Oleh: H Muhammad Tambrin
Muasis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
“Bermula tempat terbitnya berbagai cahaya itu adalah hati manusia dan sirr.”
Hikmah Ke-149 Al-Hikam Al Atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah
***
Hati merupakan tempat terbitnya cahaya, seumpama langit tempat terbitnya matahari, bulan dan bintang. Sedangkan hati yang paling dalam disebut sirr, juga tempat terbitnya cahaya. Demikian Al Mukarram Al Allamah Al Arif Billah KH Muhammad Bakhiet membuka syarah hikmah ini.
Hati merupakan tempat terbitnya cahaya tawajjuh, islam dan iman. Sedangkan sirr itu merupakan tempat terbitnya nur al-mujahah, yakni ihsan. Jadi, islam, iman dan ihsan ketiganya terbit dari hati manusia.
Apabila terpancar cahaya islam di dalam hati dan bersinar. Maka seseorang itu akan mendapati dan merasakan manisnya amal zahir seperti salat, membaca Al Quran, zikir dan berbagai amal-amal zahir lainnya.
Akan tetapi, pertanyaannya apakah cahaya yang terbit itu menyinari? Ketika kita tidak merasakan kenikmatan dan manisnya salat, ibadah, itu pertanda bahwa cahaya islam yang ada di hati itu tidak menyinari.
Sebagaimana matahari, tidak bersinar itu bisa jadi karena kabut asap, sehingga tidak sampai cahayanya. Bisa gerhana matahari sampai cahayanya gelap. Maka demikian pula cahaya islam di hati kita, bisa jadi terhalang sehingga tidak sampai menyinari apa-apa.
Imam Hasan Al-Basri, berkata: “Carilah kenikmatan dalam tiga hal, dalam salat, membaca Al Quran dan berzikir.”
Selanjutnya, apabila memancar cahaya ihsan pada sirr-nya, maka seorang hamba akan mendapati manisnya musyahadah, dia akan menyaksikan di dalam hatinya ada Allah pada setiap sesuatu. Apapun yang didengar telinganya, hatinya menyaksikan Allah. Inilah apabila nur ihsan bersinar di dalam hati seorang hamba.
Seorang murid, orang yang ingin mencapai ma’rifat, pertama-tama akan merasakan manisnya amal zahir dahulu. Merasakan tentram dan nikmat hatinya ketika membaca Al Quran dan berzikir. Sebagai pertanda bahwa nur islam di dalam hatinya memancar.
Kemudian setalah itu dia rasakan manisnya amalan batin, yakni musyahadah. Tetapi proses ini bisa menghabiskan waktu yang cukup lama. Sehingga tetap menjaga amalan zahir dan merasakan nikmatnya amalan zahir.
Namun tidak akan memancar cahaya islam, ihsan dan iman di dalam hati, bilamana hati itu dipenuhi dengan hal-hal yang kotor. Kotoran hati seperti cinta dunia, suka kemuliaan dan kedudukan. Termasuk menginginkan malapateka bagi orang lain dan keuntungan bagi dirinya, mementingkan diri sendiri atau kelompoknya saja, maka ini adalah salah satu bentuk maksiat yang ada di dalam hati kita. Kotoran inilah yang membuat cahaya terhalang, sehingga segala ibadah yang difardukan terasa berat dikerjakan.
Wahab bin Wardi ditanya, “apakah orang yang maksiat itu bisa mendapatkan lezatnya ibadah? Beliau menjawab: jangankan orang yang maksiat, orang yang bercita-cita maksiat saja tidak akan mendapatkan manisnya ibadah itu.”
Untuk merasakan manisnya iman, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “Ada tiga perkara yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: (1) Apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan (3) Apabila ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci bila dilempar ke dalam neraka.”
Cinta kepada Allah dan Rasul itu bukan melarang kita mencintai istri, anak, orang tua dan lainnya. Tetapi sebaliknya bahwa cinta kepada mereka itu adalah bagian dari cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, asalkan tidak melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Jangan salah dipahami misalnya ada orang yang cinta kepada harta dan kekayaan itu adalah tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya, tetapi harta dan kekayaan itu adalah bekal untuk mencapai ridha Allah dan Rasul-Nya maka ini tetap dalam koridor cinta kepada Allah dan Rasul-Nya asalkan tidak melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tadi.
Bukan juga orang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya itu tidak menghiraukan selain dari keduanya itu sehingga tidak peduli dengan orang sekitarnya, tidak.
Cintailah istri, anak, orang tua, keluarga dan lainnya sesuai tuntutan Allah dan Rasul-Nya maka itu bagian cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Tapi jika cinta membabi buta maka ini berlebihan. Misalnya, mengerjakan yang haram demi mengabulkan hajat istri, anak dan lain sebagainya. Ini cinta yang bertentangan dengan Allah Swt. Wallahu a’lam. (*)
Editor : Arief