Mengapa Wali Tersembunyi, Allah Menyembunyikan Tiga Hal Dalam Tiga Perkara

admin • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 08:48 WIB
H. Muhammad Tambrin (tengah)
H. Muhammad Tambrin (tengah)

Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

“Allah Swt menutupi cahaya-cahaya yang ada di dalam hati dengan tutupan zahir yang tebal, untuk memuliakan cahaya-cahaya itu, bahwa dia akan menjadi biasa dengan dinampakkan dan diseru atasnya dengan lisan kemasyhuran.”

Hikmah ke-153 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As Sakandari Rahimahullah 

   ****

Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, maksud dari hikmah ini adalah Allah Swt menutupi rahasia kewalian yang ada di hati hambanya dengan sifat-sifat kemanusiaan seperti makan, minum, tidur, nikah, sakit, lupa dan lainnya.

Sehingga pada zahirnya seorang wali Allah itu tidak ada beda dengan manusia biasa. Mereka makan, kawin dan lupa sebagaimana kita. Sifat kemanusiaan merupakan tutupan yang diletakkan Allah pada diri mereka untuk melindungi rahasia yang ada pada diri mereka.

Mengapa Allah menutupi rahasia kewalian seorang wali? Agar kewalian itu tidak menjadi biasa dan tidak mengetahui orang yang tidak mengenal kadarnya.

Misalnya, kita mempunyai permata yang sangat mahal tentunya kita simpan dan tutupi agar tidak mudah diketahui orang lain, karena kalau dibuka maka nilainya akan murah. Kita tidak akan membuka dengan anak-anak, karena mereka tidak mengerti itu adalah permata mahal.

Oleh karena itu Allah menyembunyikan para wali di tengah-tengah makhluk-Nya. Hanya orang tertentu yang mengetahui bahwa itu adalah wali Allah, kalau ada yang tahu maka kebanyakan hanya kabar saja bahwa itu wali Allah.

Kita tahu kewalian syekh Abdul Qadir Al-Jailani, Faqih Al Muqaddam karena dapat kabar dari orang saleh dan wali lainnya. Kalau kita pribadi tidak bisa mengetahui kewalian mereka itu.

Maka tidak mengetahui akan para wali, kecuali orang yang Allah kehendaki dengan mengkhususkan orang itu dengan sesuatu yang Allah khususkan kepada mereka dengan sesuatu itu (menjadi wali juga). Maka Allah beri taufik kepada orang itu untuk membenarkan dan mempercayai para wali itu dan beradab dengannya.

Misalnya, kita tidak tahu bahwa ada orang istimewa di sisi Allah, tiba-tiba Allah berikan orang itu karamah di hadapan kita, berarti Allah menampakkan kepada kita bahwa itu adalah walinya.

Bila kita dikehendaki Allah baik, kita mempercayai karamah orang itu dan kita beradab dengannya, berarti kita akan menjadi orang itu juga.

Bisa juga Allah memperlihatkan wali bagi orang yang dikehendaki-Nya untuk menghinakan orang ini. Jadi, orang yang dinampakkan Allah walinya itu bisa orang yang mulia dan bisa orang yang hina. Orang yang dimuliakan Allah bagaimana? Adalah orang yang dinampakkan karamah kewalian seorang di hadapannya disertai diberi Allah taufik untuk membenarkan dan beradab dengan wali tersebut.

Sedangkan orang yang dihinakan itu bagaimana? Adalah orang yang dinampakkan karamah kewalian seseorang di hadapannya tapi tidak diberikan Allah taufik untuk membenarkan dan beradab dengan wali itu.

Sesungguhnya Allah menyembunyikan tiga hal dalam tiga perkara. Pertama, Allah menyembunyikan keridhaan-Nya dalam taat, jangan sekali-kali kamu meremehkan suatu taat kepada Allah karena disitu ada keridhaan-Nya.

Artinya, setiap perbuatan taat itu di dalamnya ada keridhaan Allah baik itu taat besar, sedang, atau kecil. Maka janganlah kamu meremehkan suatu taat kepada Allah karena di situ ada keridhaan. Jangan meremehkan taat, sesuatu yang diperintah oleh Allah karena di situ terkandung keridhaan Allah Swt.

