Oleh: H Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Cahaya yang Allah bukakan untuk engkau dengan cahaya itu daripada bekas-bekas perbuatan Allah, dan cahaya yang Allah bukakan bagi engkau dengan cahaya itu daripada sifat-sifat Allah Swt.”
Hikmah ke-151 Al-Hikam Al-Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
****
Disyarahkan oleh Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet, pada hikmah ini disebutkan ada dua cahaya. Cahaya yang Allah buka dengan cahaya itu segala macam bekas ciptaan-Nya, kedua cahaya yang Allah bukakan dengan cahaya itu daripada sifat-sifat Nya. Kedua cahaya itu yakni cahaya Islam dan cahaya Iman.
Sebagaimana dijelaskan dalam hikmah sebelumnya, cahaya Islam yang ada di dalam hati seumpama cahaya bintang, pertambahan cahaya Islam yang ada di dalam hati kita ini dengan memperbanyak ibadah yang zahir, ibadah yang wajib dan ibadah sunah.
Telah dijelaskan pula bahwa ada tiga ibadah sunah yang perlu diperbanyak, karena pengaruhnya yang besar dalam menambah cahaya Islam di hati kita, yaitu memperbanyak zikir, selawat dan berkumpul dengan orang-orang saleh.
Masing-masing diri kita bisa mengetahui dan menilai diri sendiri. Apakah cahaya islam yang ada di hati ini terang atau gelap? Maka coba dengan beribadah zahir, apakah ada kenikmatan dalam ibadah itu, jika ada Alhamdulillah, syukur kepada Allah bahwa cahaya islam di hati ini ada cahayanya.
Jika sebaliknya, maka innalillah ini sebuah bencana, maka sepatutnya diusahakan dengan sungguh-sungguh agar cahaya islam yang ada di hati tidak gelap bahkan hilang.
Jika kita sudah merasakan ibadah zahir itu nikmat dan lezat, maka Allah memberikah buahnya, yakni keterbukaan (kasyaf) mata hati kita sehingga melihat alam semesta ini adalah bekas daripada ciptaan Allah Swt.
Kalau sudah demikian, tidak melihat sesuatu seorang hamba melainkan dia melihat itu ciptaan-Nya, maka orang ini sudah duduk pada maqam tauhid fi al-af’aI, keesaan perbuatan.
Selanjutnya, jika dia mantap dengan kedudukan ini, maka hatinya selamat dari mencela, menghina, meremehkan, menyalahkan makhluk. Karena hatinya melihat bahwa makhluk adalah merupakan perbuatan dari Allah Swt.
Ia tidak akan mendendam, karena kalau dendam dengan makhluk, sama saja dendam kepada Allah.
Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: “Seorang mukmin tidak pendendam.”
Walaupun secara zahirnya seorang mukmin ini bisa marah, menegur, amar makruf nahi munkar, itu urusan syariat (zahir) tetapi hatinya tetapi memandang semua itu perbuatan Allah Swt. Jadi harus cermat menempatkan mana yang zahir dan batin.
Boleh kita amar makruf nahi munkar bahkan diperintahkan. Tetapi hati tetap memaklumi bahwa orang bermaksiat itu bisa demikian karena perbuatan Allah Swt. jangan pernah bergeser hati kita dari ini.
Ada perkataan ulama, “Apabila engkau melihat manusia dengan mata zahir maka akan banyak mengkritik mereka, dan apabila lihat dengan mata hati engkau bisa memaklumi mereka.” Kenapa? Karena manusia itu tidak ada daya dan upaya selain Allah Swt.
Bila amar makruf nahi munkar. Tampakkan saja ketidaksenangan kita terhadap perbuatan mungkar, tetapi hati kita bisa memaklumi mereka berbuat demikian itu. Maka ini diistilahkan perkawinan antara syariat dan hakikat.
Hati tetap utuh, tidak bergeser sedikit bahwa tidak ada yang berbuat kecuali Allah Swt. Mulut kita mencegah dan melarang kemungkaran tetapi hati kita tetap mamaklumi kelakuan dan keadaan pelaku maksiat itu, demikian lah yang dituntut agama.
Adapun cahaya iman seumpama cahaya bulan, pertambahannya dengan memantapkan ibadah yang batin.
