Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kemenag Kalsel Tanggapi Perbedaan Awal Muharram ! Bagian dari Dinamika Keilmuan Islam

M Fadlan Zakiri • Selasa, 16 Juni 2026 | 10:08 WIB
ILUSTRASI : Petugas Kemenag Kalsel saat melakukan pantauan awal Ramadan di tahun 2025 dengan metode rukyatul hilal di lantai sembilan Hotel Zuri Express Banjarmasin.
ILUSTRASI : Petugas Kemenag Kalsel saat melakukan pantauan awal Ramadan di tahun 2025 dengan metode rukyatul hilal di lantai sembilan Hotel Zuri Express Banjarmasin.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM,  BANJARBARU - Perbedaan penetapan 1 Muharram 1448 Hijriah yang muncul menjelang Tahun Baru Islam diminta tidak disikapi secara berlebihan. Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Kalimantan Selatan menegaskan perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika keilmuan Islam yang telah berlangsung sejak lama.

Hal itu disampaikan menyusul keputusan Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) yang menetapkan 1 Muharram 1448 H jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. Penetapan tersebut dilakukan melalui metode istikmal setelah hasil rukyatul hilal di berbagai titik pemantauan di Indonesia tidak berhasil melihat hilal.

Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kanwil Kemenag Kalsel, H Saribuddin, mengatakan perbedaan penentuan awal bulan Hijriah bukanlah sesuatu yang baru dalam tradisi Islam.

"Perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriah merupakan bagian dari dinamika dalam khazanah keilmuan Islam yang telah lama dikenal," ujarnya, Selasa (16/6/2026).

Menurut Saribuddin, masyarakat tidak perlu menjadikan perbedaan tersebut sebagai polemik yang dapat mengganggu keharmonisan umat. Sebaliknya, pergantian Tahun Baru Hijriah harus menjadi momentum memperkuat ukhuwah dan kebersamaan.

"Yang terpenting, perbedaan tersebut hendaknya disikapi dengan bijak, saling menghormati, dan tidak mengurangi semangat persaudaraan sesama umat Islam," katanya.

Ia menegaskan setiap lembaga memiliki dasar, metode, dan mekanisme masing-masing dalam menentukan awal bulan Hijriah. Karena itu, seluruh proses yang dilakukan harus dihormati sebagai bagian dari ikhtiar keagamaan.

"Kita menghormati setiap proses dan mekanisme yang digunakan oleh masing-masing pihak dalam menetapkan awal Muharram," lanjutnya.

Sebelumnya, LF PBNU menetapkan awal Muharram 1448 H pada 17 Juni 2026 setelah menerima laporan rukyatul hilal dari berbagai daerah yang menyatakan hilal tidak terlihat. Berdasarkan hasil tersebut, umur bulan Dzulhijjah disempurnakan menjadi 30 hari atau istikmal.

Keputusan itu menjadi perhatian karena berbeda dengan kalender nasional tahun 2026 yang mencantumkan 1 Muharram 1448 H pada Selasa, 16 Juni 2026.

Meski demikian, Saribuddin mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam perdebatan mengenai perbedaan metode penentuan kalender. Menurutnya, esensi Tahun Baru Islam jauh lebih penting untuk dimaknai daripada sekadar memperdebatkan perbedaan tanggal.

Ia berharap masyarakat Kalimantan Selatan dapat menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum introspeksi diri, memperkuat keimanan, serta meningkatkan kepedulian sosial.

"Masyarakat diharapkan tetap menjaga ukhuwah, mengedepankan sikap toleran, serta menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah sebagai sarana memperkuat keimanan dan kebersamaan," ujarnya.

Saribuddin juga mengajak masyarakat Banua menyambut datangnya Tahun Baru Hijriah dengan rasa syukur dan semangat berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

"Mari kita sambut datangnya Tahun Baru Hijriah dengan hati yang penuh syukur dan semangat untuk berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik," ajaknya.

Menurutnya, pergantian tahun dalam kalender Islam tidak hanya menjadi penanda perubahan waktu, tetapi juga kesempatan memperkuat kontribusi sosial dan semangat membangun daerah.

"Semoga momentum Tahun Baru Hijriah menjadi awal bagi kita semua untuk meningkatkan keimanan, kepedulian sosial, dan semangat membangun Banua yang lebih maju, damai, dan penuh keberkahan," pungkasnya.

Editor : Eddy Hardiyanto
#Perbedaan #muharram #kemenag kalsel