Misalnya, uang 1000 rupiah yang kita anggap kecil karena tidak banyak manfaatnya, tetapi kalau uang ini kita sumbangkan dan sedekahkan maka dalam uang ini ada keridhaan Allah maka jangan menganggap remeh lagi uang 1000 rupiah yang telah disedekahkan itu. Uang 1000 rupiah ini lebih baik di sisi Allah daripada uang 100 Milyar yang ada di deposito kita.

Kedua, Allah menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam maksiat, jangan kamu remehkan sekecil apa pun maksiat kepada Allah karena di dalam maksiat itu ada kemurkaan Allah.

Kemurkaan Allah ini kalau menang daripada ridha Allah kita akan ke neraka. Jangan menganggap remeh suatu maksiat karena di sana ada kemurkaan Allah sekecil apa pun maksiat itu.

Ketiga, Allah menyembunyikan kekasih-Nya di tengah hamba-nya, jangan sekali-kali kamu meremehkan seseorang dari hamba Allah barangkali dia itu kekasih Allah Swt.

Meremehkan kekasih Allah itu sama halnya meremehkan Allah Swt. Wali-wali ini disembunyikan Allah di tengah-tengah hamba-Nya.

Kemudian, para ulama menjelaskan kepada kita beberapa tanda-tanda yang mengarahkan kita kepada orang yang jadi kekasih Allah. 

Di dalam kitab disebukan Al-Ilmu An-Nibras: Apabila pada diri hamba itu ada salah satu di antara tiga tanda ini, maka orang ini bisa kita yakini bahwa orang ini adalah wali Allah.

Pertama, orang ini dimuliakan dan dihormati oleh ulama-ulama ahli ilmu batin (sufi) walaupun kelihatannya suka berbuat maksiat. Maka berhati-hatilah dengan orang seperti ini jangan sampai kehilangan adab kepada mereka, atau tidak membenarkan apa yang mereka katakan dan kerjakan.

Kedua, ulama-ulama ahli batin tidak ada yang menghormati orang ini, tetapi orang ini orang yang kuat dalam agamanya dan pada dirinya ada timbul hal-hal yang menyalahi adat (karamah) walaupun terkadang orang ini mau memperbuat maksiat yang zahir. Orang ini juga mengarahkan kepada tanda orang yang dimuliakan oleh Allah. Maka kita harus beradab dan mempercayai mereka itu.

Ketiga, orang yang tidak mempunyai karamah dan tidak dihormati oleh ulama-ulama, tapi orang ini tidak pernah kita lihat dan dengar memperbuat satu kemaksiatan. Maka harus hati-hati juga kepada orang ini karena siapa tahu orang seperti ini kekasih Allah Swt.

Selanjutnya manusia itu dalam hal menyikapi para wali Allah terbagi empat macam. Pertama, membenarkan dengan wali-wali Allah dengan ilmunya, mengetahui dengan tarikat mereka dan merasakan apa yang mereka rasakan, maka ini manusia adalah sudah tergolong dengan golongan mereka.

Kelompok kedua adalah mereka yang membenarkan ilmu para wali dan mengetahui jalannya, tetapi belum merasakan langsung (dzauq) kondisi spiritualnya. Mereka berada dalam kondisi yang aman/selamat.

Kelompok ketiga adalah mereka yang tidak memiliki satu pun dari ketiga hal di atas, tidak tahu ilmunya, jalannya, maupun merasakannya, tetapi mereka mencintai para wali dan mengakui keutamaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang diharapkan mendapat kebaikan/syafaat.

Kelompok keempat adalah mereka yang mengingkari dan mencela para wali. Mereka adalah orang-orang yang celaka/binasa.

Berkata para Syaikh: Dikhawatirkan golongan keempat ini meninggal dalam akhir yang buruk.

Misalnya, perkataan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani: siapa orang yang mengamalkan amalanku maka meninggal akan masuk surga. Maka dikatakan orang ini “aku tidak percaya, bukan perkataan Nabi”. Maka orang ini dikhawatirkan akan meninggal dengan akhiran yang buruk.

Kesimpulannya bahwa para wali Allah itu ditutupi oleh Allah tidak diketahui oleh makhluknya, bisa saja Allah beri tahu orang itu adalah wali Allah, jika dia membenarkan dan beradab dia akan beruntung, dan akan celaka jika dia mendustakan dan tidak beradab dengan mereka itu. (*)

Editor : Arief
Tarbiyah