Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Maqam Tauhid Sifat, Ketika Hati Terpesona pada Cahaya

admin • Jumat, 17 Juli 2026 | 10:51 WIB
H. Muhammad Tambrin
H. Muhammad Tambrin

Oleh: H Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

"Terkadang hati manusia terhenti (terpesona) pada cahaya-cahaya itu, sebagaimana dinding nafsu oleh tebalnya makhluk-makhluk Allah (kegelapan duniawi)."

Hikmah ke-152 Al Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah

******

Sebagian di antara manusia ada hatinya terdinding oleh nafsunya, sehingga cahaya yang ada di hati itu tertutup dengan tebalnya dinding nafsu. Artinya, orang ini hidupnya dan hatinya dikuasai nafsunya, tandanya adalah bahwa yang dipentingkannya itu kesenangan diri dan yang menjadi tujuannya hanya makhluk Allah Swt (dunia), tidak akan ada dalam pikirannya itu musyahadah kepada Allah.

Bahkan di antaranya ada yang berada di maqam -posisi- tersebut sampai meninggal dunia. Sehingga, sekalipun ia tercatat sebagai seorang yang mengucapkan syahadat, bertauhid kepada Allah, tetapi pada praktiknya ia hanya mementingkan kesenangan diri dan pandangan makhluk.

Orang seperti ini dia sangat khawatir kalau orang lain meremehkan, tidak menghargai dan meninggalkan dirinya. Sangat menjaga harga dirinya di hadapan makhluk. Inilah orang yang hatinya dikuasai nafsu, sehingga cahaya Islam yang ada di hati menjadi tidak bersinar lagi, karena ditutupi dengan tebalnya makhluk Allah Swt. 

Apabila keadaan ini terjadi, lalu tidak berusaha untuk menyingkirkan dinding tebal tadi, maka dikhawatirkan meninggalnya tidak membawa iman.

Jadi apabila selama ini kita berada di maqam tersebut, kita harus membersihkannya agar naik setidaknya sampai pada maqam cahaya Islam atau tauhid af'al.

Posisi di mana seorang hamba akan merasakan manisnya menunaikan ibadah zahir, bisa menyaksikan bahwa tidak ada sesuatu di alam semesta ini, kecuali semuanya adalah merupakan tanda penciptaan (af'al) Allah Swt.

Orang seperti ini hatinya sudah bagus, dia tidak dikendalikan nafsu. Walaupun asalnya manusia itu mendahulukan nafsu daripada akal. 

Kalau ukuran zaman sekarang, maqam ini sudah mantap dan hebat, walaupun masih tergolong maqam paling rendah dalam golongan para salikin, orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah.

Terkadang hati manusia terhenti pada maqam cahaya Islam ini, sehingga tidak ada keinginan naik ke maqam cahaya Iman atau tauhid sifat. Kenapa sebabnya dia terhenti? 

Di antara sebabnya adalah lemahnya keinginan untuk naik ke maqam yang lebih tinggi. Adakalanya karena dia melihat posisinya sudah berada di puncak, dengan merasakan manisnya ibadah zahir, nikmat salat dan zikir, serta terpelihara dari penyakit hati seperti iri dan dendam. 

Bisa juga karena merasa senang dengan maqam tersebut, dengan kelezatan yang ada di maqam itu. Karena memang orang yang sudah duduk di maqam tauhid af'al sudah mendapat ma'unah (pertolongan) dari Allah Swt.

Seperti ditolong Allah dari orang yang memusuhinya, orang-orang menerimanya dan doanya diijabah oleh Allah. Sehingga dia sudah merasa puas dan cukup dengan keadaan itu. Ini sesungguhnya merupakan cobaan pertama bagi orang yang duduk di maqam tauhid af'al. Terhenti karena merasa nyaman di posisi tersebut.

Padahal, bagi orang-orang terdahulu (salafu al-saleh) ini adalah maqam paling rendah, tetapi ukuran orang zaman sekarang ini sudah hebat dan langka.

Adakalanya dia terhenti di maqam itu karena tidak adanya guru yang membimbing. Dia memiliki keinginan untuk terus naik, tetapi tiada guru yang membimbing untuk sampai ke maqam yang lebih tinggi.

Selanjutnya, terkadang hati terhenti di maqam cahaya iman/tauhid sifat. Setelah seorang salikin berhasil naik dari maqam cahaya Islam. Sehingga dia tidak hanya melihat perbuatan Allah, tetapi lebih jauh dia melihat sifat kudrat, iradat, ilmu dan hayat Allah Swt. 

Meskipun sesungguhnya orang yang berada di maqam ini sudah sangat langka. Kalau zaman dahulu masih banyak orang seperti ini. Sekarang tinggal karangan dan kisahnya saja. Orang yang sudah mantap duduk di maqam tauhid sifat ini adalah seorang wali. Mereka memiliki karamah yang diberikan Allah Swt, seperti melipat tempat dan waktu. 

Kalau orang yang ke Mekkah dengan pesawat 9 sampai 10  jam baru sampai, seorang wali dalam hitungan detik sudah sampai ke sana. Orang paling maksimal hanya bisa satu kali khatam sehari membaca Al-Qur’an, dia bisa hanya dalam 3 jam sudah khatam. Sudah mendapat kasyaf dan karamah lainnya.

Dengan kedudukan ini, ada kalanya orang yang sampai di maqam cahaya iman ini terhenti, tidak ada keinginan naik lagi ke maqam cahaya ihsan/tauhid dzat. Dengan sebab-sebab yang sama seperti disebutkan di atas.

Seperti ketiadaan guru, karena jika seseorang beserta guru, maka gurunya tentu akan mengantarkan dia pada tujuan selanjutnya, sampai ke puncak mentauhidkan dzat Allah Swt.

Jadi dalam hikmah ini ada tiga hal. Pertama, orang yang hatinya tidak ada cahaya karena tertutup oleh nafsu, jangan sampai kita ada di posisi ini, tidak merasakah manisnya ibadah. 

Harus naik paling tidak kepada maqam cahaya Islam (asahbu al-yamin). Jangan seperti orang awam yang berpikiran hidup di dunia senang-senang dan di akhirat masuk surga. Seharusnya pikiran yang benar adalah hidup di dunia hanya untuk mencari ridha Allah Swt. itulah orang yang berakal.

Selanjutnya, jika sudah sampai cahaya Islam, mudah-mudahan kita bisa sampai ke maqam cahaya iman/tauhid sifat sehingga kita akan selamat pada penyakit hati seperti ujub, riya, sum’ah.

Sebagian orang lagi, sedikit orang yang disampaikan Allah Swt. ke maqam cahaya ihsan/tauhid dzat. Orang ini kalau dia melihat sesuatu tidak ada yang dia lihat kecuali Allah Swt. Tidak lagi perbuatan dan sifatnya tetapi Allah Swt.

Ini maqam lebih daripada wali, bukan hanya karamah tapi berbagai macam karamah zahir dan batin akan diberikan Allah kepada orang yang ada di maqam ini. Wallahu a'lam. (*)

Editor : Arief
Tarbiyah