya, kalaupun kita gagal, kita gagal bersama.”

***

Waktu berjalan. Bimo kembali berlayar. Gido terus bermain musik dari kafe ke kafe. Fajar mengajar anak-anak dari rumah ke rumah. Mereka masih sesekali bertemu, tapi tidak sesering dulu.

Namun luka itu tetap ada, hanya berubah bentuk. Bimo merasa kesepian setiap kali kembali ke pelabuhan. Ia melihat para nelayan disambut istri dan anak-anak mereka, sementara ia hanya disambut bau solar dan angin asin.

Gido mulai kehilangan semangat tampil. Setiap kali melihat pasangan duduk berdua di kafe tempat ia bernyanyi, dadanya terasa perih.
“Lagu-lagu cinta itu mencabut pembalut luka lama,” katanya suatu malam.

Sementara Fajar semakin tenggelam dalam rutinitas. Rumahnya semakin sunyi. Ia mencoba sibuk agar tidak sempat merindukan siapa pun. Tapi setiap kali mengajar siswa perempuan yang tersenyum polos, ia merasa seperti melihat kemungkinan yang dulu tak pernah diberi kesempatan tumbuh.

Suatu sore yang hujan, mereka bertiga kembali bertemu, tanpa rencana. Bimo baru pulang dari pelayaran, Gido selesai tampil, dan Fajar kebetulan lewat di depan warung kopi lama mereka. Mereka masuk hampir bersamaan, lalu tertawa melihat kebetulan itu.

“Tuhan sengaja menyuruh kita bertemu lagi,” kata Gido.

Kopi panas dipesan. Hujan turun makin deras. Di luar, jalan mulai banjir.

Bimo menatap jendela lama-lama, lalu berkata, “Aku lelah berpura-pura kuat. Aku bilang tak butuh cinta lagi, tapi sebenarnya tiap malam aku iri sama orang-orang yang bisa pulang ke rumah dengan seseorang yang menunggu.”

Fajar menatapnya. Gido menunduk. Tak ada yang berani menyela.

Giliran Gido berbicara. “Aku juga. Aku kangen punya seseorang yang bertanya, sudah makan belum?’ Aku ingin disayang tanpa harus ditanya aku kerja di mana.”

Lalu Fajar menatap dua sahabatnya dan berkata lirih, “Mungkin luka kita bukan tanda kita tidak layak bahagia. Mungkin itu cuma tanda kita pernah berharap terlalu besar, sama orang yang salah.”

Hening sejenak. Hanya suara hujan seperti tertawa.

***

Hari ini, ada hal yang berbeda dan berubah dalam diri mereka. Bimo mulai berani membuka diri. Ia bertemu seorang perempuan di kapal bernama Nira, petugas logistik yang ceria dan tegas. Mereka sering berbagi cerita tentang laut dan hidup jauh dari keluarga. Bimo semula menjaga jarak, tapi suatu malam, Nira berkata, “Aku tak butuh laki-laki yang selalu di rumah. Aku cuma butuh laki-laki yang pulang dengan setia.” Kata-kata itu seperti ombak yang menghapus bekas luka di hatinya.

Gido pun menemukan cahaya kecil. Seorang penulis puisi bernama Rena sering datang ke kafenya. Mereka sering berbincang tentang lagu dan kata. Suatu malam, setelah lagu terakhir, Rena berkata, “Kamu main bukan buat pamer, tapi buat sembuhkan diri. Itu indah.” Sejak malam itu, Gido mulai percaya bahwa seni dan cinta bisa hidup berdampingan.

Sementara Fajar, tanpa ia sadari, mulai dekat dengan salah satu orang tua muridnya. Seorang janda bernama Sarah yang selalu menyiapkan teh setiap kali ia datang. Sarah sering mendengar curhat Fajar tentang hidup, tanpa menghakimi. Suatu sore, Sarah berkata, “Kadang kita tidak butuh yang sempurna. Cukup yang mau tumbuh bersama.”

Kalimat sederhana itu membuat Fajar sadar. Luka tak selalu harus disembunyikan. Bisa juga dijadikan tempat tumbuh sesuatu yang baru.

Waktu tetap berlalu. Ketiga bersahabat bertemu lagi. Kali ini bukan di warung kopi sederhana, melainkan di rumah Fajar.

Ada tawa, ada makanan, ada cerita baru. Tapi juga ada kejujuran yang lebih hangat.

“Aku rasa,” kata Bimo, “Janji kita dulu harus kita cabut. Kita bukan pengecut. Kita cuma sempat takut.”

Gido mengangguk. “Betul. Dulu aku pikir cinta itu racun. Tapi ternyata, cinta cuma cermin. Dia memperlihatkan siapa kita sebenarnya.”

Fajar menambahkan, “Kalau kita mau belajar, luka itu bukan akhir. Tapi awal dari cara baru untuk mencintai.”

Mereka saling menatap. Lalu tertawa. Tidak lagi getir seperti dulu. Di tengah tawa itu, mereka tahu: masing-masing sedang belajar mencintai lagi dengan cara yang lebih tenang, lebih dewasa, dan tanpa rasa takut ditolak.

Malam itu mereka duduk bertiga di teras rumah Fajar. Angin malam membawa aroma tanah basah. Di langit, bintang berkelip pelan.

Bimo menatap langit sambil berkata, “Ternyata kita tidak gagal, ya. Kita cuma disiapkan supaya mengerti arti bahagia yang sebenarnya.”

Gido menambahkan, “Bahagia itu bukan soal siapa yang memilih kita, tapi siapa yang kita pilih untuk terus diperjuangkan.”

Fajar menutup pembicaraan dengan kalimat lembut,

“Luka laki-laki bukan untuk disembunyikan. Tapi untuk dibasuh, sampai tak lagi perih, tapi jadi cerita.”

Mereka bertiga terdiam, menatap malam yang terasa lebih damai dari biasanya.

Entah apa yang akan terjadi nanti? Mungkin mereka akan menikah, mungkin tidak. Tapi satu hal yang pasti, mereka sudah menemukan kembali keberanian untuk membuka hati.

Karena di balik setiap luka, selalu ada ruang kecil yang menunggu disembuhkan. Di ruang itulah, mereka bertiga: Bimo, Gido, dan Fajar akhirnya menemukan versi terbaik dari diri mereka sendiri.


Tentang Penulis:

Muhamad Yusuf, Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin.

Editor : M. Ramli Arisno
#gagal menikah #luka emosional pria #trauma hubungan #Pemulihan Emosional #tekanan keluarga