Bagaimana cahaya iman dapat bersinar dan terang? Caranya mantapkan ibadah batin, seperti ikhlas. Selama ini kita beribadah karena takut neraka, jadi ibadah kita selalu demikian dihantui dengan ketakutan-ketakutan. Ikhlas seperti ini walaupun dalam awam sudah benar tetapi harus selalu diperbaiki dan ditingkatkan.
Selama ini kita beribadah selalu mengharapkan hal-hal yang menyenangkan diri kita. Kenapa salat malam? Karena ingin masuk surga. Kenapa bersedekah? Karena ingin selamat. Semua itu kesenangannya untuk diri kita. Padahal yang dituntut dengan ibadah itu adalah kesenangan atau keridhaan Allah.
Kita salat, puasa, tahajud untuk menyenangkan Allah, itulah ikhlas yang benar. Maka ikhlas mesti dibenarkan yang selama ini ibadah karena takut neraka dan ingin masuk surga, maka tinggalkan berpindah kepada ibadah untuk kesenangan Allah. Jika ikhlas demikian maka ibadah seperti itulah yang bisa menambah cahaya iman yang ada di hati.
Contohnya lagi takut kepada Allah. Orang takut kepada Allah itu banyak macamnya, dan takut kepada Allah termasuk ibadah batin.
Ada orang yang takut kepada Allah karena Allah Maha Menyiksa, bisa berbuat apa yang Allah kehendaki. Kita yang masih hidup bisa saja seketika meninggal jika Allah menghendaki, orang kaya bisa saja bangkrut jika Allah menghendaki.
Walaupun takut ini sudah benar di sisi awam, tapi yang dikehendaki rasa takut kita berpindah dari takut karena siksaan Allah kepada takut karena keagungan Allah dan kebesaran Allah Swt itu lebih baik. Dan takut seperti inilah yang akan menambah cahaya iman yang ada di hati kita.
Tanda bersinarnya cahaya iman itu didapatnya manisnya ibadah batin. Jika hatinya mengingat Allah hatinya akan nyaman dan tenteram. Maka ini adalah tanda cahaya iman di hati kita terang.
Adapun buahnya jika cahaya iman terang maka Allah bukakan bagi dia akan tetapnya sifat-sifat Allah akan segala sesuatu.
Sehingga segala sesuatu tidak akan bisa lepas dari sifat-sifat Allah. kalau cahaya islam terkait perbuatan Allah, sedangkan cahaya iman naik ke sifat-sifat Allah dan semakin dekat dengan Allah.
Maka dia tidak melihat sesuatu apa pun di alam semesta ini melainkan dia melihat kuasa, kehendak, ilmu dan hayat Allah pada sesuatu itu sampai akhir sifat.
Kalau dulu kita melihat sesuatu itu adalah perbuatan Allah maka sekarang lebih naik lagi kepada sifat-Nya. Ini sudah lebih tinggi daripada kedudukan pertama, orang yang seperti ini berada pada kedudukan makam tauhid fi al-sifat, keesaan sifat.
Melihat apa pun di alam ini hati kita ingat dan sadar ini adalah sifat-sifat Allah. ini adalah buah orang yang cahaya imannya bersinar.
Orang yang sudah mantap pada makam tauhid fi al-sifat ini hatinya selamat daripada riya. Sulit untuk menghilangkan riya, tapi kalau kita sudah duduk pada makam ini maka riya hilang dengan sendirinya.
Riya mengharapkan pujian makhluk, balasan makhluk dan sedangkan hati kita sudah melihat makhluk itu tidak ada daya upaya, makhluk itu bekas, makhluk itu tempat tsabitnya sifat-sifat Allah Swt.
Kenapa kita bisa riya? Karena kita belum sampai pada makam ini dan sementara belum sampai disini maka akan sulit menghilangkan riya dalam segala amal kebaikan itu.
Makhluk memuji karena Allah menghendaki, kita mengharapkan makhluk membalas kebaikan kita tapi kalau Allah tidak menghendaki itu tidak akan membalas si makhluk tadi. Maka riya tidak akan ada lagi, riya hilang dengan sendirinya.
Selamat dari mencari kedudukan dan pangkat di sisi manusia, selamat dari berpegang kepada selain Allah serta selamat dari senang dengan makhluk Allah. *
Editor : Arief